Pikiran Rakyat
USD Jual 14.027,00 Beli 14.125,00 | Cerah berawan, 28.6 ° C

Asa Wayang Golek di Pantai Selatan

Retno Heriyanto
PERGELARAN seni Wayang Golek dengan dalang Ki Dede Rohidin dari Padepokan Purabaya, Kec. Pangandaran, dibawakan sangat apik dan menarik di Panggung Pondok Seni UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat di Pantai Pangandaran, Sabtu, 19 Oktober 2019 dini hari.*/RETNO HERIYANTO/PR
PERGELARAN seni Wayang Golek dengan dalang Ki Dede Rohidin dari Padepokan Purabaya, Kec. Pangandaran, dibawakan sangat apik dan menarik di Panggung Pondok Seni UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat di Pantai Pangandaran, Sabtu, 19 Oktober 2019 dini hari.*/RETNO HERIYANTO/PR

ALKISAH Prabu Banjarpati raja Banjar Kancana tengah berkumpul bersama Dewi Banjarwati dan Banjar Segara, kedua adiknya, serta para patih dan beberapa orang kepercayaannya. Musibah sedang terus terjadi di wilayah kerajaan Banjar Kancana, sehingga menjadi permasalahan.

Musibah dapat lenyap dari kerajaan Banjar Kancana bila darah Putra Pandawa ke dua, Bima, menetes di Banjar Kancana. Tapi hal tersebut tidak mungkin terjadi, karena tubuh Bima, dari mulai ujung rambut sampai ujung kaki, tidak mempan oleh senjata apa pun. Hanya senjata Layang Jamuskalimusada yang ada dalam genggaman Prabu Yudistira, yang mampu melukainya.

Berkat ilmunya, Aji Malih Warna mengubah wujud tubuh Banjar Segara menjadi wujud Batara Kresna. Kepada Prabu Yudistira,  Batara Kresna jejadian meminjam Layang Jamuskalimusada dengan alasan untuk pengobatan. Tanpa curiga,  Yudistira langsung memberikan Layang Jamuskalimusada.

Kegemparan terjadi sesaat berselang kepergian Batara Kresna jejadian pergi. Tidak lama kemudian, Batara Prabu Kresna asli datang menghadap Yudistira mempertanyakan maksud dan tujuan kepergian Raden Arjuna. Prabu Kresna merasa bingung karena Batara Kresna baru saja pergi. 

Dengan menggunakan ajian Gambar Lopian, Batara Kresna mengetahui kalau Banjar Segara sudah menjadi dirinya. Karena itu, dibantu Gatotkaca, Batara Kresna pergi ke kerajaan Banjar Kancana mendahului Banjar Segara, dengan menggunakan Aji Malih Warna yang berubah menjadi Dewi Banjarwati, kakak Banjar Segara. Senjata  Layang Jamuskalimusada kembali ke tangan Prabu Yudistira.

Itu adalah sekelumit pergelaran seni wayang golek dengan dalang Ki Dede Rohidin dari Padepokan Purabaya, Kecamatan Pangandaran. Dalang membawakan cerita itu dengan sangat apik dan menarik, di Panggung Pondok Seni UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat di Pantai Pangandaran, Jumat 18 Oktober 2019 malam hingga Sabtu 19 Oktober 2019 dini hari.

Diselingi bodoran para punakawan Cepot, Dawala, dan Gareng, cerita Tirta Wanara Suta penuh dengan gelak tawa.

Bukan sekadar hiburan

Kepala Seksi Atraksi Seni dan Budaya UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat, Iwan Gunawan, mengatakan bahwa pergelaran seni wayang golek di wilayah Pantai Selatan, khususnya wilayah Pangandaran, bukan hanya sekedar hiburan semata.

Pemangku hajat ataupun masyarakat yang menggelar kesenian wayang golek adalah mereka yang memiliki maksud tertentu. Pegelaran wayang golek dimaksudkan untuk sebuah niat baik berupa hajat lembur, hajat desa ataupun niatan besar lainnya,” tutur Iwan.

PERGELARAN seni Wayang Golek dengan dalang Ki Dede Rohidin dari Padepokan Purabaya, Kec. Pangandaran, dibawakan sangat apik dan menarik di Panggung Pondok Seni UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat di Pantai Pangandaran, Sabtu, 19 Oktober 2019 dini hari.*/RETNO HERIYANTO/PR

Kondisi tersebut menjadikan kesenian wayang golek di wilayah Jawa Barat selatan kurang berkembang. Disamping itu, untuk menanggap grup wayang golek, membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sehingga banyak warga yang memiliki niat syukuran atau hajat mengurungkan diri menanggap wayang golek karena tidak memiliki uang.

“Karenanya, kami dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat melalui UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat, memberikan kesempatan pada para dalang ataupun grup kesenian wayang golek, wayang kulit, wayang suket dan lainnya untuk menjadikan Panggung Pondok Seni sebagai ajang unjuk kabisa.  Selain itu, panggung ini juga dapat dijadikan ajang untuk meningkatkan kualitas kekaryaan,” ujar Iwan.

Saat ini, menurut Iwan, Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Barat melalui UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat tengah menggenjot Pondok Seni Pangandaran sebagai show window Jawa Barat yang mendukung Pangandaran sebagai destinasi wisata budaya dunia. 

Sejak digulirkan pada Juni 2019 lalu, setiap Sabtu, kelompok seni Ronggeng Gunung, Ronggeng Amen, dan Ronggeng Ketuk yang merupakan kesenian tradisional khas Kabupaten Pangandaran, tampil  secara bergantian.

Namun belakangan, kesenian tradisional lainnya juga meminta untuk tampil sehingga Panggung Pondok Seni digunakan pada hari Jumat dan Minggu.

“Bahkan yang tampil bukan hanya dari Kabupaten Pangandaran saja, tapi juga dari kabupaten lainya, seperti Ciamis, Banjar, Tasikmalaya, bahkan dari Bandung dan Bekasi,” ujar Iwan.

Dia berharap, seni budaya tradisional yang ditampilkan di Pondok Seni Pangandaran mampu tumbuh subur.***

Bagikan: