Ketika Tasikmalaya Jadi Pusat Media Islam

- 2 Januari 2018, 03:15 WIB

SALAH satu hal yang tidak akan kita sangka sekarang ini adalah Tasikmalaya pernah memainkan peran penting yang terpaut erat dengan pertumbuhan dan perkembangan pers di tanah air. Menurut Miftahul Falah (Sejarah Kota Tasikmalaya, 1820-1942, 2010), dalam kurun waktu 1920-1942, surat kabar yang terbit di Kota Tasikmalaya berjumlah sekitar 18 buah, baik yang menggunakan bahasa Sunda maupun bahasa Indonesia.

Dalam kurun yang sama, surat kabar dan majalah yang terbit di Jawa Barat berjumlah sekitar 66 buah atau sekitar 27% pers Indonesia di Jawa Barat. Dari 18 surat kabar tersebut, 14 di antaranya dicetak di Tasikmalaya oleh Galoenggoeng, Djoendjoenan, Soekapoera, dan Pemandangan. Sementara itu, sisanya dicetak di luar Tasikmalaya.

Dalam kurun antara 1920-1930, yang terbit adalah Langlajang Domas, Sipatahoenan, dan Pekabaran. Dua media yang awal diterbitkan dalam bahasa Sunda, yang satu lagi dalam bahasa Indonesia. Kemudian antara 1930-1935, yang terbit adalah Kawan Kita, Ksatrya Poetra, dan Bidjaksana. Selanjutnya pada 1935-1940, terbit enam surat kabar, yakni Ichtiar, Tawekal, Timbangan, Balaka, Toembal, dan Lembana. Memasuki 1940-1942, selain Tawekal dan Toembal yang masih terbit, ada dua surat kabar lagi yang diterbitkan di Tasikmalaya, yaitu Pera Ekspres dan Pertjatoeran.

Selain surat kabar, Miftahul Falah menyatakan bahwa di Tasikmalaya juga hadir media berbentuk majalah. Menurut dia, berbeda dengan surat kabar, majalah yang terbit di Tasikmalaya dikelola oleh organisasi dan pada umumnya bercorak keagamaan. Dalam hal ini, Miftahul Falah menyatakan keberadaan Al-Mawidz dan Al-Imtisal. Al-Mawidz diterbitkan oleh Nahdlatul Ulama (NU) cabang Tasikmalaya pada Agustus 1933, sementara Al-Imtisal diterbitkan oleh Persatuan Guru Ngaji (PGN) di bawah perlindungan Bupati Tasikmalaya RAA Wiratanoeningrat.

Namun, di luar penelusuran Miftahul Falah, ternyata masih banyak lagi majalah bernuansa agama Islam yang diterbitkan di Tasikmalaya. Hal ini dapat kita lacak dari kesaksian sezaman yang dapat kita baca, antara lain, dari koran Sipatahoenan dan majalah Al-Imtisal.

Pertama, mengenai kesaksian Kota Tasikmalaya sebagai semacam pusat penyiaran media bernuansa keislaman yang saya peroleh dari koran Sipatahoenan edisi 15 Maret 1934. Dalam pemberitaan mengenai kehadiran majalah Al-Idhar, di situ termaktub demikian: ”Kota Tasik geus kakotjap sapedah pabalatak Al-Alna: Al-Imtisal, Al-Moechtar, Al-Mansoer, Al-Mawaidz enz. Ajeuna geus rek poetjoenghoel deui soerat kabar Al-Idhar. Kaloearna di Tjiawi, dikamoedi koe Kiai Hatomi + H Mh Enoh. Bedjana ieu Al teh aja dina panangtajoenganana pagoejoeban Idharoe biatil … enz”.

Kata-kata ”kakotjap sapedah pabalatak Al-Alna” dengan jelas mengisyaratkan betapa banyaknya media Islam yang diterbitkan di Tasikmalaya. Pada awal tahun 1934 itu saja di sana disebutkan adanya majalah Al-Imtisal, Al-Moechtar, Al-Mansoer, Al-Mawaidz ditambah dengan kata ”enz” dari bahasa Belanda yang berarti ”lain-lain”. Nah, kata ”enz” tersebut dengan jelas menyatakan mengenai pertumbuhan dan perkembangan permajalahan Islam yang ada di Tasikmalaya itu begitu dinamis dan bertambah seiring dengan berjalannya waktu.

Dalam pemberitaan Sipatahoenan edisi 26 Januari 1935, kita bisa melihat bukti perkembangan tersebut. Dalam koran edisi awal tahun 1935 tersebut kita dapat membaca keterangan sebagai berikut: ”Edaaas, geus aja opat ‘Al’: Al Imtisal, Al Mochtar, Al Mansoer djeung Al Mawaidz, ajeuna geus boelan-alaeun deui bae, Al anjar, noe baris ngaganti Al Idhar, kagoengan Adjengan Hoetomi, noe geus intjah ti alam pawenangan – soerat kabarna soteh – nja eta Al I’tisom”.

Halaman:

Editor: Administrator


Tags

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X