Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Cerah berawan, 30.1 ° C

3.000 Pria di Kota Banjar Tidak Bisa Memiliki Keturunan

Tim Pikiran Rakyat
WALI KOTA Banjar, Hj. Ade Uu Sukaesih menguji lansia membaca setelah menyerahkan 100 kacamata secara simbolis pada acara Pelayanan KB Terintegrasi Wilayah Perbatasan Jabar dan Jateng di alun-alun Langensari, Senin 28 Oktober 2019.*/DEDE IWAN/KABAR PRIANGAN
WALI KOTA Banjar, Hj. Ade Uu Sukaesih menguji lansia membaca setelah menyerahkan 100 kacamata secara simbolis pada acara Pelayanan KB Terintegrasi Wilayah Perbatasan Jabar dan Jateng di alun-alun Langensari, Senin 28 Oktober 2019.*/DEDE IWAN/KABAR PRIANGAN

BANJAR,(PR).- Sebanyak 3.000 orang pria Kota Banjar dipastikan tidak bisa memiliki keturunan lagi. Hal itu terjadi setelah mereka menjalani operasi vaksetomi atau metode operasi pria (MOP) untuk mendukung program pengendalian anak (keluarga berencana). Walau begitu, pria yang sudah divaksetomi tetap bisa menjalankan aktivitas seksnya.

Keberhasilan pengendalian penduduk ini, kata Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jabar, Sukaryo Teguh Santoso, menjadikan Kota Banjar meraih penghargaan tingkat nasional. Selain kaum perempuan, ternyata dukungan dari kaum pria cukup tinggi, dengan dibuktikannya makin banyak bapak-bapak yang menjalani vaksetomi.

Menurutnya, keberhasilan program Kampung KB Kota Banjar sudah dipelopori tahun 2010. Kondisi ini menjadi cikal bakal penelitian daerah lain di Indonesia.

"Banyak kab/kota di Indonesia yang studi banding ke Kota Banjar. Mungkin di Indonesia, hanya Kota Banjar yang memiliki Perda tentang Pengelolaan Perkembangan Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga selama ini," ujar Sukaryo, Senin 28 Oktober 2019.

Dijelaskan dia, program KB itu sebagai upaya pengendalian penduduk di Jabar, Indonesia umumnya. Di antaranya, menggunakan alat kontrasepsi MOP.

"Keluarga kecil adalah keluarga bahagia. Kami berharap juara lahir batin di Jabar selama ini, bukan hanya seremonial saja," ujarnya.  

Proses panjang

Wali Kota Banjar, Hj. Ade Uu Sukaesih mengakui, proses pencarian akseptor MOP Kota Banjar diperlukan proses yang panjang. Misal, saat melakukan pendekatan kepada keluarga yang mempunyai 4 anak. Mereka diberi penjelasan pengatuan KB bisa lewat vaksetomi.

"MOP Kota Banjar sampai tahun 2019 ini berjumlah 3.000 akseptor KB Pria. Program ini sebagai upaya membentuk ketahanan keluarga yang berkualitas," ujar Hj Ade seraya menjelakan, penghargaan yang diraih selama ini bukanlah tujuan. Tetapi, itu sebagai hasil dari terobosan pengendalian penduduk di Kota Banjar. 

Lebih lanjut dia mengklaim di Kota Banjar selama ini tidak ada bayi yang stunting, mengalami permasalahan kekurangan gizi atau gizi buruk.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Dan Keluarga Berencana Daerah Kota Banjar, Hj. Suryamah, mengatakan tingkat partisipasi masyarakat Kota Banjar terhadap program KB tergolong tinggi selama ini. 

Menurutnya, program Kependudukan Keluarga dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) yang digelar sekarang ini sebagai bentuk merealisasikan Nawacita ke-3. 

Yaitu, membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui pembentukan kampung KB.

" Mobil Penerangan KB se-Jabar road show keliling Jabar, start dari Alun-alun Banjar untuk menyosialisasikan cegah stunting. Dengan harapan semua bayi tumbuh sehat," ujarnya kepada wartawan Kabar Priangan, Dede Iwan.***

Bagikan: