Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Cerah berawan, 30.1 ° C

Bangunan Rusak, Ruang Kelas SDN Sirnasari Kabupaten Tasikmalaya Ditopang Kayu

Bambang Arifianto
MURID belajar di ruang kelas yang ditopang kayu di Sekolah Dasar Negeri Sirnasari, Kampung Rancapeundeuy, Desa Sirnasari, Kecamatan Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya, Senin 4 November 2019. Bangunan SD tersebut rusak dan membahayakan siswa dan guru.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
MURID belajar di ruang kelas yang ditopang kayu di Sekolah Dasar Negeri Sirnasari, Kampung Rancapeundeuy, Desa Sirnasari, Kecamatan Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya, Senin 4 November 2019. Bangunan SD tersebut rusak dan membahayakan siswa dan guru.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

SINGAPARNA, (PR).- Kondisi mengenaskan bangunan sekolah yang rusak dan mengancam keselamatan para murid terus terjadi di Kabupaten Tasikmalaya. Keadaan tersebut terjadi di Sekolah Dasar Negeri Sirnasari di Kampung Rancapeundeuy, Desa Sirnasari, Kecamatan Sariwangi yang atapnya ditopang kayu lantaran bangunan telah rusak. 

Kerusakan terjadi hampir di seluruh ruang kelas dan guru sekolah tersebut. Sejumlah kusen tampak keropos dengan jendela tanpa kaca. Atap kelas juga ada yang berlubang. Kondisi terparah terlihat di ruang kelas IV yang ditopang beberapa kayu lantaran atapnya telah turun. Sovie, 31 tahun, guru kelas IV mengungkapkan, suasana belajar menjadi tak nyaman lantaran penghuni kelas kerap waswas karena kerusakan ruang kelas. "Khawatir, apalagi sekarang musim hujan," kata Sovie saat ditemui di sekolah itu, Senin 4 November 2019. Sovie risau lantaran kondisi atap atau eternit serta kerangka penyangganya sudah turun. 

Turunnya hujan semakin memperbesar potensi ambruknya atap kelas yang sudah ditopang kayu itu. ‎"Upami musim hujan, gegebegan (kalau musim hujan semakin 'dagdigdug')," ucapnya. Jangankan hujan, eternit  sempat jatuh ketika kemarau masih melanda Kabupaten Tasikmalaya empat bulan lalu. Karuan saja Sovie dan para muridnya yang tengah belajar kaget karena material atap tiba-tiba jatuh. "Untung tidak kena siswa," ujar Sovie. Bangku siswa pun digeser lebih maju guna menghindari kejadian serupa.  Akibatnya area mengajar Sovie di depan kelas semakin sempit.

Tak hanya itu, kerusakan bangunan membuat ruang kelas kerap bocor ketika hujan. Bila sudah begitu, siswa-siswa terpaksa mengepel dulu atau mengeluarkan genangan air dari dalam kelas. Kegiatan belajar pun akhirnya dilakukan dengan lesehan karena bangku dan meja digeser akibat kelas yang bocor. Sovie menambahkan, murid-muridnya juga bisa dipindahkan ke ruang kelas III jika kegiatan belajar sudah tak memungkinkan lagi.

Kelas III pun dibagi menjadi dua ruang belajar dengan dipisah papan tulis sekaligus dua guru berbeda yang mengajar. Kerusakan yang menimpa seluruh bangunan sekolah  membuat ruang kelas IV dan V juga menjadi tempat menampung buku-buku perpustakaan dan alat peraga. Keterbatasan sarana prasarana membuat semangat para murid belajar ikut agak berkurang. Siswa dan guru diliputi kerisauan sebagai imbas tidak laiknya ruang kelas. "Tidak kondusif dalam pembelajaran, waswas juga ditambah sekarang (musim) hujan," tuturnya. Sovie tak habis pikir dengan keadaan tersebut. Di satu sisi, pembelajaran tetap harus berjalan. Tetapi, bangunan sarana prasarana tidak menunjang.

Hal senada dikemukakan guru SD Negeri Sirnasari lainnya, Irwan Sohibul, 40 tahun. Guru kelas V itu mengungkapkan, kerusakan bangunan sudah terjadi sejak tiga tahun lalu. Kerusakan terjadi lantaran bangunan sekolah memang suda tua dan belum mendapat perbaikan berupa renovasi atau rehabilitas. SD Negeri Sirnasari, lanjutnya, berdiri pada sekira 1972 dan sempat berstatus sebagai SD Inpres. Dari seluruh bangunan yang rusak, Irwan paling risau dengan kondisi ruang kelas empat yang sambunga kerangka kayu bagian atapnya telah bergeser. Ia mengatakan, upaya permohonan bantuan telah sering diajukan kepada pemerintah. "Mengajukan (proposal bantuan perbaikan) kurang lebih sudah tiga kali," ujarnya.

BAMBANG ARIFIANTO/PR

Bahkan, pihak UPTD pendidikan Sariwangi pernah datang melihat langsung kondisi sekolah. Namun belum ada langkah nyata guna memperbaiki kerusakan sekola. "Belum turun bantuan ril, baru disurvey," tuturnya. Dalam sistem Dapodik, Irwan mengaku telah memasukan data dan memperbaharuinya sesuai dengan keadaan nyata bangunan yang rusak. Bahkan, kondisi sekolah sempat pula diangkat dalam pemberitaan beberapa media massa. Dari pernyataan Kepala Sekolah Ade Supriadi, lanjut Irwan, sudah ada sinyal positif bakal ada alokasi kucuran bantuan ke sekolahnya tahun ini. Tetapi, Irwan tidak mengetahui bantuan itu berasal dari APBD Kabupaten Tasikmalaya atau langsung pemerintah pusat.

Irwan hanya berharap pemberian bantuan perbaikan sekolah segera bisa mengucur karena keadaan bangunan yang sudah mengkhawatirkan. Ia mencontohkan, gempa bumi yang terjadi belum lama ini dan terasa hingga Tasikmalaya membuat murid dan guru panik. "Cepat-cepat dikeluarkan murid-murid," ujarnya. Jika hujan, Irwan mengatakan, kegiatan belajar mengajar dipindahkan ke luar atau pelataran kelas guna menghindari hal-hal buruk terjadi akibat bangunan sudah tak laik. Ia mengatakan, jumlah total murid  SD Negeri Sirnasari mencapai 139 siswa. Sekolah tersebut menjadi tumpuan tempat bersekolah siswa-siswa dari lima RT di Desa Sirnasari. Beberapa murid ada juga yang berasal dari Cilutung, Desa Linggasirna.

Bangunan sekolah rusak menjadi pemandangan jamak yang terjadi di Kabupaten Tasikmalaya. Dalam catata "PR" terdapat dua SD negeri lain yang rusak dan disangga. Kedua sekolah tersebut yakni SD Negeri 1 Ciawang, Desa Ciawang, Kecamatan Leuwisari dan SD Negeri Pasirhuni 02, Desa Pasirhuni, Kecamatan Ciawi.***

Bagikan: