Krisis Air, Warga Mengais Genangan Air Sungai Cihonje

- 13 September 2017, 14:45 WIB
Bupati Sumedang Eka Setiawan tengah mengisikan air bersih ke dalam ember dan jeriken kecil milik warga Dusun Sembir RT 4/RW 02, Desa Gunasari, Kec. Sumedang Selatan, Rabu, 13 September 2017. Air bersih tersebut bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sumedang sebanyak 2 tangki untuk warga Dusun Sembir yang sudah dua bulan ini mengalami krisis air bersih.*

SUMEDANG, (PR).- Warga Dusun Sembir, Desa Gunasari, Kecamatan Sumedang Selatan, mengalami krisis air imbas musim kemarau. Sudah dua bulan ini, mereka kesulitan mendapatkan air bersih.

Untuk mendapatkannya, mereka terpaksa harus mengambil air dari sisa genangan air di Sungai Cihonje yang mengering. Sisa genangan air tersebut, dituangkan ke dalam ember dan jeriken kecil untuk kebutuhan air minum dan memasak di rumahnya. Karena tidak ada sumber air lainnya, sehingga sungai itu pun menjadi tempat mandi dan mencuci pakaian masyarakat Dusun Sembir dan sekitarnya.

“Sudah dua bulan ini atau sejak kemarau,  kami mengalami krisis air. Setiap hari, warga mengambil sisa air genangan dari  gogowok (lubang kecil) di aliran Sungai Cihonje yang mengering. Ngambil airnya, disiukan (dituangkan-red) ke dalam ember. Karena sungainya mengering, sehingga dapat airnya sedikit,” tutur  Ny. Adah (64) salah seorang ibu rumah tangga warga  Dusun Sembir RT  4/RW 02 ketika menunggu bantuan air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kab. Sumedang di Dusun Sembir, Desa Gunasari, Kec. Sumedang Selatan, Rabu 13 September 2017.

Bantuan air bersih sebanyak 2  tangki dari BPBD tersebut, diberikan kepada warga Dusun Sembir  yang secara simbolis bagikan langsung oleh Bupati Sumedang Eka Setiawan. Hadir mendampingi bupati, Kepala Pelaksana BPBD Kab. Sumedang Ayi Rusmana, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang  Sujatmoko, Camat Sumedang Selatan Herry Dewantara, Kapolsek Sumedang Selatan Dilam dan Kepala Desa Gunasari Heri Dadang Subarnas    

Ia mengatakan, mengambil air dari Sungai Cihonje bukan pekerjaan gampang. Warga harus berjalan kaki sekitar 1 km ke sungai tersebut.  Pulangnya, mereka  menjinjing ember dan jeriken berisi air untuk keperluan air minum dan memasak di rumahnya.

Bagi orang tua, mengambil air setiap hari di sungai membuat kaki dan badannya pegal-pegal. “Itu juga terpaksa, karena sangat dibutuhkan untuk minum dan kebutuhan lainnya. Mandi dan mencuci pakaian juga di sungai, karena tidak ada lagi sumber air lainnya di dusun ini,” katanya.

Kerusakan alam dan lingkungan

Ny. Riah (40) warga lainnya mengatakan, mengambil air di sungai walau sedikit,  satu-satunya cara yang diandalkan warga Dusun Sembir untuk memenuhi kebutuhan air bersih setiap harinya. Pasalnya, tidak ada mata air dari pegunungan yang bisa diandalkan. Meski ada mata air Gintung,  airnya sangat sedikit akibat kerusakan alam dan lingkungan.  

Parahnya lagi, kata dia, selang dan pipa kecil untuk menyalurkan air ke bak penampungan, banyak yang dipotong oleh orang tak bertanggungjawab. Kejadian itu, diduga sumber mata air tersebut jadi rebutan warga. Sementara  bantuan air bersih dari mobil tangki pemda, sifatnya hanya penanganan darurat saja. Hanya dua hari, bantuan air bersih bisa habis dan setelah itu masyarakat harus kembali mengambil air dari sungai. 

Sumur bor

“Satu-satunya cara yang bisa menolong warga untuk penyediaan air bersih secara jangka panjang, yakni dengan membuat sumur bor. Lokasinya tak jauh dari pemukiman warga.  Kalau di lokasi itu dibuat sumur bor, dijamin airnya banyak. Dulu sempat ada rencana mau dibangun sumur bor, tapi nggak jadi, Nggak tahu kenapa?” tuturnya.

Halaman:

Editor: Adang Jukardi


Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X