Ayosensor.in, Alat Sensor Konten Porno Karya Mahasiswa IPB

- 8 Juni 2016, 16:38 WIB
MAHASISWA semester 8 Ilmu Komputer Fakultas MIPA Institut Pertanian Bogor menjelaskan tentang aplikasi buatan mereka di Kampus IPB Baranangsiang, Rabu 8 Juni 2016. Aplikasi buatan mereka mampu menyensor konten porno berupa gambar dan teks di internet.*

BOGOR, (PR).- Tiga mahasiswa semester 8 Ilmu Komputer Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Pertanian Bogor berhasil menciptakan aplikasi untuk menyensor konten porno di internet. Aplikasi sensor porno tersebut bekerja dengan berbasis gambar dan teks. "Aplikasi ini berbeda dengan milik Kementerian Komunikasi dan Infomatika (Nawala) yang menyensor website. Aplikasi kita menyensor teks dan gambar, jadi tidak peduli situsnya terkenal atau baru, asal ada konten berupa teks dan gambar porno, akan langsung disensor," kata ketua tim peneliti, Ilham Satyabudi, Rabu 8 Juni 2016 di Kampus IPB Baranangsiang. Aplikasi yang diberi nama Integrated Porn Autocensor (IPA) ini merupakan hasil dari kerja Tim Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) Ilmu Komputer IPB yang beranggotakan Ilham Satyabudi, Yuandri Trisaputra, dan Gusti Bimo Marlawanto. Saat ini, inovasi ini akan didaftarkan dalam 100 inovasi paling prospektif di IPB. Aplikasi ini dikerjakan dalam waktu sekitar 3 bulan. Ide ini muncul setelah ketiganya melihat kenyataan banyaknya kasus pelecehan seksual anak akibat pornografi di internet. Masyarakat, lanjut Ilham, bisa mengunduh aplikasi tersebut di web mereka, ayosensor.in secara gratis. Aplikasi ini bisa dipasang di Google Chrome, Mozila Firefox, maupun Opera tanpa batas waktu. Pada saat extension atau add-ons IPA diaktifkan, maka gambar dan teks porno di suatu situs akan secara otomatis disensor. Teks porno akan berubah menjadi tanda bintang, sedangkan gambar porno akan berubah menjadi gambar kartun anak-anak. Aplikasi yang diluncurkan pekan lalu ini sudah diujicobakan ke 10 situs porno. Berdasarkan hasil uji coba, sekitar 82 persen aplikasi ini efektif untuk menyensor gambar porno dan 79 persen efektif menyensor kata-kata porno. Sejak diluncurkan, aplikasi sudah diunduh sebanyak 700 kali di Google Chrome dan 150 kali di Mozila Firefox. "Memang sistemnya belum akurat 100 persen, terutama untuk gambar. Masih ada salah tafsir untuk gambar-gambar tertentu misalnya bayi tidak pakai baju dan sejenisnya," kata Ilham. Ke depan, aplikasi ini masih membutuhkan penyempurnaan. Salah satunya dengan menambahkan korpus kata serta penyempurnaan penanda gambar porno. Saat ini, baru ada 199 kata dalam berbagai bahasa mulai bahasa Inggris, Indonesia, Jawa, hingga bahasa gaul yang telah masuk dalam kategori porno yang telah dikumpulkan. Menurut Yuandri, korpus kata itu dimasukkan dengan cara menjelajahi sejumlah situs porno atau cerita-cerita porno. "Rata-rata sudah masuk semua. Cuma, masih ada banyak kata dalam berbagai bahasa yang belum masuk. Kalau lebih banyak kata, maka lebih efektif," tuturnya. Selain itu, tim juga menilai perlunya mengembangkan aplikasi untuk menyensor video porno. Menurut Yuandri, pada dasarnya bisa dikembangkan sistem untuk menyensor video porno karena video merupakan kumpulan image. "Namun, kami sudah semester 8 sehingga tidak cukup waktu untuk mengembangkan lebih lanjut," kata Yuandri. Kelemahan lainnya, aplikasi ini baru bisa efektif digunakan untuk komputer maupun laptop dan belum bisa untuk sistem Android. Padahal, banyak anak kecil saat ini yang sudah mengenal gawai sejak usia dini. Selain itu, tim juga belum mematenkan hasil inovasi mereka. "Masih butuh pengembangan lebih lanjut agar lebih akurat dan bisa menyensor video porno sekaligus. Penambahan kata dengan penelusuran kata dan gambar berbau porno masih menjadi kendala," tutur Yuandri.***

Editor: Kismi Dwi Astuti


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X