Pikiran Rakyat
USD Jual 14.039,00 Beli 14.137,00 | Hujan petir singkat, 22 ° C

Sungai Cimulu Kota Tasikmalaya Penuh Eceng Gondok, Serangan Nyamuk Mengusik Warga

Bambang Arifianto
ECENG gondok memenuhi Sungai Cimulu di wilayah Kelurahan Tawangsari, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, Minggu, 20 Oktober 2019. Menyusut sungai di musim kemarau dan kualitas air yang kotor membuat eceng gondok tumbuh subur di Cimulu.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
ECENG gondok memenuhi Sungai Cimulu di wilayah Kelurahan Tawangsari, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, Minggu, 20 Oktober 2019. Menyusut sungai di musim kemarau dan kualitas air yang kotor membuat eceng gondok tumbuh subur di Cimulu.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

TASIKMALAYA, (PR).- Kondisi Sungai Cimulu, Kota Tasikmalaya semakin memprihatinkan. Tak hanya sampah, sungai yang terjepit deretan pemukiman warga tersebut dipenuhi eceng gondok.

Keberadaan eceng gondok terlihat di wilayah Kelurahan Tawangsari, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya. Pengendara yang melintas dari Jalan Dokter Soekardjo menuju Simpang Lima bisa menyaksikan langsung hamparan eceng gondok di bawah jembatan kecil ruas jalan tersebut.

"PR" menyusuri Cimulu dari Kampung Tawangsari hingga Tawangkulon 2, Minggu, 20 Oktober 2019. Di sepanjang sungai tersebut, permukaan air nyaris tertutup seluruhnya oleh tumbuhan gulma itu. 

Cimulu di kawasan tersebut seperti padang rumput hijau memanjang yang diapit deretan pemukiman yang berdesakan. Aang Wahyu (51), warga KampungTawangkulon 2 menuturkan, kehadiran eceng gondok yang menutupi Cimulu telah berlangsung sejak kemarau melanda Kota Tasikmalaya di tahun ini. Sejak puasa sekitar 6 bulan lalu, eceng gondok terus memenuhi Cimulu.

Upaya pembersihan pernah dilakukan warga untuk menyingkirkannya. Namun, upaya tersebut tak berhasil lantaran eceng gondok tumbuh dengan cepat. Selain itu, menyusutnya debit Cimulu karena kemarau ikut andil terhadap tumbuh suburnya eceng gondok.

Tumbuhan gulma itu tak terseret arus air yang terus melorot sehingga akhirnya berkembang biak dan bertambah di lokasi tersebut. Aang memperkirakan, panjangnya hamparan eceng gondok yang memenuhi Cimulu mencapai 100 meter. Makin ke hulu, tumbuhan gulma tersebut juga masih bisa ditemukan namun tak serapat dan sebanyak di kawasan tempat tinggalnya.

Aang juga mengeluhkan bau dan banyaknya nyamuk setelah kehadiran eceng gondok. Ia berharap, pemerintah turun tangan membersihkan tumbuhan gulma itu. "Inginnya dibersihkan sebelum ada hujan," ucap Aang di Tawangkulon 2, Minggu siang.

Ia khawatir banyaknya tumbuhan yang hidupnya mengapung di atas air tersebut justru menghambat arus sungai di musim hujan. Akibatnya, aliran sungai justru meluber dan membanjiri rumah warga. Apalagi, kondisi Cimulu pun sudah terbilang dangkal. 

Hal senada dikemukakan Sandi (38), warga Tawasangsari. Sandi yang kediamannya berada di tepi Cimulu menyebut perkembangan eceng gondok begitu cepat. "Tahu-tahu sudah banyak saja," ucapnya.

Awalnya, eceng gondong tidak langsung menutup permukaan Cimulu. Namun lambat laun, permukaan air sudah tak terlihat lagi karena cepatnya pertumbuhan tumbuhan gulma tersebut. Keadaan itu memang terjadi di setiap musim kemarau yang berlangsung panjang.

Sebagaimana Aang, Sandi juga mengeluhkan bau dan nyamuk yang mengganggu warga di bantaran Cimulu. Bau dari sungai dirasakan Sandi pada siang dan malam hari. Sedangkan nyamuk mulai bermunculan selepas Magrib hingga malam hari.

Menurut dia, Cimulu tempo dulu masih bersih dan kerap dipakai berenang anak-anak. Saat itu, Sandi masih berstatus pelajar SMP. Hampir setiap hari, anak-anak di tempat tinggalnya berenang di sungai itu. Kawasan tepi Cimulu pun masih dipenuhi kebun warga.

Kini, pemandangan asri tersebut sudah lenyap. Bantaran Cimulu saat ini dipenuhi rumah atau bangunan-bangunan milik warga. Sungai semakin dangkal serta menjadi lokasi pembuangan limbah rumah tangga.

Jika di wilayah Tawangsari eceng gondok memenuhi sungai, makin ke arah  hulu justru sampah yang cukup mendominasi Cimulu. Hal tu terlihat di area jembatan yang berada di pertengahan arah Jalan Galunggung dan Kapten Naseh. Sampah terlihat bertebaran di sekitar sungai di bawah jembatan itu. Pada Kamis, 5 September 2019, "PR" sempat pula turun dan menelusuri Cimulu di lokasi yang berada di wilayah Kelurahan Panglayungan, Kecamatan Cipedes.‎ 

Di lokasi itu, terdapat pintu irigasi yang membagi aliran Cimulu ke sungai utama dan selokan. Permukaan air nyaris tak mengalir atau hanya menggenang. Tumpukan sampah memenuhi genangan air berwarna kehitaman plus berbau itu. 
Amin (70), warga Jalan Kapten Naseh, Kelurahan Panglayungan, Kecamatan Cipedes menuturkan, sampah-sampah bermunculan setelah kemarau melanda Kota Tasikmalaya. "Teu paralid (sampah tak terbawa aliran air)," kata Amin di lokasi tersebut saat itu. Lebih dari satu bulan kemudian, "PR" mendapati kondisi yang tak jauh berbeda.***

Bagikan: