Pikiran Rakyat
USD Jual 14.012,00 Beli 14.110,00 | Sedikit awan, 23.4 ° C

Fogging Tak Lagi Efektif Cegah Demam Berdarah

Riesty Yusnilaningsih
PETUGAS Dinas Kesehatan melakukan pengasapan (fogging).*/ANTARA
PETUGAS Dinas Kesehatan melakukan pengasapan (fogging).*/ANTARA

BEKASI, (PR).- Dinas Kesehatan Kota Bekasi menghindari kegiatan fogging sebagai upaya memberantas sarang nyamuk. Dewasa ini, fogging dinilai kurang efektif mengantisipasi wabah Demam Berdarah Dengue (DBD).

"Langkah pencegahan yang paling efektif justru sebenarnya mudah dilakukan, yakni menjaga kebersihan lingkungan sekitar rumah. Keberadaan satu rumah satu jumantik harus kembali digencarkan," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Bekasi Dezi Syukrawati, Rabu, 23 Oktober 2019.
 
Dezi menjelaskan, fogging yang sering kali dipilih masyarakat sebagai upaya menghalau merebaknya wabah DBD sering kali dilakukan sembarangan. Pelaksanaan fogging yang salah ini yang membuat hasilnya pun tidak efektif.

Fogging kalau dilakukan dengan cara yang tidak benar, semisal mencampur obat insektisida yang tidak pas, justru akan membuat nyamuk kebal,” katanya. 

Selain itu, ada waktu-waktu tertentu yang boleh diperbolehkan melakukan fogging. Dengan demikian, obat yang disemprotkan ke lingkungan sekitar tepat sasaran.

Fogging bisa efektif bila dilakukan sebelum pukul 11.00 dan setelah pukul 16.30. Sebab saat itu nyamuk masih bertebaran di sekitar manusia.  

“Kalau fogging dilakukan di luar jam tersebut, nyamuknya nyamuknya tidak ada. Lalu pencampuran dosis obat juga belum tentu benar. Maka kami harus menanggulanginya agar warga tidak asal-asalan melakukan fogging,” ucapnya. 

Berdasarkan data yang diperoleh, jumlah penderita DBD di Kota Bekasi sudah mencapai 610 kasus. Dari jumlah itu, pada Januari terjadi 75 kasus, kemudian sebanyak 53 kasus terjadi pada Februari, lalu melonjak pada Maret hingga mencapai 200 kasus. Pada bulan April, turun menjadi 152 kasus. Lalu kembali turun menjadi 130 kasus pada Mei.

“Data terakhir sudah turun bahkan hingga 70 persennya, tapi angka pastinya saya tidak hapal,” katanya. 

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi Tanti Rohilawati menambahkan, pihaknya juga sudah meminta rumah sakit swasta agar selalu intens melaporkan situasi. Salah satunya, terkait laporan kasus DBD yang baru saja terindikasi maupun yang sudah positif.

“Kami juga berusaha komunikasi ke semua rumah sakit swasta agar kasus DBD ini bisa terlaporkan 1X24 jam, sehingga pemetaan dan pencegahan di lapangan bisa lebih mudah dilakukan,” ucapnya.***

Bagikan: