Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian cerah, 30.2 ° C

Kisah Mayor SL Tobing, Mahasiswa ITB yang Jadi Nama Jalan di Kota Tasikmalaya

Bambang Arifianto
PLANG Jalan Mayor SL Tobing dan fotonya di Buku Tiada Berita Dari Bandung Timur 1945-1947 di Jalan SL Tobing, Kota Tasikmalaya, Kamis 7 November 2019. Menjadi nama jalan, sosok SL Tobing tak terlalu banyak dikenal masyarakat.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
PLANG Jalan Mayor SL Tobing dan fotonya di Buku Tiada Berita Dari Bandung Timur 1945-1947 di Jalan SL Tobing, Kota Tasikmalaya, Kamis 7 November 2019. Menjadi nama jalan, sosok SL Tobing tak terlalu banyak dikenal masyarakat.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

TERENTANG di wilayah Kota Tasimalaya menuju arah Singaparna, kisah sosok yang menjadi nama jalan tersebut tak banyak dikenal. Masyarakat lebih mengenalnya Mayor SL Tobing sebagai nama jalan penghubung Jalan KH Zainal Mustofa dan AH Nasution di Kota Tasikmalaya itu, ketimbang cerita tokohnya.

Coba saja tanyakan di mana letak Jalan Mayor SL Tobing, kemungkinan besar warga mengetahui letak atau ancer-ancer lokasinya. Tetapi ketika pertanyaannya berganti siapa SL Tobing dan apa jasanya sehingga menjadi nama jalan, barangkali hanya dahi mengernyit dan pandangan penuh tanda tanya yang menjadi jawabannya.

Dalam peringatan Hari Pahlawan 10 November, "PR" mencoba melacak dan menelusuri sosok SL Tobing, sosok yang kadung menjadi nama jalan tetapi kurang dikenal sepak terjangnya . Di kalangan para veteran pejuangan kemerdekaan, SL Tobing dikenal sebagai pimpinan Batalyon 33 Pelopor yang berkedudukan di Singaparna.

"Pak Tobing pimpinan kami," kata‎ Iing Suhanda, 89 tahun, Ketua Dewan Pimpinan Ranting LVRI Kecamatan Salawu saat ditemui di‎ Kantor LVRI Kota/Kabupaten Tasikmalaya, Jalan Rumah Sakit 1 no 29, Kelurahan Cikalang, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, Rabu, 14 Agustus 2019. ‎ 

Meski merupakan pimpinan, Iing belum pernah melihat langsung sosoknya. Kondisi para pejuang yang bergerilya dan menghindari sergapan tentara Belanda memang membuat tak semua pemimpin bisa ditemui dan langsung berkoordinasi dengan anak buahnya. Hal serupa disampaikan mantan pejuang kemerdekaan lain,‎ Zainal Aboedin Alamsyah, 87 tahun. 

Ketua ‎Harian Dewan Harian Cabang Badan Pembudayaan Kejuangan 45 Kota Tasikmalaya sekaligus Ketua Dewan Pertimbangan Legiun Veteran RI Tasikmalaya tersebut menyatakan, ‎SL Tobing adalah salah satu komandan batalyon pasukan Siliwangi yang turut berperan dalam gejolak revolusi mempertahankan kemerdekaan di Tasikmalaya.

SL Tobing dikenang sebagai sosok tabah 

Bukti perjuangan sang mayor tertera dalam tugu di tikungan jalan Desa Salebu, Kecamatan Salawu

Di sana, pada medio September 1947, Kompi Leokito mengadakan penghadangan terhadap iring-iringan konvoy yang membawa Jenderal Buurman Van Vreeden, Kepala Staf Umum Tentara Belanda. Tugu tersebut juga menyebut Loekito Santoso merupakan anak buah dari SL Tobing. Pengadangan tersebut membuat‎ dokumen-dokumen hingga stempel serdadu Belanda jatuh ke tangan para pejuang.

Cerita SL Tobing bertempur di Tasikmalaya bermula dari agresi militer pertama 1 Belanda yang membuat front-front pejuang di Bandung bergeser. Berdasarkan dokumen LVRI Kota/Kabupaten Tasikmalaya, Batalyon 33 Pelopor pimpinan Tobing yang awalnya bertempur di front Bandung Timur bergeser ke Singaparna selatan. Kisah Tobing juga terkuak dalam‎ buku Tiada Berita Dari Bandung Timur 1945-1947 yang ditulis mantan pejuang, R Jus Rusady Wirahaditenaya. 

Para pejuang Batalyon 33 Pelopor merupakan  mahasiswa, pelajar Bandung dari Sekolah Teknik Tinggi (kini, Institut Teknologi Bandung), Sekolah Menengah Teknik Tinggi (SMTT), Sekolah Menengah Tinggi (SMT), STM dan SMP. "Markas kami waktu itu berada di Jalan Raden Dewi Sartika (sekarang Jalan Kautamaan Istri), Bandung di bawah pimpinan mahasiswa senior STT bernama Simon Lumban Tobing," tulis Rusady. Saat terbentuk, jumlah anggota pejuang pelajar itu baru satu desatemen dan berstatus Kort Verband (ikatan dinas). Statusnya kemudian berubah menjadi Polisi Istimewa langsung di bawah Kolonel AH Nasution serta menjadi Detasemen Pelopor.

Sayang Rusady yang merupakan bawahan SL Tobing tak merinci lagi terkait tempat tanggal lahir hingga perjalanan sang mayor dari mahasiswa ITB menjadi pejuang. Namun, gema proklamasi 1945 memang memanggil para pemuda, pelajar Bandung untuk berjuang memanggul senjata mempertahankan kemerdekaan saat itu. Rusady yang juga ayahanda dari aktris Paramitha Rusady tersebut menyebut, Tobing merupakan sosok yang luar biasa. "Ia ulet, tenang serta seorang yang tabah dan serius dalam menghadapi berbagai keadaan," kenang Rusady. Tobing, lanjutnya, selalu bekerja dan berkerja.

KENDARAAN melintasi Jalan Mayor SL Tobing, Kota Tasikmalaya, Kamis 7 November 2019. Menjadi nama jalan, sosok SL Tobing tak terlalu banyak dikenal masyarakat.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

Pelajar yang terlibat berbagai pertempuran

Berbagai laporan hasil penyelidikan para pejuang pelajar bawahannya yang menyusup di wilayah Bandung selalu ditelitinya. "Mayor Tobing selalu teliti memperhatikan kami kadang hingga detail sekecilnya. Malahan ia sering kurang puas, namun ia pun mengetahui betapa susah payah dan bahaya yang telah kami tempuh," ucap Rusady. 

Rusady masih bisa mengingat sosok SL Tobing yang disebutnya berwajah tampan. "Mayor Tobing orangnya ganteng, mirip bintang film Amerika Allan Jones, yang gemar memakai topi turbus merah orang Turki, bersepatu laars tinggi seperti kami umumnya waktu itu," ujarnya. Ia pun memiliki isteri yang cantik bernama Poppy.

Berbagai palagan melawan pasukan Sekutu dirasakan langsung para tentara yang masih berstatus anak sekolah tersebut mulai dari pertempuran Fokkersweg (Jalan Garuda), pertempura di garis demarkasi rel kereta api hingga peristiwa Bandung Lautan Api dalam kurun 1945-1946. Selepas peristiwa Bandung Lautan Api, 24 Maret 1946, pasukan Tobing berpindah ke Front Bandung Timur dengan markas resimen di Cileunyi dan Batalyon di Rancaekek. Di front tersebut, pasukan Tobing bertempur dengan tentara Belanda yang menurunkan pasukan yang terkenal bengis Anjing NICA.

Tobing sempat terluka saat terkena pecahan detonator yang meledak di di Markas Ujungberung. Kala itu, Rusady dan sejumlah rekannya tengah mempelajari menggunakan dinami atau bom dan cara kerja detonatornya (sumbu listrik). Rencananya, mereka akan meledakkan Penjara Sukamiskin. 

"Ketika kami sedang mengujinya dengan sebuah accu, tiba-tiba detonator itu meledak," kata Rusady. Perjalanan pemuda ITB tersebut berakhir selepas long march atau perjalanan pulang pasukan Siliwangi kembali ke Jawa Barat dari Yogyakarta akhir 1948. Saat pulang dan menuju basis Wehkreise Brigade XII di Cianjur, rombongan Mayor Tobing sempat mampir di Singaparna. Kondisi Priangan Timur saat itu sudah berubah setelah menjadi wilayah pusat kekuasaan Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/TII).

Perwakilan DI sempat menemui rombongan di Cidugaleun, Cigalontang untuk mengajak bergabung dengan DI/TII. Terang saja permintaan tersebut ditolak dan justru orang-orang DI tersebut yang diminta bergabung dengan TNI.

Gugurnya Tobing tercatat dalam buku Siliwangi Dari Masa Ke Masa. Rombongan Tobing tiba di Kampung Cigalugur setelah melanjutan perjalanan menyeberang Jalan Singaparna-Garut. Mereka beristirahat di kampung tersebut serta disambut dengan ramah tamah oleh pendudunya. Namun, pasukan DI/TII rupanya telah tiba di kampung itu. Sekira pukul 03.00 WIB pagi terdengar teriakan-teriakan, "Belanda-Belanda!" yang membuat para pejuang menyelamatkan diri, termasuk Tobing dan dua pengawalnya.

Sejak itu, Tobing dan dua pengawalnya tak ditemukan hingga rombongan tiba di Cianjur. Pada akhir 1950, bekas komandan bawahan Tobing, Kapten Imam Suripto, Letna Loekito Santoso dan kawan-kawanya melakukan penyelidikan. Akhirnya ditemukan seseorang yang mengetahui dan dapat menunjukkan tempat sang Mayor dan dua pengawalnya, Iskandar dan Ujang dikuburkan dalam satu lubang oleh DI/TII. Saat lubang jenazah digali kembali untuk dimakamkan di Taman Makam Cikutra, ketiga kerangka pejuang itu tidak lagi berkepala.***

Bagikan: