Selasa, 2 Juni 2020

#KlipingPR Empat Roket Meluncur dari Garut, Langsung Menghilang

- 2 Juni 2017, 03:54 WIB

2 Juni 2005. Mendengar kata roket, pikiran banyak orang seringkali tertuju pada negara-negara adikuasa yang gemar meluncurkan serangan roket. Namun, empat roket meluncur dari Pantai Cilauteureun Cikelet Garut selatan ini, bukan untuk mencelakakan lawan apalagi membunuh orang. Hanya saja, peluncuran ini memang persis seperti adegan di televisi saat penonton menyaksikan peluncuran pesawat ulang alik di luar negeri.

Salah satu wartawan Pikiran Rakyat, Deni Yudiawan, 12 tahun silam memberitakan peluncuran roket ilmiah yang diujicobakan dengan mulus oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) di Instalasi Uji Terbang Roket, Cilauteureun.

Ukuran roket yang diluncurkan ini kira-kira sebesar batang kelapa. Peluncuran roket dilakukan 1 Juni 2005 dan masih ada lagi uji terbang terhadap lima roket lainnya 2 Juni 2005.

Roket yang diluncurkan 1 Juni, pertama roket RX 1110. Roket ini berdiameter 115 mm dan langsung melesat sangat cepat dan menghilang dari pandangan. Roket kedua dengan jenis RX 2728 diluncurkan dengan penekanan tombol peluncuran oleh Wakil Gubernur Jabar waktu itu Nu'man Abdul Hakim. Roket kedua tersebut, roket terbesar yang diluncurkan pada uji coba waktu itu. Diameternya 267 mm, meluncur dengan ketinggian 21,3 km, dan memiliki jangkauan hingga 46,3 km. 

Roket ini adalah salah satu varian dari roket RX 250 dengan tabung motor generasi pertama. Tujuan dari uji terbang ini untuk mengetahui unjuk kerja roket tersebut.

Dua buah roket selanjutnya yang diuji terbang, berjenis RX 1512 dan RX 70. Roket generasi ketiga jenis RX 2428 yang baru pertama kali diuji coba diluncurkan 2 Juni 2005 dengan empat roket lainnya.

Buatan Indonesia

Deputi Bidang Dirgantara Lapan Agus Muryanto pada sela-sela uji coba roket mengatakan sembilan roket yang diujicobakan ini murni buatan Indonesia dari Pusat Teknologi Wahana Dirgantara Lapan di Rumpin Bogor. Roket ini dibawa ke Cilauteureun untuk diluncurkan. 

Hanya saja, Indonesia masih bergantung pada pihak luar negeri yang telah mampu memproduksi salah satu komponen sebagai pembentuk propelan. Propelan sendiri merupakan bahan bakar padat roket tersebut.

Halaman:

Editor: Arie C. Meliala


Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X