Bogor, Kota Hujan yang Kian Panas

- 4 Januari 2018, 06:18 WIB

TAHUN 2015, hujan tak turun di wilayah Bogor hingga beberapa pekan. Warga Bogor pun ­menggelar salat minta hujan ­karena ­kekeringan mulai melanda. ­Padahal, sejak puluhan tahun ­Bogor dikenal sebagai Kota Hujan ­karena hujan tak pernah absen ­turun di wilayah ini.  

Bahkan, hujan gerimis menjadi salah satu motif batik yang dipatenkan oleh pera­jin batik lokal Syam­hudi Siswaya yang juga pendiri Batik Bogor Tradisiku. 

Intensitas hujan di Bogor memang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lain di ­Indonesia. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Bogor Ganjar ­Gunawan mengakui daerahnya sebagai satu dari tiga daerah di Indonesia yang termasuk kategori di luar prakiraan musim (DPM).

”Jadi, ada tiga daerah di Indonesia yang musimnya berbeda dengan daerah lain, salah satunya Bogor,” kata Ganjar. Saat daerah lain di Jawa Barat menetapkan ­status tanggap darurat kekeringan, hujan deras bisa jadi mengguyur Kota dan ­Kabupaten Bogor.

Secara teoretis, hujan yang terjadi di ­Bogor lebih disebabkan oleh kondisi geografis yang berada di antara kaki Gunung Salak dan Gunung Gede. 

loading...

Uap air yang terbawa angin dari Laut Jawa naik secara mendadak di dataran tinggi hingga menyebabkan kondensasi uap air menjadi hujan orografi. Kondisi ini dipercaya terjadi pula di luar musim hujan.

Akan tetapi, Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika mencatat perubahan intensitas hujan di wilayah Bogor dalam satu de­kade terakhir. Kepala Stasiun Klimatologi Bogor Boedi Suhardi menunjukkan data intensitas hujan selama periode 1980-2009 lebih tinggi dibandingkan 2010-2016.

Intensitas hujan pada periode sebelumnya relatif merata setiap bulannya. Sementara pada periode beberapa tahun terakhir menunjukkan intensitas hujan yang lebih dinamis. 

Halaman:

Editor: Tim Pikiran Rakyat


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

Fix Padang

Mengenang 118 Tahun Bung Hatta

13 Agustus 2020, 00:06 WIB
X