Mengenal Candi Cangkuang dan Kampung Pulo Garut Saat Liburan

28 Juni 2017, 07:37 WIB

Pada mulanya, Embah Dalem Arief Muhammad merupakan panglima perang Kerajaan Mataram yang ditugaskan oleh Sultan Agung untuk menyerang VOC di Batavia. Namun, karena kalah dan takut mendapatkan sanksi apabila pulang ke Mataram, Embah Dalem Arief Muhammad memutuskan untuk bersembunyi di Cangkuang.

"Ketika berada di daerah tersebut, masyarakat sekitar menganut agama Hindu serta animisme dan dinamisme. Abad XVII kemudian masyarakat diislamkan. Upaya tersebut dilakukan secara bertahap, karena ketika itu kemenyan dan sesaji masih digunakan," kata Umar.

Bukti penyebaran dan pengajaran agama Islam oleh Embah Dalem Arief Muhammad dipamerkan di museum kecil yang ada di dekat makam keramat. Di museum tersebut terdapat naskah Alquran dari abad XVII dari daluang atau kertas tradisional dari batang pohon saeh (Broussanetia papyrifera vent).

Selain itu, juga terdapat naskah kotbah Idulfitri dari abad yang sama sepanjang 167 sentimeter yang berisi keutamaan puasa dan zakat fitrah.

Warga adat yang mendiami Kampung Pulo saat ini berjumlah 23 orang yang terdiri atas 10 perempuan dan 13 laki-laki. Mereka merupakan generasi ke-8, ke-9, dan ke-10 dari Embah Dalem Arief Muhammad.

Bangunan di Kampung Pulo terdiri atas 6 rumah dan 1 musala. Jumlah tersebut merupakan simbol dari jumlah anak Embah Dalem Arief Muhammad yang memiliki enam anak perempuan dan satu laki-laki.

Advertising
Advertising

Komunitas adat Kampung Pulo tidak boleh menambah kepala keluarga sehingga apabila ada warga adat yang menikah, harus membangun keluarga ke luar kampung.

"Apabila ayah atau ibunya sudah meninggal, bisa masuk lagi ke kampung adat untuk mengisi kekosongan. Namun, yang mendapatkan hak waris adalah anak perempuan karena yang melanjutkan eyang adalah anak perempuan. Laki-laki satu-satunya meninggal saat mau disunat yang disimbolkan dengan musala," terang Umar.

Larangan di Kampung Pulo

Larangan adat adalah salah satu hal yang unik dari masyarakat adat kampung ini. Ini adalah penerapan sejumlah larangan adat yang diamanatkan sejak zaman Eyang Embah Dalem Arief Muhammad sebagai pendiri Kampung Pulo.

Larangan pertama, warga adat tidak boleh berziarah pada hari Rabu. Hari tersebut dikhususkan untuk pengajian dan memperdalam ilmu keagamaan. "Tidak boleh ziarah pada malam Rabu atau Rabu karena dahulu hari itu dianggap hari terbaik untuk menyembah patung Dewa Siwa," kata Umar.

Halaman:

Editor: Deni Yudiawan

Tags

Terkini

Terpopuler