Jumat, 21 Februari 2020

#KlipingPR Oktober, Bulan Duka bagi PT KAI

- 24 Oktober 2017, 06:50 WIB
Sebagian rangkaian gerbon KA Cirebon Ekspres tampak dalam posisi terguling setelah anjlok di perlintasan rel dekat stasiun Telagasari, Kec.Lelea, Kab.Indramayu.

24 Oktober 1995. Bulan Oktober tampaknya menjadi bulan yang dirundung awan hitam bagi PT KAI. Pada 19 Oktober 1987 terjadi tabrakan kereta api terbesar yang dikenal dengan Tragedi Bintaro. Sembilan tahun sebelum terjadi tragedi nahas itu, pada Selasa 24 Oktober 1978 Kereta Api Cepat Banjar-Jakarta Anjlok di Gandamirah, Garut. Pada tanggal yang sama dan hari yang sama dengan tahun yang berbeda yakni pada Selasa 24 Oktober di tahun 1995 dua kereta terguling di Jembatan Cibahayu, Ciawi Tasikmalaya.

Seperti pernah dilaporkan #KlipingPR pada 20 Oktober 2017, tragedi bintaro yang terjadi pada 19 Oktober 1987 telah menewaskan sedikitnya 151 orang dan ratusan orang terluka. Tragedi itu terjadi karena tabrakan kereta api masing-masing bernomor 225 jurusan Rangkasbitung - Tanah Abang dan kereta api bernomor 220 jurusan Tanah Abang - Merak. Peristiwa itu terjadi tepat di KM. 17+300/400 m atau 4 KM dari Stasiun Kebayoran Lama dan 6 KM dari Stasiun Sudimara.

Sembilan tahun sebelumnya, kereta api penumpang cepat Banjar - Jakarta pada Selasa 24 Oktober 1978 pukul 10.15 WIB anjlok pada KM 207,88 di Gandamirah, Desa Karangsari, Kecamatan Leles, Garut. Seluruh rangkaian kereta api keluar dari rel, dua diantaranya dalam posisi miring di jembatan. 

Sebagaimana dilaporkan Koran Pikiran Rakyat pada Rabu 25 Oktober 1978, kecelakaan kereta api yang ditumpangi tidak kurang dari 500 orang penumpang dari Banjar, Ciamis, Tasikmalaya menuju Bandung dan Jakarta itu tidak menelan jiwa. Hanya korban luka-luka sebanyak 4 orang. Teknisi dari PJKA Bandung dan Cibatu kala itu yang menanggulangi anjloknya kereta tersebut.

Berselang 17 tahun kemudian, masih di bulan Oktober, di hari dan tanggal yang sama namun di tahun berbeda. Yakni pada Selasa 24 Oktober 1995 dini hari, dua rangkaian kereta api masing-masing KA Kahuripan dan KA Galuh, terguling ketika melintasi jembatan Sungai Cibahayu (Trowek), Desa Dirgahayu, Ciawi, Tasikmalaya. Diduga kecelakaan tersebut terjadi akibat rem KA-8076 (KA Kahuripan) tidak berfungsi dengan baik.

9 gerbong

Dilaporkan Pikiran Rakyat pada Rabu 25 Oktober 1995, rangkaian kereta yang terdiri dari 13 gerbong dengan dua lok itu, melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Kereta itu memasuki jembatan Cibahayu (jembatan BH Km 241 +4/6), antara Cipeundeuy-Cirahayu, sekitar pukul 00.10. Sebelum terguling, sebagian rangkaian kereta yang sarat penumpang itu sudah sampai di ujung jembatan, sedangkan beberapa gerbong lagi masih berada di atas jembatan. 

Kecelakaan yang terjadi di kampung Sarapat Palumbungan itu mengakibatkan dua buah gerbong jatuh dari atas jembatan, dan masuk ujung saluran air Cibahayu. Sedangkan dua gerbong lainnya terguling di ujung kiri dan kanan jembatan. Gerbong yang terguling dan keluar rel, termasuk yang masuk saluran air, sebanyak 9 buah. Sedangkan 4 gerbong lainnya tetap berada di rel. 

Kala itu, dua lok CC 20175 (KA Galuh) dan CC 20105 (KA Kahuripan) membentur bukit setinggi kurang lebih 25 meter, di sebelah kanan ujung jembatan. Benturan sangat keras hingga dentumannya terdengar ke kampung Wage yang jaraknya kurang lebih satu setengah kilometer dari lokasi, ujar seorang penduduk Wage. 

Halaman:

Editor: Ari Nursanti

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X