Jumat, 28 Februari 2020

Nikah Siri Erat dengan Praktik Prostitusi dan Perdagangan Manusia

- 26 September 2017, 03:04 WIB

CIANJUR, (PR).- Fenomena nikah siri dan nikah kontrak (mut’ah) bukan hal asing di Kabupaten Cianjur. Fenomena tersebut pun rentan mengarah ke praktik prostitusi dan perdagangan manusai (trafficking).

Seperti dikatakan Sekretaris Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Cianjur, Iwan Rahmawan. Dia berkaca pada banyaknya kasus prostitusi di kawasan Cianjur utara. Wilayah perlintasan itu kerap dikunjungi banyak wisatawan domestik dan luar negeri. Tidak menutup kemungkinan, hal tersebut lantas disalahgunakan oleh oknum tidak bertanggungjawab untuk melancarkan bisnis terkait.

”Nikah siri ataupun prostitusi bukan hal asing lagi di Cianjur. Apalagi, berkali-kali pemerintah setempat berhasil membongkar bisnis asusila tersebut di sejumlah wilayah. Artinya, Cianjur memang rawan menjadi wilayah praktik prostitusi, trafficking, atau bahkan pernikahan siri,” kata Iwan, Senin 25 September 2017.

Berbicara mengenai nikah siri, Iwan mengatakan, hal itu begitu lekat dengan prostitusi atau bahkan trafficking. Terdapat kemungkinan, jika pada awalnya nikah siri atau kontrak hanya menjadi kedok dalam ‘menghalalkan’ pasangan. Namun, sebenarnya, praktik tersebut menjurus kepada prostitusi yang akhirnya merugikan pihak yang terlibat.

”Itu bisa saja terjadi, karena informasi yang tidak memadai, atau bahkan sikap hidup yang hedonis. Iming-iming uang yang besar, seringkali menjadi godaan tersendiri bagi mereka untuk kemudian melakukan nikah siri atau bahkan hingga terlibat lebih jauh” ujarnya.

Diberi ceramah keagamaan

Melihat fenomena tersebut, DPPKBP3A berupaya untuk selangkah lebih maju dalam mengantisipasi potensi tindakan menyimpang yang ada. Menurut dia, masyarakat perlu mendapatkan edukasi memadai, terutama mengenai pernikahan yang benar, baik secara agama maupun hukum/administrasi. Hal itu, dinilai dapat menjadi dasar agar masyarakat tidak asal melakukan pernikahan, apalagi yang berujung pada tindakan transaksional.

”Kami berikan ceramah keagamaan, sosialisasi di sekolah, hingga konseling pernikahan bagi masyarakat. Ini penting, agar masyarakat tidak asal bertindak,” kata Iwan.

Ia mengharapkan, masyarakat tidak salah kaprah terhadap konsep nikah siri atau kontrak yang seringkali mengatasnamakan agama. Iwan mengkhawatirkan, pola pikir masyarakat yang sempit dapat menjebak mereka dalam tindakan yang keliru.

Halaman:

Editor: Shofira Hanan

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X