Rabu, 3 Juni 2020

Harga Cabai Meroket

- 16 Oktober 2016, 09:45 WIB
SEORANG pedagang cabe di pasar Kadipaten, Kabupaten Majalengka, sedang memilah cabe keriting yang baik dan busuk, Minggu, 16 Oktober 2016. Kini harga cabai merah di Pasar Tradisional di Kabupaten Majalengka meroket tajam hingga mencapai Rp 60.000 per kg-Rp 70.000 per kg.*

MAJALENGKA, (PR).- Harga cabai merah dan cabai rawit di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Majalengka meroket tajam. Harga cabai merah mencapai Rp 60.000 hingga Rp 70.000 per kg. Kondisi tersebut akibat pasokan dari petani yang tersedat akibat gagal panen. Tingginya harga cabai tersebut mulai berlangsung sejak sekitar dua pekan lalu. Sebelumnya harga cabai hanya seharga Rp 40.000 per kg dan cabai rawit sekitar Rp 20.000 per kg. Sekarang harga cabai rawit mencapai 40.000 hingga Rp 45.000 per kg. Karena mahalnya harga cabai merah, kini di Pasar Majalengka dan Kadipaten, cabai merah hanya tersedia di beberapa kios sayur saja, padahal biasanya hampir di setiap kios sayuran tersedia cabai merah. Kalaupun kini ada di sejumlah kios nampak hanya satu hingga dua kg saja, malah ada yang hanya sekedar pelengkap, dengan menyimpan cabai merah di atas tumpukan cabai rawit. “Sekarang harga cabai mahal. Kalau harga mahal konsumen juga kurang, dari pada cabai busuk tidak terjual mending tidak menyediakan cabai,” kata Burhan, salah seorang pedagang sayur. Padahal biasanya dia menyediakan cabai merah dan cabai rawit hingga puluhan kilogram disamping menyediakan aneka sayuran lainnya seperti kol, sosin, labu, kentang, wortel, mentimun, bawang metah dan putih dan aneka sayuran lainnya. Menurut keterangan sejumlah bandar cabai di Pasar Majalengka yang biasa memasok ke sejumlah pengecer di pasar tersebut, mahalnya harga cabai tersebut akibat pasokan dari petani berkurang. Biasanya di bulan September hingga awal November pasokan cabai merah dari wilayah Kertajati, Ligung, Lemahsugih, Banjaran serta Brebes jumlahnya melimpah. Kini pasokan cabai kriting dari wilayah Kecamatan Lemahsugih sedikit, demikian halnya cabai merah besar dari wilayah Kertajati dan Ligung. “Ayeuna mah teu paranen saurna, rajeun aya cabena aralit, parondok. Masok ka pedagang oge sakedik sewang (Sekarang petani banyak yang gagal panen, kalaupun ada cabai kondisinya kecil dan pendek. Saya memasok ke pedagang juga sedikit-sedikit,” kata Ade, salah seorang pemasok cabai. Menurut Ade yang memperoleh pasokan dari petani Brebes dan Kertajkati, berdasarkan keterangan para petani kini banyak petani yang mengalami gagal panen karena kebun terendam banjir. Akibatnya, pohon cabai banyak yang membusuk, pembuahan juga gagal karena banyak yang diguyur huujan.***

Editor: Tati Purnawati


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X