Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya cerah, 29.4 ° C

Dinas Klaim Telah Bertindak, Meski Kondisi Sungai Cilemahabang Tak Kunjung Pulih

Tommi Andryandy
RIPAH (73), berjualan mi ayam di sekitar bantaran Kali Cabang yang tercemar limbah di Desa Sukaraya Kecamatan Karangbahagia Kabupaten Bekasi. Dinas LIngkungan Hidup mengklaim telah menindak perusahaan yang mencemari lingkungan. Namun, faktanya kondisi sungai yang kunjung pulih.*TOMMI ANDRYANDY/PR
RIPAH (73), berjualan mi ayam di sekitar bantaran Kali Cabang yang tercemar limbah di Desa Sukaraya Kecamatan Karangbahagia Kabupaten Bekasi. Dinas LIngkungan Hidup mengklaim telah menindak perusahaan yang mencemari lingkungan. Namun, faktanya kondisi sungai yang kunjung pulih.*TOMMI ANDRYANDY/PR

CIKARANG, (PR).- Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi mengklaim telah melakukan serangkaian tindakan tegas terkait pencemaran yang terjadi di Sungai Cilemahabang. Namun, faktanya, penindakan tersebut tidak membuat kondisi sungai pulih. Sungai tetap tercemar, bau dan menghitam.

Kepala Bidang Penataan dan Penegakkan Hukum Lingkungan pada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi, Arnoko membenarkan adanya pencemaran yang dilakukan oleh sejumlah perusahaan di sekitar aliran sungai Cilemahabang. Maka dari itu, sejumlah perusahaan telah diberikan sanksi hingga penutupan saluran pembuangan.

“Kami sudah ambil tindakan tapi tidak tahu dengan bidang lain. Ada beberapa yang kami tutup saluran pembuangannya, ada yang kami sanksi juga perusahaannya. Tapi pertanyaannya, apakah itu cukup? Jelas tidak. Kalau yang lainnya tidak bergerak ya berarti tidak bisa,” kata Arnoko, Selasa, 5 November 2019.

Diungkapkan Arnoko, penindakkan tersebut merupakan salah satu hasil dari pengambilan sampel air yang kemudian diuji di laboratorium. Namun, diakui dia, belum seluruh perusahaan yang terindikasi mencemari lingkungan telah ditindak.

Soalnya, kewenangan pengujian berada di bidang pengendalian lingkungan. Sedangkan, penindakkan hanya akan dilakukan jika hasil identifikasi yang dilakukan tim dari pengendalian lingkungan telah diterima.

“Kami dari data yang itu kami turun ke lapangan, beri sanksi atau tutup saluran pembuangan. Sedangkan perusahaan lainnya, kami masih menunggu dari bidang lainnya. Pengidentifikasian, penginventarisasi tercemar, siapa yang membuang, perusahaan siapa saja itu menjadi kewenangan pengendalian,” ucap dia.

Sedangkan dari sejumlah penindakkan yang dilakukan, lanjut Arnoko diberikan kepada perusahaan yang membandel. “Tapi ada juga yang bukan perusahaan yang juga membuang. Ini sedang ditelusuri,” ucap dia. Hanya saja, Arnoko tidak bisa menyebutkan jumlah perusahaan yang ditindak.

Menurut dia, penanganan terhadap pencemaran lingkungan tidak hanya dapat dilakukan melalui penindakkan tegas. Lebih dari itu, penanganan harus dilakukan secara menyeluruh. Selain menyisir sungai yang tercemar, harusnya turut disisir pula kelengkapan dokumen tentang lingkungan hidup.

Dalam beberapa kasus, lanjut dia, banyak ditemukan perusahaan yang justru tidak memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Padahal, perusahaan tersebut bergerak di sektor yang menghasilkan limbah berbahaya dan beracun.

“Maka perlu disisir juga kelengkapan dokumennya. Apakah mereka (perusahaan) sudah punya IPAL, atau dipakai tidak IPAL-nya? Jika dipakai, apakah pengolahan limbahnya benar. Bagaimana laporan berkalanya. Ini seharusnya turut ditangani,” kata dia yang mengaku terkadang kesulitan mendapatkan laporan pengolahan limbah. Alhasil, pihaknya pun sulit menindak perusahaan nakal.

Sementara itu, Anggota Dewan Daerah Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jakarta, Adrie Carviandi menyebut pencemaran sungai Cilemahabang merupakan bentuk nyata dari hilangnya fungsi kontrol pemerintah, terutama kepada perusahaan di sekitar sungai.

“IPAL menjadi kunci. Banyak perusahaan yang ternyata tidak memilikinya. Ada yang memiliki tapi penggunaannya tidak sesuai prosedur bahkan tidak digunakan. Nah, dalam beberapa kasus pemerintah malah tidak mengetahui data ini. Apalagi laporan dari perusahaan terkait pengelolaan limbahnya. Ini fungsi kontrol yang hilang. Kalau terus dikontrol, sebenarnya hal ini dapat dicegah,” ucap dia.

