Ridwan Kamil Bantah 150 Klaster Sekolah di Jawa Barat Temuan Kemendikbud: Yang Terjadi Adalah...

- 26 September 2021, 06:26 WIB
 Gubernur Jawa Barat (Jabar) M Ridwan Kamil atau Kang Emil.
Gubernur Jawa Barat (Jabar) M Ridwan Kamil atau Kang Emil. /ANTARA/HO-Humas Pemprov Jabar
PIKIRAN RAKYAT – Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil memberikan klarifikasi terkait temuan klaster sekolah oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek).
 
Sebelumnya, Kemendikbud Ristek menyatakan adanya temuan 150 klaster sekolah di Jawa Barat, setelah pembelajaran tatap muka (PTM) dilaksanakan.
 
Menanggapi hal itu, Ridwan Kamil pun langsung bereaksi dan memberikan klarifikasi melalui unggahan di akun media sosialnya.
 
Dia menegaskan bahwa di Jawa Barat, belum ditemukan adanya klaster Covid-19 sekolah selama PTM berlangsung.
 
 
Sementara tidak/belum ada KLASTER Covid selama pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah-sekolah di Jawa Barat,” kata Ridwan Kamil, dikutip Pikiran-Rakyat.com dari akun Instagram @ridwankamil, Minggu, 26 September 2021.
 
Dia pun menyertakan definisi ‘Klaster’ yang juga telah diklarifikasi oleh pihak Kemendikbud Ristek.
 
Definisi ‘klaster’ itu: jumlahnya banyak dan pusat penyebarannya di satu titik. Sudah diklarifikasi oleh Kemendikbud di slide ke2,” ujar Ridwan Kamil.
 
Ada foto kedua yang diunggahnya, terdapat 4 Miskonsepsi terkait pemberitaan klaster PTM terbatas yang disampaikan Kemendikbud Ristek, yakni:
 
 
1. Angka 2,8 persen satuan pendidikan itu bukanlah data klaster Covid-19, tetapi data satuan pendidikan yang melaporkan adanya warga sekolah yang pernah tertular Covid-19. Sehingga, lebih dari 97 persen satuan pendidikan tidak memiliki warga sekolah yang pernah tertular Covid-19.
 
2. Data 2,8 persen belum tentu juga penularan Covid-19 terjadi di satuan pendidikan. Data tersebut didapatkan dari laporan 46.500 satuan pendidikan yang mengisi survei dari Kemendikbudristek.
 
3. 2,8 persen satuan pendidikan yang diberitakan itu bukanlah laporan akumulasi dari kurun waktu satu bulan terakhir, tetapi 14 bulan terakhir sejak tahun lalu yaitu bulan Juli 2020.
 
4. Isu yang beredar mengenai 15.000 siswa dan 7.000 guru positif Covid-19 berasal dari laporan yang disampaikan oleh 46.500 satuan pendidikan yang belum diverifikasi, sehingga masih ditemukan kesalahan.
 
 
Misalnya, kesalahan input data yang dilakukan satuan pendidikan seperti laporan jumlah guru dan siswa positif Covid-19 lebih besar daripada jumlah total guru dan siswa pada satuan pendidikan tersebut.
 
Yang terjadi adalah, itu jumlah sekolah yang melaporkan dari dulu sampai sekarang, yang warga sekolahnya yang pernah terpapar Covid. Bisa di rumahnya, bisa di tempat publik non sekolah lainnya,” tutur Ridwan Kamil.
 
Selain itu, dia menekankan bahwa Jawa Barat menjadi salah satu Provinsi yang selalu konsisten berada di posisi teratas terkait penyuntikan vaksin Covid-19.
 
Jawa Barat juga sudah konsisten selalu tertinggi dalam penyuntikan dosis vaksin harian di Indonesia. termasuk memprioritaskan warga sekolah, baik tenaga pendidikan dan siswanya,” ucap Ridwan Kamil.***

Editor: Sarah Nurul Fatia


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X