Jumat, 28 Februari 2020

Keajaiban Hutan Mati Gunung Papandayan Garut

- 31 Maret 2016, 23:30 WIB

RIBUAN batang dan ranting pohon legam menghitam bak jemari yang menyembul dari pasir putih dan berjuang meraih birunya langit. Saat berjalan di antara sela-selanya, dua kesan berbeda dan sama kuat hadir dalam tempo bersamaan.
 
Ada ketakutan saat membayangkan kekuatan alam superkuat yang tercermin dari batang dan ranting pohon sebagai benda paling gelap. Namun pada saat bersamaan, ada pula kekaguman terhadap kemampuan alam untuk meninggalkan jejak panorama cantik dari kekuatannya itu.
 
Hal itulah yang seketika terbesit dalam benak saat berada di kawasan Hutan Mati Gunung Papandayan. Keunikan yang membuatnya begitu kontras adalah posisi Hutan Mati yang diapit lebatnya pepohonan yang memayungi perbukitan sejauh mata memandang. Kondisi itu menguatkan kesan seperti tengah berada dalam lukisan lukisan surealis.
 
Waktu terbaik untuk menikmati epiknya Hutan Mati Gunung Papandayan adalah sore menjelang gelap. Sangatlah beruntung jika langit sedang cerah tanpa senoktah pun awan. Sebab, pemandangan langit malam dengan bintang gemintang tampak sedemikian sempurna jika dilihat dari Hutan Mati.
 
Berada di Kecamatan Cisurupan, Gunung Papandayan bisa ditempuh dalam tempo sekitar 4 jam dari Kota Bandung. Di gunung dengan ketinggian 2.665 mdpl itu terdapat beberapa kawah seperti Kawah Baru, Kawah Mas, Kawah Nangklak, serta Kawah Manuk yang tak henti hentinya mengepulkan uap.
 
 

 
Gunung Papandayan sangat cocok bagi pendaki pemula sehingga menjadi salah satu primadona destinasi wisata di Garut. Berdasarkan kalisifikasi Schmidt dan Ferguson, Gunung Papandayan digolongkan ke dalam tipe iklim B dengan curah hujan rata-rata 3.000 mm per tahun, kelembaban udara 70-80 persen, serta  bertemperatur 10 derajat celcius.
 
Selain melalui jalur pendakian yang bermula di Cisurupan, sejatinya ada pula jalur yang dimulai dari Pengalengan, Kabupaten  Bandung. Namun jarak tempuh menuju kawah dari Pangalengan akan lebih jauh. Mengingat aroma belerang yang amat menusuk, pendaki dianjurkan untuk membawa masker.
 
Jika memulai pendakian dari Cisurupan, kawasan Hutan Mati dapat dijumpai setelah melalui hamparan kawah dan area perkemahan Pondok Salada yang berjarak sekitar 2 jam perjalanan dari kawah. Dari Pondok Salada, pendaki bisa mendirikan tenda. Sumber air juga melimpah di sana. Dari Pondok Salada, perjalan bisa diteruskan menuju Hutan Mati tanpa perlu membawa seluruh perbekalan pendakian.
 
Jika belum puas mengagumi Hutan Mati, tidak ada salahnya menelusuri pemandangan padang Edelweiss seluas 35 ha di Tegal Alun yang berjarak sekitar 45 menit dari Hutan Mati.
 
Pemandangan menakjubkan di Hutan Mati tidak akan ada seandainya erupsi Gunung Papandayan tidak terjadi pada 2002 lalu. Erupsi kala itu terjadi 3 gelombang yang diawali erupsi freatik pada 11 November. Dinding Kawah Nangklak runtuh membuat material longsoran mengalir ke sungai Cibeureum Gede dan memicu banjir bandang. 
 
Gelombang kedua terjadi pada empat hari kemudian, 15 November berupa erupsi eksplosif yang membentuk Kawah Baru. Pada 20 November, terjadi apa yang dsiebut “directed lateral blast”. Material vulkanik dimuntahkan Kawah Nangklak sepanjang 1 km ke arah timur laut.
 
 

 
Sejak 2013, Gunung Papandayan dinyatakan berada pada status Waspada Level II dan jalur pendakian tetap dibuka seperti biasa. Akan tetapi, Gunung Papandayan tercatat pernah mengalami letusan terdahsyatnya pada 11-12 Agustus 1772 silam. 
 
Letusan gunung yang berada di selatan kawasan perkotaan Garut itu mengubur 40 desa beserta sekitar 3.000 penduduknya. Gambaran kerusakan yang diakibatkannya dapat ditemukan dalam catatan sejarawan yang juga profesor di Suffolk Community College New York Lee Davis dalam bukunya Natural Disasters.
 
“Tidak ada lukisan Hari Penghakiman karya (Michael) Angelo atau (Gustave) Dore sekalipun yang mampu menyamai kengerian nyata dari gunung utuh yang tenggelam ke dasar bumi dengan membawa umat manusia bersamanya. Bongkahan raksasa jatuh seperti bahtera ditelan samudera.” Demikian deskripsi Davis.
 
Oleh karenanya, mendaki Gunung Papandayan adalah juga menjadi sebentuk ziarah dan tafakur meresapi keagungan ciptaanNya yang Mahasempurna. Di antara terjalnya jalan berbatu, terselip kontemplasi menemukan kembali makna sejati dari eksistensi diri. 
 
Selalu ada bagian kalbu baru yang tercerahkan saat turun meninggalkan Gunung Papandayan beserta Hutan Mati-nya. Betapa elok alam Priangan.***
 


Editor: Yusuf Wijanarko

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X