Pikiran Rakyat
USD Jual 14.004,00 Beli 14.102,00 | Berawan, 25 ° C

Afridza Syach Munandar, Pembalap Berbakat Asal Tasikmalaya Itu Berpulang di Sepang

Bambang Arifianto
AFRIDZA Syach Munandar.*/DOK INSTAGRAM AFRIDZA
AFRIDZA Syach Munandar.*/DOK INSTAGRAM AFRIDZA

PANGGILAN video diterima Ersa Mayasriwenda, 45 tahun pada Sabtu, 2 November 2019, pukul 06.30 WIB. Sang anak, Afridza Syach Munandar, 20 tahun meminta restu sebelum balapan di Sirkuit Sepang Malaysia.

"Assallamualaikum bu, kakak sekarang balapan race 1, mohon doa dan dukungannya," tutur Irwan Munandar, ayahanda Afridza menirukan ucapan putranya sulungnya tersebut saat ditemui "PR" di kediamannya‎ Perum Tamansari Indah D 9, Kelurahan Kersamenak, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, Minggu, 3 November 2019.

Tak dinyana, panggilan tersebut merupakan kontak terakhir pembalap asal Kota Tasikmalaya tersebut dengan keluarganya. Afridza meninggal setelah mengalami insiden di sirkuit saat mengikuti kejuaraan ‎Idemitsu Asia Talent Cup 2019.‎

Irwan menyebut anaknya terlihat sedikit lemas dan capek. Irwan mafhum jadwal putranya sangat padat. Dalam sebulan, ia bisa mengikuti empat kali kejuaraan.  Kendati begitu, Afridza terlihat bersemangat.

Ya, pembalap tersebut memang berpeluang menjadi juara dalam balapan tersebut. Pada beberapa serie sebelumnya, Afridza sempat menduduki peringkat 5, 3, 2 dan 1 di Qatar, Thailand dan Malaysia.  Pada kejuaraan yang sama di 2018, ia pun meraih peringkat kedelapan.

Nasib berbicara lain ketika pemuda kelahiran Kota Tasikmalaya pada 13 Agustus 1999‎ menghembuskan napas terakhirnya selepas mengalami kecelakaan di awal start. Irwan tampak tegar kendati raut sedih dan kuyu memancar dari wajahnya. Sementara itu, Ersa tak kuasa mencucurkan air matanya saat menerima kedatangan sejumlah pelayat ke kediamannya. Pembalap berbakat itu dikenal santun dan rajin beribadah.

Setiap akan mengikuti kejuaraan, Afridza tak pernah alpa meminta doa restu seluruh keluarganya. "Sudah kebiasaan mau balapan di dalam mau pun luar negeri," ucap Irwan.

Selain itu, Afridza sangat berdisiplin latihan guna menempa kemampuannya. Jika sedang tak mengasah kemampuan balapnya, Afridza rajin berolahraga. Hari-harinya dihabiskan dengan bersepeda, renang dan berlatih di pusat kebugaran. Sebagai pembalap, ia tahu betul tubuh yang sehat dan prima menjadi modalnya berlaga dalam berbagai kejuaraan.

Namun di balik kemampuannya memacu kendaraan, Afridza ternyata sosok yang pendiam. Ia memutuskan terjun di dunia balap profesional sejak duduk di kelas satu SMP. Kemampuannya ditempa dengan berlatih di Sirkuit Bukit Peusar Tasikmalaya di bawah bimbingan Bayu Aditya, kerabatnya. Hingga akhirnya, Afridza masuk tim balap Kuya Nyuruntul dari Bandung. Hidupnya memang tak bisa dilepaskan dari dunia balap. 

Terlahir dari keluarga pembalap, Afridza kecil sudah mendapat hadiah berupa sepeda motor mini GP selepas sunat. Saat itu usianya enam tahun. Duduk di kelas satu SD, ia mulai belajar motor cross dari kakeknya, Andi Suryana, pembalap senior Tasikmalaya. Olah raga lain berupa renang, badminton hingga sepak bola juga dilakoninya. Tetapi, dunia balap sepeda motor menjadi jalan hidupnya.

Berbagai prestasi disabetnya seperti Juara Umum MP 5 dan MP 6 Kejurda Jabar. Perjalanan berlanjut setelah Afridza dikontrak tiga tahu oleh Sandi Agung Racing Tim Bandung, kemudian Astra Honda Racing Tim (ART) di Yogyakarta. Bahkan, lanjut Irwan, Afridza sempat meraih medali perak dalam PON Jabar 2016 yang berlangsung di Bukit Peusar. Prestasi itu membawanya menapak di kejuaraan yang lebih tinggi tingkat Asia dalam Idemitsu Asia Talent Cup (ATC) 2018 dan 2019.

Berlaga dalam kejuaraa tersebut tak sembarangan lantaran mesti lolos terlebih dahulu dalam seleksi.‎ "Dari 120 pembalap diseleksi di Sepang dan Bali," ujar Irwan.

Afridza masuk lima besar terbaik se-Indonesia dan mewakili negaranya dalam ajang ajang ATC. Bakatnya yang besar membuatnya diproyeksikan berlaga di di Moto 3 Eropa.

Kini, sang pembalap tersebut telah berpulang. Akan tetap semangatnya tetap abadi dan menginspirasi generasi-generasi muda lainnya untuk mengharuskan nama bangsa.

Irwan memperkirakan jasad putranya akan tiba ke rumah duka, Minggu atau Senin, 3-4 November 2019. "Akan dimakamkan di makam keluarga di samping kakeknya di Sambongbencoy," ucapnya.***

Bagikan: