Kamis, 20 Februari 2020

Yusuf Mansur Sepakat dengan Gagasan dari Dedi Mulyadi Ini

- 9 Februari 2018, 10:55 WIB
USTAZ Yusuf Mansur saat berada di Bale Sawala, Yudhistira Kabupaten Purwakarta pada Jumat 9 Februari 2018. Menurut Yusuf Mansur gagasan gila Dedi Mulyadi dibutuhkan Jawa Barat.

PURWAKARTA, (PR).- Ustaz Yusuf Mansur menilai gagasan kebijakan milik Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi memang liar dan sangat out of the box. Tetapi, kata dia, gagasan dan kebijakan tersebut kini dibutuhkan di Jawa Barat. 

Hal ini ditegaskan oleh ustaz yang juga pelaku bisnis tersebut di sela kuliah umum di Bale Sawala Yudhistira, Komplek Sekretariat Daerah Kabupaten Purwakarta, pada Jumat 9 Februari 2018. "Kalau bahasa kasarnya, Kang Dedi Mulyadi itu liar. Tapi, gagasan, pemikiran dan kebijakan seperti ini sangat dibutuhkan oleh kita. Pemimpin seperti itu, sangat dibutuhkan," katanya. 

Cerita masa lalu Dedi Mulyadi sebagai anak mantan tentara kader dan buruh tani juga menjadi perhatian Yusuf Mansur. Kata dia, pengalaman Dedi Mulyadi selama mendapat didikan kedua orang tuanya memang pantas dirasakan juga oleh anak-anak Purwakarta. 

"Saya jadi teringat ibu saya sendiri, didikan seorang ibu memang kuat. Saya melihat, pengalaman itu sudah berusaha diterapkan oleh Kang Dedi Mulyadi kepada anak-anak Purwakarta," ucapnya. 

Sebelumnya, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menjelaskan di hadapan Ustaz Yusuf Mansur dan peserta kuliah umum tentang filosopi pendidikan. Hal ini menurut dia, sengaja diterapkan di Purwakarta agar terlahir generasi berkualitas bukan generasi berbasis angka.

"Esensi pendidikan itu harus melahirkan generasi berkualitas, bukan generasi angka. Saya mohon maaf kalau kebijakan saya selama ini membuat gerah para pendidik. Ini bertujuan menciptakan itu," kata Dedi Mulyadi.

Pendidikan Berkarakter 

Kebijakan bidang pendidikan di Purwakarta tertuang dalam Peraturan Bupati No 69 Tahun 2015 tentang Pendidikan Berkarakter. Meski baru diperbupkan pada tahun tersebut, program pendidikan berkarakter sebenarnya sudah dilaksanakan sejak Tahun 2008 silam. 

Diantara kebijakan yang pernah mengundang kontroversi dari para pendidik adalah kebijakan penghapusan pekerjaan rumah bagi pelajar. Dedi Mulyadi berpandangan, usai jam pelajaran, seharusnya pelajar tidak dibebankan lagi tugas akademik melainkan fokus dengan pendidikan keluarga. 

"Saya ingin ada internalisasi pelajar dengan guru dan pelajar dengan orang tua. Maka, tidak boleh ada pekerjaan rumah. Semua pelajaran dan tugas harus diselesaikan di sekolah, tidak boleh dibawa ke rumah. Pelajar harus fokus pada pendidikan keluarga selama di rumah," ujar Dedi Mulyadi. 

Halaman:

Editor: Mochammad Iqbal Maulud

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X