Diungkapkan Adrie, dalam beberapa kasus di berbagai daerah di Jabodetabek, rendahnya ketegasan pemerintah terhadap isu lingkungan yang membuat pencemaran makin marak. Padahal di kawasan ini, industri begitu dijadikan sektor perekonomian yang diunggulkan.

“Di sisi lain, setelah ketegasan yang rendah, banyak pula oknum pemerintah yang justru berkongkalikong dengan perusahaan. Ini jangan sampai terjadi juga di Bekasi. Dan jika memang tidak terjadi di Bekasi, harusnya ditindak dong. Karena ini harus ada ketegasan. Itu kuncinya,” ucap dia. 

FOTOUdara proses pengangkatan sampah menggunakan alat berat eskavator oleh petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) di Aliran Kali Jambe, Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Sabtu, 2 November 2019. Menurut petugas DLH proses pengangkatan sampah ditargetkan selesai dalam waktu tiga hari dan dipindahkan ke TPA (tempat Pembuangan Akhir) Burangkeng.*/ANTARA

Tagih hasil uji laboratorium

Sampel air pencemaran sungai Cilemahabang sebelumnya pernah diambil dan sudah diuji di laboratorium. Namun, hingga kini hasil pengujian itu tak kunjung ditindaklanjuti.

 “Jadi waktu bulan Juli kemarin itu ada dari Dinas LH yang datang, dia memantau kondisi sungai dan ambil sampelnya. Tapi enggak tahu sampai sekarang, enggak ada yang datang lagi. Yang ada ini air makin butek aja,” kata Ikbal (32), warga Cikarang Utara Kabupaten Bekasi kepada “PR”, Senin, 4 November 2019.

Pada pengambilan sampel air tersebut, Juli 2019 lalu, Ikbal mengaku menyaksikannya. Hanya saja, sampai saat ini, tidak ada penanganan lebih lanjut soal pencemaran sungai.

Ikbal berharap, Pemerintah Kabupaten Bekasis serius menangani pencemaran sungai, terlebih di sekitar kediamannya. Soalnya, warga sekitar masih sangat bergantung pada air di sungai Cilemahabang.

“Itu buktinya ibu-ibu masih pada nyuci baju di kali, ya berarti ini kali dibutuhin banget. Makanya, cobalah serius ini air malah tambah keruh begini. Harusnya segera ditangani, yang buang limbah dipenjarain, nanggung. Kalau lihat airnya sih, ini limbah pabrik, orang item sama bau,” ujarnya.

Hal serupa dibenarkan Fourm Komunikasi Pemuda Pintu Air Sukaraya. Nur Hidayatullah, selaku ketua forum, mengonfirmasi jika pencemaran sungai sempat ditangani Dinas Lingkungan Hidup. Hanya saja, kelanjutan penanganannya justru tidak diketahui hingga kini.

“Banyak juga warga yang bertanya, kan katanya sudah dicek tapi masih saja belum ada perubahan. Ini juga yang kami pertanyakan pada pemerintah daerah. Mana hasil pengujian itu, mana ini limbah, masih saja bau sama hitam,” ucap dia.

Seperti diketahui, selain sungai yang tertutup sampah, Kabupaten Bekasi pun kini dikenal sebagai daerah yang sungainya tercemar limbah. Salah satu sungai yang tercemar yakni Cilemahabang. Tercatat pencemaran terdapat di tiga kecamatan dan lima desa.

Pencemaran berawal di Desa Jayamukti, Kecamatan Cikarang Pusat; kemudian mengalir ke empat wilayah desa di Kecamatan Cikarang Utara yakni Mekarmukti, Karangharja, Karangasih hingga desa yang pernah dipimpin Bupati Eka Supria Atmaja saat masih menjabat kepala desa yakni Desa Waluya.

Pencemaran kemudian ditemukan di Desa Sukaraya Kecamatan Karangbahagia. Ironisnya, di titik terakhir ini, air sungai masih digunanakan oleh warga sekitar untuk mencuci pakaian meski telah tercemar. Warga mencuci menggunakan air yang telah menghitam dan bau.

“Ya bagaimana tidak ironis, ini sungai sudah bau masih saja dipakai warga karena memang warga juga tidak punya pilihan. Air bersihnya cuma cukup untuk masak dan minum. Kalau dihitung pencemaran sudah lebih dari dua tahun,” ucap Nur yang mengaku sejak lahir tinggal di sekitar Sungai Cilemahabang.

Ditemui terpisah, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi, Peno Suyatno mengklaim bakal menindak tegas pelaku pencemar lingkungan. Namun, dia tidak menjelaskan lebih lanjut soal hasil uji laboratorium air sungai Cilemahabang yang tercemar.

“Pokoknya saya akan babat habis pelaku-pelaku yang mencemari sungai. Seluruh anak buah saya sudah disebar ke perusahaan-perusahaan terkait limbah ini. Intinya akan ditindak,” kata dia, singkat.***

Bagikan: