Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian cerah, 30.2 ° C

Jawa Barat Lumbung Penderita Bibir Sumbing Indonesia

Hilmi Abdul Halim
HILMI ABDUL HALIM/PR
HILMI ABDUL HALIM/PR

PURWAKARTA, (PR).- Jawa Barat menjadi lumbung penderita bibir sumbing di Indonesia. Sebagian besar di antara mereka itu diketahui mengalami kekurangan gizi sampai menjadi objek perisakan (bullying) hingga menghambat kehidupannya di masa depan.

"Apabila tidak langsung ditangani, bayi dengan kondisi bibir sumbing akan kesulitan makan dan minum. Itu membuatnya rentan mengalami malnutrisi. Sehingga, tidak tumbuh seperti anak lainnya," kata Direktur Program dan Manajer Smile Train Indonesia Deasy Larasati, Minggu, 10 November 2019.

Selain itu, Deasy mengaku masih menemukan perisakan terhadap para pemilik bibir sumbing. Seperti di sekolah, lingkungan sekitar tempat tinggal bahkan dari anggota keluarganya sendiri. Hal itu menyebabkan para penderita bibir sumbing akhirnya mengucilkan diri.

"Mereka kurang dukungan dari masyarakat. Bahkan, masih ada ibu atau orang tua yang merasa malu dengan kondisi anaknya itu. Padahal, itu bukan permasalahan yang besar dan bisa diatasi dengan operasi," tutur Deasy.

Namun, biaya operasi bibir sumbing dinilai masih relatif mahal untuk masyarakat kelas menengah ke bawah. Deasy memperhitungkan biayanya mencapai Rp10 juta rupiah di rumah sakit pemerintah. Sedangkan di rumah sakit swasta, biayanya diperkirakan jauh lebih mahal lagi.

Karena itu, sebagai badan amal internasional khusus anak-anak, Smile Train berkomitmen membantu biaya operasi bibir sumbing secara penuh. Deasy menyebutkan setiap tahun organisasinya bisa membiayai sekitar 9.000 anak untuk mengikuti operasi bibir sumbing.

"Sejak 2002 hingga Oktober 2019 jumlahnya mencapai 18.900 orang yang telah menjalani operasi bibir sumbing di Jawa Barat. Jumlahnya memang paling banyak di Jawa Barat karena jumlah penduduknya juga padat," ujarnya.

Operasi bibir sumbing gratis

Deasy merinci, dalam sebulan terdapat sedikitnya 50 orang yang menjalani operasi serupa di berbagai daerah seperti Bandung, Sukabumi dan Bekasi. Ia meyakini, masih banyak penderita bibir sumbing yang belum diketahui dan dilaporkan kepada Smile Train.

Salah satunya alasannya ialah ketidaktahuan masyarakat terhadap masalah yang dihadapi penderita bibir sumbing dan cara mengobatinya. "Bibir sumbing itu operasinya hanya satu jam tapi bisa mengubah kehidupan secara signifikan. Apalagi biayanya gratis," kata Deasy memastikan.

Selain menyediakan pengobatan gratis, Smile Train Indonesia juga terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang membutuhkan. Salah satunya melalui kegiatan amal bertema olahraga lari (charity run) yang digelar di Kabupaten Purwakarta, Minggu pagi.

Kegiatan tersebut diikuti kurang lebih 500 peserta. Termasuk di antaranya adalah Putri Indonesia 2017 Bunga Jelitha Ibrani sekaligus brand ambassador Smile Train Indonesia dan pemain sepakbola nasional Syamsir Alam.

Salah seorang orang tua dari anak penderita bibir sumbing, Fatimah mengaku sudah sempat dijanjikan operasi gratis oleh pemerintah. "Setelah lahir, katanya anak saya mau dioperasi gratis saat usia enam bulan di Brebes. Tapi sampai 1,5 tahun belum ada panggilan lagi," katanya.

Fatimah mengaku sangat terbantu dengan program operasi bibir sumbing yang dibiayai para donatur melalui Smile Train. Ia mengaku keberatan dengan biaya operasi karena penghasilan suaminya sebagai kuli bangunan, tidak menentu.

Anak Fatima merupakan satu dari tujuh anak lainnya yang akan mengikuti operasi bibir sumbing gratis dari Kabupaten Karawang. Menurut pekerja sosial Smile Train Indonesia wilayah Karawang-Purwakarta, program serupa sudah banyak dilakukan pihak rumah sakit di Purwakarta tapi masih kurang untuk Karawang.***

Bagikan: