Kamis, 20 Februari 2020

Warga Desa Pilangsari Lakukan Ritual Mapag Sri

- 15 Maret 2016, 08:27 WIB
WAKIL Bupati Majalengka Karna Sobahi dan Kepala BP4K Kabupaten Majalengka menandu padi yang dihias saat acara mapag sri yang dilaksanakan warga Desa Pilangsari, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka.*

MAJALENGKA,(PR).- Untuk memulai musim panen rendeng ratusan warga Desa Pilangsari, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka lakukan ritual “Mapag Sri” dengan harapan hasil panen bisa membawa berkah bagi seluruh petani. Ritual Mapag Sri yang dilakukan petani Desa Pilangsari dengan cara petani mengambil ratusan tangkai padi di satu petak sawah yang kondisi tanamannya cukup bagus. Sebelum padi dipetik petani terlebih dulu membuat sesajen berupa tumpeng yang dibagian atasnya terdapat telur ayam kampung, bubur manis dan asin, aneka kue serta minuman berupa air kopi, bajigur dan kelapa muda. Ketika sesajen di simpan petani terlebih dulu membaca ritual memohon agar hasil panen banyak dan membawa berkah. Setelah ritual selesai baru padi di petik sebanyak ratusan tangkai dan hasilnya diikat kemudian ditandu oleh empat orang warga secara bergantian, kemudian diarak keliling kampung diiringi ratusan orang, hingga berakhir di kantor desa setempat. Di kantor balai desa sendiri telah disiapkan hidangan makanan berupa tumpeng dan aneka lauk pauknya serta makanan ringan seperti rengginang, opak, wajit, apem serta aneka makanan lainnya untuk dinikmati semua warga. Tahun ini yang menandu padi dari sawah diantaranya dilakukan oleh Wakil Bupati Majalengka Karna Sobahi dan Kepala Badan Penyuluh Pertanian Perikanan Peternakan dan Kehitanan Kabupaten Majalengka Udin Abidin. Keduanya di daulat menandu padi dari pintu gerbang balai desa hingga ke kantor desa. Menurut keterangan Kepala Desa Pilangsari Supria, ritual mapag sri ini adalah tradisi warga Pilangsari yang biasa dilakukan setiap tahun disaat masa panen rendeng tiba sekaligus sebagai ungkapan rasa sukur agar panen bisa banyak dan hasilnya membawa berkah bagi masyarakat. “Orang tua dulu mengatakan padi adalah sri, yang harus diperlakukan dengan sangat istimewa, bila perlakuan terhadap sri ini tidak baik maka sri (padi) apakan pundung (kecewa) dan pergi, hasilnya akan jelek,” kata Supria. Makanya menurut Supria, jaman dulu ketika mengambil beras dari pabeasan (tempat beras yang terbuat dari gerabah) selalu menutupi bagian dadanya menggunakan kain, dan saat mengambil beras untuk ditanak selalu dalam posisi duduk tidak boleh nungging apalagi berdiri, makanya beras selalu memabwa berkah. “Di Pilangsaripun demikian, di wilayah kami hanya sebagian kecil saja sawah yang mendapat pengairan teknis, sebagian besar areal sawah adalah sawah tadah hujan, namun warga kami tidak pernah kekurangan makan padi yang dipanen selalu cukup untuk setahun, karena warga sangat menjunjung tinggi adat dan memperlakukan istimewa terhadap sri,” papar Supria. Sebelum mapag sri, saat menjelang musim tanam diwilayahnya juga dilakukan munjung, yakni upacara menghadapi masa tanam pertama denghlilan di sawah yang dilakukan hampir seluruh warga desa sambil membawa aneka makanan berupa tumpeng dan lauk pauk, setelah tahlilan makanan dinikmati bersama, sisanya dibawa ke mesjid untuk dibagikan kepada warga. Wakil Bupati Majalengka Karna Sobahi saat menghadiri acara mapag sri mengatakan, tradisi yang telah dilakukanw arga Pilangsari harus terus dilakukan, hal itu adalah sebuah budaya yang harus tetap lestari. Bahkan tradisi mapag sri ini bisa menjadi sebuah destinasi wisata lokal maupun manca negara, karena mungkin di tempat lain tidak dilakukan, kalaupun dilakukan caranya berbeda. Sedangkan di Pilangsari tergolong cukup unik. Yang paling harus diperhatikan adalah pola tanam yang tepat, pemupukan padi yang tepat serta teknologi pertanian yang harus dilakukan agar hasil penan lebih maksimal. Udin Abidin mengatakan hasil panen di Pilangsari tergolong sagat bagus meskipun pada saat tanam kemarin sempat kekurangan air dan banyak bibit tua yang dipaksakan ditanam. Tak heran bisa saat tanam dilakukan dengan cara di aseuk atau tanam kering. Namun setelah ditanam padi tumbuh baik dan relatif inim serangan hama. “Tapi sekarang bersukur ternyata hasil tanam sangat baik, hasil uji coba peanen setiap hektare diperoleh sekitar 7 hingga 7,5 ton,” ungkap Udin.(Tati Purnawati-Kabar Cirebon/A-147)***


Editor: Tati Purnawati

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X