Hujan Berlebih, Gabah Petani Sukabumi Membusuk

- 12 November 2017, 11:07 WIB
DUA orang petani di Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, memperlihatkan gabah hasil pertanian yang terancam membusuk. Bahkan akibat kurang penarangan matahari, sebagian gabah yang disimpan di rumah mereka telah keluar kecambah.*

SUKABUMI, (PR). Para petani di Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, mencemaskan tanaman padi busuk seiring intesitas hujan semakin meningkat. Kendati hasil produksi pertanian mengalami peningkatan cukup signifikan dibandingan musim panen lalu, tapi ancamam tidak optimalnya penyinaran matahari bisa menganggu harga jual.

“Hujan terus menerus mengguyur Sukabumi sangat menganggu pengeringan gabah. Akibatnya tidak hanya busuk, tapi kini gabah yang tersimpan di rumah telah keluar kecambah,” kata petani Desa Wangun Reja, Taryawan, Minggu 12 November 2017.

Padahal sebelumnya, kata Taryawan, petani Wangunreja sempat menikmati hasil produksi gabah kering kisaran Rp 660.000 per kuintal. Sementara harga gabah basah tembus kisaran Rp. 4.550 per kilogram atau sekitar Rp 450.000 per kuintal. Tapi harga tersebut kemungkinan kembali anjlok seiring minimnya penerangan.

”Kami hanya menikmati musim tanam lalu. Sedangkan musim tanah ini dibayang-bayangi merugi karena kualitas sangat rendah, karena pembusukan,” katanya.

Hal serupa dialami petani di Kecamatan Waluran, Jampang Tengah, Cidolog dan kecamatan Sagaranten. Mereka mengaku, memasuki musim penghujan ini hasil jerih payahnya malah berujung rugi. Guyuran hujan berlebih tidak hanya menyebabkan sebagian lahan pertaniannya malah terendam banjir. Tanaman padi di sejumlah desa di Kecamatan Cidolog malah habis disapu banjir bandang.

“Kalaupun masih tersisa, sebagian besar tanaman padi malah membusuk karena terendam banjir bandang. Akibatnya, petani merugi hingga juta rupiah,” kata salah seorang petani Waluran, Sahiri.

Sahiri mengatakan, hasil panen yang diperoleh hanya di kisaran 25-30 persen. Sebelumnya, hasil panen bisa mencapai 20 kuintal, kini hanya didapat kurang dari 8 kuintal setiap hektarnya. “Sebagian besar tanaman memamasuki musim panen malah terendam sehingga membusuk,” katanya.

Selain terendam banjir bandang, kata Sahiri, para petani mengalami kesulitan untuk menjemur. Kondisi ini sangat berdampak kualitas hasil pertanian yang menjadi merosot. “Padi yang diperoleh banyak mengandung air, karena sulit dijemur. Bahkan beberapa orang petani mengeluh, karena terlambat menjemur, kini butiran berubah menjadi kehitam-hitaman,” katanya.

“Bila tidak segera dilakukan pengeringan, gabah tidak terjual. Kami terpaksa harus segera menjual  gabah dengan harga relatif murah,” katanya.

Halaman:

Editor: Ahmad Rayadie


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X