Pikiran Rakyat
USD Jual 14.037,00 Beli 14.135,00 | Berawan, 20.8 ° C

Kampung Literasi Cisontrol, Kampung Bahasa Inggris yang Menuju Digital Village

Mochammad Iqbal Maulud
SUASANA pengajaran di Kampung Literasi di Desa Cisontrol, Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis beberapa waktu lalu. Meski dengan ruangan sederhana namun siswa SD SMP maupun SMA akhirnya mampu berbahasa Inggris dengan baik.*/DOK ISTIMEWA
SUASANA pengajaran di Kampung Literasi di Desa Cisontrol, Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis beberapa waktu lalu. Meski dengan ruangan sederhana namun siswa SD SMP maupun SMA akhirnya mampu berbahasa Inggris dengan baik.*/DOK ISTIMEWA

HARUM‎ tetesan air hujan ke atas rumput-rumputan hijau sungguh menenangkan hati. Suasana asri dengan udara yang bersih pun membuat kita betah berada di desa itu. Hanya saja ada sebuah keanehan, ternyata anak-anak di sana saling berkomunikasi dengan Bahasa Inggris.

Di sebuah kampung yang tidak terlalu kecil itulah anak-anak saling bersenda gurau layaknya anak-anak dari Eropa. Di Kampung Desa, Desa Cisontrol, Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis. Namun kampung ini lebih dikenal dengan nama Kampung Literasi.

‎Awalnya memang Kampung Literasi hanya sebuah program amal berbasis pemberdayaan masyarakat. Penggagasnya adalah Prof Dadang Suganda M.Hum yang kini menjabat Ketua Komisi Pengembangan Akademik Senat Akademik di Universitas Padjajaran‎.

"Saya bermimpi ada desa yang serba guna dan tak ketinggalan ‎zaman. Pada langkah awal kami mencoba memajukan pada bidang bahasa dahulu, karena rencana Pak Gubernur Ridwan Kamil adalah digital village. Tetapi hal itu membutuhkan faktor pendukung utama yaitu kemampuan berbahasa Inggris," kata Dadang di kediamannya di Komplek Margahayu Raya, Kelurahan Manjahlega, Kecamatan Rancasari, Kota Bandung, Minggu 3 November 2019.

Meski dengan modal terbatas, Dadang mencoba membuka pelatihan Bahasa Inggris ini, bahkan awalnya sempat diremehkan oleh warga sekitar. Namun dengan kemampuan komunikasinya akhirnya warga sekitar menerima pembelajaran Bahasa Inggris tersebut.

"Kami gunakan garasi-garasi yang tidak terpakai sebagai ruang kelasnya. Sementara untuk guru-gurunya kami kerjasamakan dengan Universitas Galuh Ciamis. Hasilnya amat memuaskan, hanya dalam dua bulan saja warga dari tingkat SD, SMP maupun SMA mampu melakukan percakapan Bahasa Inggris," katanya.

M‎ulanya kata Dadang, untuk gelombang pertama 'kursus' bagi pelajar ini yang mendaftar berjumlah hingga 163 orang. Tetapi banyak yang mundur dari pengajaran Bahasa Inggris tersebut, bahkan yang tersisa hanya berjumlah 93 orang. 

"Angkatan pertama tersebut selesai pada Agustus 2019, sementara angkatan baru akan mulai November ini. Jumlah pendaftarnya sudah 180 orang, karena ternyata pelajaran Bahasa Inggris ternyata sudah mulai dirasakan penting bagi masyarakat," katanya.

Dadang juga berjanji akan mengembangkan aplikasi tersendiri bagi Desa Literasi ini. Tujuannya adalah untuk mempermudah koneksi masyarakat ke dunia luar. "Aplikasi di android maupun IOS sekarang kan banyak yang Bahasa Inggris tentunya dengan begitu kursus Bahasa Inggris ini jadi amat diperlukan. Harapan ke depan ada aplikasi khususnya, tetapi untuk sementara akan mencoba memaksimalkan aplikasi yang ada terlebih dahulu," katanya.

Selain Kampung Literasi di Desa Cisontrol, Dadang juga berjanji untuk mengkoneksikan dua desa lainnya. Yaitu Desa Tambaksari yang memiliki situs purbakala dan Kampung Kuta yang merupakan kampung adat, di Desa Karangpaningal keduanya berada di Kecamatan Tambaksari.

"Jadi kita akan buat desa wisata di dua desa itu pula. Tetapi semuanya terhubung secara digital dengan harapan saat pengunjung tadi datang akan menikmati wisata yang berbeda-beda. Seperti melihat peninggalan purbakala tadi, ataupun ke Kampung Kuta, yang merupakan kampung adat yang memiliki 1000 pantangan‎," katanya.

Potensi di kampung-kampung yang akan dikembangkan Dadang ini pun ternyata‎ berbeda-beda. Semisal dari pembuatan kue kering seroja misalnya atau golok asli Ciamis. "Masalahnya kan tinggal melakukan packaging yang baik dan inovasi, seroja contohnya bisa kan dijadikan rasa keju atau blue berry atau apalah. Tinggal nantinya dijual online. Begitu pula dengan golok Ciamis hanya tinggal inovasi-inovasi lalu dijual online. Hasilnya dijamin menjanjikan bagi masyarakat," ucapnya.

Maka dari itu jasa pengiriman barang pun oleh Dadang akan coba dikembangkan. Ini untuk menunjang penjualan yang tadinya hanya di lingkup sekitar, nantinya justru bisa seluruh Indonesia atau bahkan seluruh dunia untuk mengenal produk asli desa-desa tersebut.

Maka dari itu Dadang pun berharap, meski kampung berbahasa Inggris ini merupakan replika dari Kampung Pare di Kediri namun diharapkan akan banyak kelebihannya. Bahkan di masa datang Dadang juga akan menyiapkan para pengajar Bahasa Arab di desa-desa wisata tersebut.

"Harapan ke depannya yah ada juga kursus Bahasa Arab, eduwisata digital, eduwisata industri kreatif, eduwisata teknologi finansial dan lainnya. Selain juga nanti kita kembangkan kesenian berbasis budaya Adat Sunda," katanya.***

Bagikan: