Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya cerah, 28 ° C

Oknum Anggota Ormas di Bekasi Lakukan Pemerasan Sambil Membawa Golok

Riesty Yusnilaningsih
GELAR perkara kasus pemerasan di Markas Satuan Reserse Kriminal Polrestro Bekasi Kota, Selasa 5 November 2019.*/RIESTY YUSNILANINGSIH/PR
GELAR perkara kasus pemerasan di Markas Satuan Reserse Kriminal Polrestro Bekasi Kota, Selasa 5 November 2019.*/RIESTY YUSNILANINGSIH/PR

BEKASI, (PR).- Seorang oknum anggota ormas (organisasi kemasyarakatan) berinisial MA diamankan Kepolisian Resor Metro Bekasi Kota. MA dilaporkan korban yang mengalami pemerasan dengan amcaman senjata tajam.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polrestro Bekasi Kota Komisaris Arman mengatakan, MA membawa nama ormas yang menaunginya saat mencoba memeras.

"Saya tidak bisa menyebut nama ormasnya karena pelaku ini adalah oknum. Namun ormasnya termasuk yang ikut berunjuk rasa dan videonya viral di media sosial," kata Arman saat gelar perkara di Mapolrestro Bekasi Kota, Selasa 5 November 2019.

Video yang dimaksud memperlihatkan aksi unjuk rasa ormas yang ingin mengelola parkir di seluruh minimarket di Kota Bekasi. Dalam video berdurasi 8 menit itu, terlihat Kepala Badan Pendapatan Daerah Kota Bekasi Aan Suhanda yang menyetujui keinginan ormas mengelola parkir di minimarket.

Video tersebut menyebar melalui aplikasi percakapan media sosial, lengkap dengan narasi yang menyebut bahwa Kota Bekasi mendukung ormas menjadi pemeras pengusaha ritel.

"Sejak aksi unjuk rasa pada video yang terjadi pada 23 Oktober 2019, tidak ada laporan terkait aksi kekerasan. Namun pada Sabtu 2 November 2019, peristiwa ini terjadi," katanya.

Peristiwanya terjadi di depan pertokoan Harapan Baru, Kecamatan Medan Satria. Sekira pukul 22.00, MA yang dalam keadaan mabuk, meminta uang parkir kepada pengunjung toko dengan mengacungkan golok.

"Saat memaksa meminta uang, dia menyebut-nyebut nama ormasnya," kata Arman.

Saat korbannya memberikan uang Rp 150.000, MA menolak karena ingin lebih banyak. Melihat aksi pemerasan yang disertai ancaman senjata tajam, pelapor mencoba melerai, tapi justru membuat MA naik pitam.

"Pelapor dan korban tidak sampai dilukai, tapi pelaku segera kami amankan setelah laporan masuk," katanya.

Terhadap MA, polisi akan menjerat pasal pemerasan dan Undang-Undang darurat atas kepemilikan senjata tajam yang dibawa ke tempat umum.***

Bagikan: