Geliat Batik Bogor di Tengah Kekurangan Perajin

- 2 Oktober 2017, 13:11 WIB
SEJUMLAH siswa sekolah dasar menunjukkan hasil pelatihan dasar membatik di galeri Batik Bogor Tradisiku Jalan Jalak Kota Bogor, Senin (2/10/2017). Perajin batik di sana menggratiskan pelatihan bagi masyarakat selama tiga hari ke depan guna menumbuhkan minat generasi muda menjadi perajin batik.

MEMBATIK ternyata cukup menyenangkan bagi Nadira dan teman-temannya sesama siswa Madrasah Ibtidaiyah Mathlaul Anwar Kota Bogor. Tak henti-hentinya mereka membanggakan kain batik hasil tangan masing-masing setelah mengikuti pelatihan membatik di Perajin Batik Bogor Tradisiku, Senin 2 Oktober 2017.

Menurut Nadira yang masih duduk di bangku kelas IV, membatik dengan metode tradisional itu cukup mudah. "Saya membuat motif hujan gerimis khas Kota Bogor, diajari kakak perajinnya. Ternyata tidak sulit dan menyenangkan," katanya di depan galeri Batik Bogor Tradisiku, Jalan Jalak, Kota Bogor, setelah pelatihan tersebut.

Setelah mengetahui teknik dasar membuat batik tulis tradisional, Nadira dan teman-temannya mengaku bangga memiliki warisan budaya tersebut. Beberapa di antara 10 siswa yang ikut kegiatan tersebut bahkan bercita-cita menjadi perajin dan pengusaha batik saat mereka dewasa nanti.

Pelajar dari berbagai sekolah, anggota komunitas, bahkan ibu-ibu majelis taklim bergantian mengikuti pelatihan membatik di tempat yang sama. Kegiatan itu rutin digelar setiap tahun untuk memperingati Hari Batik Nasional setiap 2 Oktober. Para peserta pelatihan tidak dipungut biaya bahkan mendapatkan kenang-kenangan kain batik buatannya pribadi.

Minat warga menjadi perajin batik

Pendiri Batik Bogor Tradisiku, Syamhudi Siswaya sengaja mengadakan pelatihan tersebut secara rutin sebanyak tiga kali setahun. Yakni setiap Hari Batik Nasional, Hari Jadi Kota Bogor dan hari jadi tempatnya. Siapa pun diperbolehkan ikut pelatihan yang digelar selama tiga hari berturut-turut hingga Rabu 4 Oktober 2017 nanti.

"Pelatihan gratis ini dibuat untuk menumbuhkan minat masyarakat menjadi perajin batik. Siapa tahu satu atau dua orang di sana tertarik sehingga tradisi batik di Bogor bisa terus dikembangkan. Kalau bukan generasi muda kita, siapa lagi?" kata Syamhudi saat ditemui di ruang kerjanya.

Sejak mendirikan Batik Bogor Tradisiku hampir satu dekade lalu, industri batik lokal menurut Syamhudi terus tumbuh. Hampir 100 jenis motif batik baru tercipta di tangan para perajin lokal, menunjukkan eksistensi dan produktivitas mereka cukup kompetitif. Satu per satu, produsen batik bermunculan seiring permintaan yang terus naik angkanya dari waktu ke waktu.

Menurut Syamhudi, produk buatan 5-6 perajin besar di Kota Bogor belum cukup memenuhi seluruh permintaan pasar. Ia mengakui daerahnya masih kekurangan jumlah perajin selain terkendala bahan baku yang masih didatangkan dari luar provinsi. Faktor-faktor tersebut membuat harga jual batik khas Bogor masih tinggi.

"Kalau saya buka lowongan (pekerjaan) untuk perajin batik, tidak ada yang mau melamar. Dari segi sumber daya manusia saja sudah terkendala," kata Syamhudi mengeluhkan minat masyarakat menjadi perajin batik masih rendah. Karena itu, seluruh perajin di tempatnya harus dilatih dari nol hingga mahir. Sebagian besar perajin itu juga tidak muda lagi.

Halaman:

Editor: Hilmi Abdul Halim


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X