Pikiran Rakyat
USD Jual 14.024,00 Beli 14.122,00 | Umumnya berawan, 26.1 ° C

Kejuaraan Dunia Paralayang 2019, Hari Pertama Terkendala Cuaca

Adang Jukardi
SEJUMLAH atlet paralayang menjalani babak kualifikasi kategori akurasi pada "West Java Paragliding World Championship" di Bukit Toga, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Rabu, 23 Oktober 2019. Kejuaraan paralayang internasional tersebut diikuti oleh 160 peserta dari 21 negara di berbagai belahan dunia.*/ANTARA
SEJUMLAH atlet paralayang menjalani babak kualifikasi kategori akurasi pada "West Java Paragliding World Championship" di Bukit Toga, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Rabu, 23 Oktober 2019. Kejuaraan paralayang internasional tersebut diikuti oleh 160 peserta dari 21 negara di berbagai belahan dunia.*/ANTARA

SUMEDANG, (PR).- Hari pertama pertandingan kejuaraan dunia Paralayang bertajuk “West Java Paragliding World Championship and Culture Festival 2019”, Rabu, 23 Oktober 2019, terkendala kondisi angin yang terlalu kencang, bahkan terkadang berubah-ubah. Hal itu membuat panitia mempercepat jadwal take off (lepas landas) para pilot (penerbang).

“Memang hari pertama pertandingan, anginnya terlalu kencang terutama di venue Kampung Toga sehingga jadwal take off-nya  dimajukan. Dari biasanya pukul 11.00 dimulai, tadi pukul 9.00  para pilot sudah dimulai take off. Pukul 13.00-14.00, semua penerbang sudah selesai take off. Sebab memang, pelaksanaan pertandingan Paralayang ini sangat tergantung pada cuaca, kondisi angin dan suhu udara,” kata Wakil Ketua Panitia “West Java Paragliding World Championship and Culture Festival 2019”, Rahmat Juliadi yang juga Ketua FASI (Federasi Aero Sport Indonesia) Kabupaten Sumedang dihubungi di Sumedang, Rabu, 23 Oktober 2019.

Menurut dia, meski hari pertama lomba terkendala cuaca, tapi semua pilot bisa lepas landas di dua venue. Yakni di Kampung Toga untuk kelas ketepatan mendarat dan di Batudua untuk kelas lintas alam.

Para pilot yang berlaga di dua kelas itu, semuanya landing (mendarat) di sawah lega di bawah venue Kampung Toga. Secara umum, hari pertama pertandingan berlangsung sukses dan lancar, walaupun ada seorang pilot yang terjatuh saat mendarat di kelas ketepatan mendarat. “Ya memang ada yang terjatuh, tapi tidak mengalami cedera berat sehingga tidak perlu dirawat di rumah sakit,” kata Rahmat.

SEORANG atlet paralayang menjalani babak kualifikasi kategori akurasi pada "West Java Paragliding World Championship" di Bukit Toga, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Rabu, 23 Oktober 2019. Kejuaraan paralayang internasional tersebut diikuti oleh 160 peserta dari 21 negara di berbagai belahan dunia.*/ANTARA

Ia mengatakan, pada ajang tersebut, dipertandingkan dua kelas yakni kelas ketepatan mendarat dan lintas alam. Masing-masing kelas, dibagi menjadi dua nomor yakni nomor perorangan dan beregu. Untuk kategori perorangan, dibagi lagi menjadi nomor perorangan pria dan wanita. Pesertanya sebanyak 160 orang dari 21 negara, masing-masing untuk kelas ketepatan mendarat sebanyak 60 orang dan lintas alam 100 orang.

“Pada pengumuman awal, para pemenang pada semua kategori  akan mendapatkan hadiah. Juara pertama sampai ketiga masing-masing akan mendapatkan hadiah medali dan uang tunai  USD 1.000, USD 750 dan USD 500,” katanya.

Di tempat terpisah, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir pada jumpa pers di media center kantor Induk Pusat Pemerintahan (IPP) Pemkab Sumedang mengatakan, pada penyelenggaraan “West Java Paragliding World Championship and Culture Festival 2019” ada 4 sukses yang ingin dicapai. Pertama, sukses penyelenggaraan. Kedua, sukses ekonomi yakni dengan event tersebut diharapkan bisa menggerakan perekonomian serta meningkatkan  pendapatan masyarakat, termasuk pendapatan daerah.

Ketiga, sukses  pariwisata dan olah raga. Diharapkan, olah raga paralayang semakin diminati dan terus berkembang sehingga Sumedang menjadi  surganya paralayang. “Ingat paralayang, ingat Sumedang,” tuturnya.

Dengan ajang paralayang itu, kata dia, bisa menggerakan sektor pariwisata di Kabupaten Sumedang. Banyak objek wisata di Kabupaten Sumedang, seperti Tahura Gunung Kunci, Kampung Karuhun dan  Curug Cigorobog yang ada di wilayah kota Sumedang.  Ada pula Cipanas Sekarwangi di Conggeang dan beberapa objek wisata di kawasan Bendungan Jatigede. “Beberapa objek wisata ini harus tersampaikan kepada para pilot paralayang dan wisatawan,” tutur Dony.

Keempat, sukses administrasi. Semua pengadministrasian pada penyelenggaraan event tersebut, harus dilakukan secara tertib administrasi dan akuntabel karena harus dipertanggungjawabkan. “Jadi, administrasinya harus clear and clean,” katanya.***

Bagikan: