Minggu, 15 Desember 2019

Keraton Kacirebonan, Saksi Bisu Peperangan dengan Belanda

- 24 Februari 2018, 15:10 WIB

KERATON Kacirebonan merupakan keraton paling kecil dan paling akhir dibangun di antara dua keraton pendahulunya, yaitu Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman. Kacirebonan menyimpan cerita tentang peperangan antara Cirebon melawan Belanda di masa lampau.

Keraton ini didirikan pada tahun 1808 oleh Pangeran Carbon Amirul Mukminin. Beliau adalah putra mahkota Sultan Kanoman keempat, Pangeran Muhammad Khaeruddin. Bisa dikatakan, Kacirebonan ini merupakan pecahan atau pemekaran dari Keraton Kanoman. Ketika itu Keraton Kanoman sedang dalam masa kepemimpinan Pangeran Muhammad Khaeruddin. Beliau memerintah dari tahun 1733 sampai wafatnya pada tahun 1797.

Tahun 1794, Belanda datang ke Cirebon dengan maksud ingin menguasai kota udang ini. Belanda mulai berniaga dan menjalin hubungan bilateral dengan Kesultanan Kanoman. "Yang dipilih Keraton Kanoman karena kedua kesultanan di Cirebon ini sedang pasang surut pamornya dan Kanoman lebih kuat. Maka Belanda memilih Kanoman sebagai mitra bisnis," kata Rudi, seorang pemandu wisata di sana.

Tidak berlangsung lama, hubungan bilateral ini mengalami gesekan yang mengakibatkan pecahnya perang Cirebon yang terjadi pada akhir 1794 hingga 1818. Perang Cirebon ini berlangsung dua kali. Perang yang pertama, Kesultanan Cirebon dipimpin oleh Pangeran Suryanegara, bergelar Raja Kanoman, yang merupakan putra mahkota Sultan Kanoman keempat.

Tahun 1796, Belanda belum bisa menguasai Cirebon. Maka diubahlah strategi dari jalur peperangan menjadi jalur perundingan. Beberapa tokoh penting yang terlibat dalam perang Cirebon ini kemudian diundang. 
"Kesultanan Kanoman diwakili Pangeran Suryanegara. Tetapi, Kesultanan Kasepuhan yang ketika itu dipimpin sultan sepuh kelima, Pangeran Saefudin Matangaji, tidak hadir. Beliau cenderung lebih memilih jalan bersenjata untuk mengusir Belanda dari tanah Cirebon," terang Rudi.

Pada akhir perundingan, Pangeran Suryanegara ditangkap beserta pengikut-pengikutnya lantaran tidak mau menandatangani proposal perjanjian perdamaian. Alasannya adalah banyak poin dalam proposal tersebut yang akan merugikan rakyat Cirebon. Pangeran Suryanegara lalu dibuang ke Batavia. Masih tahun 1796, beliau diasingkan kemudian Ambon dan dipenjara di Benteng Viktoria.

Tahun 1797, sultan anom keempat, Pangeran Muhammad Khaeruddin, yang ketika peperangan berlangsung memang sudah lanjut usia dan sakit hingga wafat. Seharusnya, Pangeran Suryanegaralah yang menjadi Sultan Kanoman kelima, tetapi karena berada di pengasingan maka jatuh pilihan ke beberapa putranya.

Belanda saat itu masuk dan mendukung Pangeran Surantaka atau Pangeran Imamudin Abdul Sholeh karena dianggap lebih kooperatif. Pangeran Surantaka memang lebih bersikap kooperatif dengan Belanda. 


Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Komentar

Terkini

X