Jumat, 5 Juni 2020

Cerita Opik, Membangun Literasi dari Kampung Sendiri

- 24 Maret 2017, 01:20 WIB
PENDIRI Komunitas Ngejah Nero Taopik Abdillah mengajar anak-anak di desa Mekartani, Singajaya, Garut, Jumat 3 Februari 2017 lalu. Opik bersama sukarelawan lainnya membangun kampung literasi dengan membuat perpustakaan keliling.*

BERTEPATAN dengan HUT ke-51, Pikiran Rakyat kembali menganugerahkan Pangajén Pikiran Rakyat. Kali ini, pangajén mengusung tema ”Nonoman Panaratas” atau pemuda pelopor yang diberikan kepada kaum muda perintis, pemberi inspirasi, serta memberi manfaat dan dampak sosial bagi lingkungannya.

Kisah tiga peraih pangajén tahun ini (Opik, Iman Rahman alias Kimung, dan Abah Ugi Sugriwa Rakasiwi) serta bagaimana latar belakang dan prosesnya akan kami sampaikan. Sebelumnya kami sudah sampaikan kisah tentang Kimung yang menjadi pejuang literasi musik bawah tanah di Bandung. Kali ini kami sampaikan cerita tentang Opik, pendiri Komunitas Ngejah di Garut.

“Tahun 2010, Garut menjadi satu dari dua daerah tertinggal di Jawa Barat. Sebagai anak muda, saat itu, saya berpikir, harus lakukan sesuatu. Karena tak bisa membantu membangun fisik, saya membangun pemikiran masyarakat,” ucap seorang pemuda di suatu desa terpencil tentang hasratnya untuk membangun intelektual masyarakat Kabupaten Garut.

Opik, begitu nama pemuda tersebut. Siang itu, Jumat 3 Februari 2017, kami menemui Opik di rumahnya yang dipenuhi buku. Ada 16.000 buku tersusun rapi di rak yang menempel ke dinding rumah, mulai dari buku cerita Donal Bebek, novel sastra, hingga ensiklopedia.

Lewat buku, pria 33 tahun itu ingin membangun intelektualitas masyarakat Kabupaten Garut yang ia mulai dari masyarakat desanya. Desa Sukawangi, Kecamatan Singajaya –tempat tinggal Opik—terleta 60 kilometer dari pusat kota Kabupaten Garut. Letaknya yang jauh dari perkotaan, berbatasan dengan Kabupaten Tasikmalaya, membuat akses masyarakat Desa Sukawangi terhadap buku sangat sulit.

”Kalau mau baca buku harus ke perpustakaan daerah di perkotaan Garut, ongkosnya Rp 30.000,” ujar Opik.

Tergerak ingin mengatasi masalah itu, pada warsa 2010, Opik membuka taman bacaan masyarakat di rumahnya. Masyarakat bisa membaca dan meminjam buku kapan saja, tanpa membayar sepeser pun. Pada awalnya, buku-buku yang ada di taman bacaan merupakan buku koleksi Opik kala kuliah. Semakin lama, buku-buku itu pun bertambah dari berbagai pihak yang peduli terhadap kebiasaan membaca.

Dengan adanya taman bacaan, masyarakat menjadi dekat dengan buku. Suasana di Desa Sukawangi pun kental dengan kebiasaan membaca buku. Siang itu, empat anak asyik membaca buku di saung yang dibangun Opik di halaman rumahnya. Beberapa anak lain memilih meminjam buku dari taman bacaan hatta dibaca di rumah. Kini, taman bacaan itu sudah memiliki 2.000 anggota. Tak hanya anak-anak, pemuda dan orangtua pun kerap membaca buku dari taman bacaan.

Melihat perkembangan taman bacaannya, Opik berharap, buku-bukunya dapat membangun intelektualitas masyarakat desa karena buku merupakan gudang ilmu. Anak-anak pun berani mempunyai cita-cita setinggi langit.

Halaman:

Editor: Rani Ummi Fadila


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X