Kamis, 20 Februari 2020

Inovasi Jamur Media Kardus Menjanjikan

- 14 November 2016, 03:26 WIB

SUMBER, (PR).- Inovasi budidaya jamur dengan media kardus cukup menjanjikan di Kabupaten Cirebon. Kardus dipilih menjadi media alternatif bubuk gergaji yang biasanya digunakan untuk mengembangbiakkan jamur. Salah satu penggagas budidaya jamur media kardus, Enjo Suharjo mengatakan, banyak keuntungan yang bisa didapatkan dari budidaya jamur, baik jamur merang ataupun jamur tiram. Apalagi, media yang digunakan pun dianggap mudah dijumpai. ”Kardus apapun bisa digunakan, asalkan tidak tercemar minya atau pestisida. Lagipula, dari segi harga kardus cukup terjangkau,” papar Enjo, Minggu, 13 November 2016. Ia menambahkan, kardus menjadi media tanam yang baik karena tidak mengandung minyak atau getah yang umumnya terdapat pada serbuk gergaji. Jamur yang dihasilkan pun diklaim lebih berkualitas, yakni dengan aroma dan kekenyalan yang lebih baik dibandingkan jamur media serbuk gergaji. Enjo yang juga aktif di Forum Cirebon Kabupaten Sehat ini menerangkan cara budidaya jamur dapat digunakan tanpa membutuhkan lahan yang terlampau luas itu. Kardus siap pakai dihancurkan dan didiamkan dalam semalam untuk kemudian dicampur dengan kapur pertanian, bekatul, dan pupuk organik. ”Setelah dibudidayakan di Cirebon, media kardus ternyata sangat cocok digunakan. Karena suhu dan geografis wilayahnya,” ucapnya. Kawasan pantura dianggap sebagai dataran rendah yang sesuai dengan suhu yang berada pada kisaran 25-28­ derajat celsius. Hasil panen pun tergantung pada jenis jamur itu sendiri, jamur merang dapat dipetik 10-11 kali per periode panen, Sementara jamur tiram membutuhkan masa tanam yang lebih lama, tapi diimbangi dengan masa panen yang juga lebih panjang. Hasil panen pun umumnya mencapai lebih dari 1 kwintal per periode. Tidak heran, jika budidaya jamur di Kabupaten Cirebon makin diminati. Terlebih, harga jual yang cukup menjanjikan budidaya tanaman tersebut. Enjo menyebutkan, jamur merang kini dapat dijual hingga Rp 40 ribu per kilogram, dan jamur tiram pada kisaran Rp 12-15 ribu per kilogram. ”Dengan harga jual yang tinggi, petani jamur harus mulai pikir ulang untuk pemilihan media. Karena kardus juga berguna untuk mempercepat masa tanam dan panen,” jelasnya. Namun, Enjo tidak menampik adanya keraguan masyarakat untuk memilih media kardus. Pasalnya, pada 2008 lalu merebak isu jika kardus mengandung polutan logam berat akibat diproses menggunakan bahan kimia. Hanya saja, kekhawatiran tersebut berhasil dipatahkan berkat adanya tes jamur media kardus di Institut Pertanian Bogor. ”Hasilnya menunjukan, jamur kardus aman dari cemaran logam berat. Logam berat yang ada tidak melebihi ambang batas SNI,” ujar Enjo lega. Kepala Dinas Pertanian Perkebunan Peternakan dan Kehutanan Kabupaten Cirebon, Ali Effendi pun mengungkapkan, budidaya jamur memang menjanjikan dan masih menjadi produk unggulan di Cirebon. ”Jamur masih potensial untuk dibudidayakan, karena konsumennya pun masih tinggi di Wilayah III Cirebon,” terangnya. Salah satunya budidaya jamur dengan media kardus. Pemilihan media kardus dalam budidaya jamur pun dinilai dapat menekan biaya produksi, sekaligus mengurangi limbah perkotaan di masyarakat. Walaupun gaungnya tidak sebesar produk budidaya yang lain, tapi jamur dianggap memiliki penggemar yang cukup tinggi. Terdapat 370 kumbung jamur di Kabupaten Cirebon dengan sentra yang berada di kawasan Kecamatan Klangenan dan Susukan. ”Hingga saat ini, jamur merang masih lebih diminati dibandingkan jamur tiram oleh masyarakat Ciayumajakuning,” tutupnya. Komoditi jamur pun melengkapi ragam pertanian di Cirebon, yakni padi, cabai, bawang merah, dan jagung manis sebagai tanaman pangan dengan tingkat produksi dan konsumsinya tinggi.***


Editor: Shofira Hanan

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X