Pikiran Rakyat
USD Jual 14.027,00 Beli 14.125,00 | Cerah berawan, 27.8 ° C

Selamatkan Bangunan-Bangunan Bersejarah Kota Tasikmalaya

Bambang Arifianto
PENGENDARA melintas bangunan tempo dulu Penginapan Sunda di Jalan Tarumanagara, Kota Tasikmalaya, Jumat, 18 Oktober 2019. Keberadaan bangunan-bangunan bersejarah di Kota Tasikmalaya harus segera diselamatkan karena rentan rusak dan hilang.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
PENGENDARA melintas bangunan tempo dulu Penginapan Sunda di Jalan Tarumanagara, Kota Tasikmalaya, Jumat, 18 Oktober 2019. Keberadaan bangunan-bangunan bersejarah di Kota Tasikmalaya harus segera diselamatkan karena rentan rusak dan hilang.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

TASIKMALAYA, (PR).- Sejumlah bangunan bersejarah Kota Tasikmalaya terancam lenyap karena persoalan status kepemilikan dan belum adanya penetapan sebagai cagar budaya. Untuk itu, upaya penyelamatan harus segera dilakukan agar jejak lawas itu tetap bertahan dan terpelihara.

Hingga kini, upaya penyelamatan Pemerintah Kota Tasikmalaya masih sebatas pendataan dan pendaftaran obyek cagar budaya di wilayahnya dalam sistem registrasi nasional cagar budaya di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kepala Seksi Budaya Sejarah dan Nilai Tradisi Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tasikmalaya Andri Candiaman menyatakan, terdapat 65 obyek cagar budaya yang telah terdata dan teregistrasi. Pendataan telah berlangsung sejak 2018 dan 2019. Obyek sarat nilai sejarah itu berupa permakaman, bangunan tua, tugu hingga situs sejarah kuno. 

Namun, keberadaan obyek itu masih rentan mengalami kerusakan atau tak terlindungi undang-undang lantaran belum ditetapkan sebagai benda cagar budaya. Soalnya, penetapan perlu penelitian terlebih dahulu oleh tim ahli cagar budaya daerah. Kota Tasikmalaya pun belum memiliki tim tersebut kendati telah mengusulkannya ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Keberadaan tim ahli penting karena hasil kajiannya menjadi rujukan pimpinan daerah seperti bupati atau wali kota mengeluarkan surat keputusan (SK) penetapannya obyek sejarah di wilayahnya sebagai cagar budaya. 

Tak ayal, sejumlah bangunan rawan lenyap atau rusak karena persoalan tersebut. "Dari pengamatan kami yang memang rentan tidak bisa terselamatkan, terlindungi kalau berstatus milik pribadi atau masyarakat," kata Andri di Kantor Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tasikmalaya, Jumat, 18 Oktober 2019.

Pemkot pun tak bisa berbuat apa-apa ketika pemilik bangunan menjual atau mewariskan bangunan. Andri mengungkapkan, beberapa bangunan-bangunan tua Kota Tasikmalaya yang rawan lenyap tersebut berupa rumah tinggal warga. Beberapa rumah tua itu bisa ditemui di Jalan Dewi Sartika atau Raden Ikik Wiradikarta. 

Di Jalan Tarumagara juga berdiri Penginapan Sunda yang disebut pernah menjadi tempat menginap Wakil Presiden pertama Mohammad Hatta saat berkunjung ke Tasikmalaya. Penginapan tersebut memang berstatus milik pribadi atau perorangan. Banguanan-bangunan tempo dulu lain malah ada yang berakhir menyedihkan. Andri menunjuk gedung eks pemerintahan kota administratif (Kotif) Tasikmalaya yang letaknya tepat di depan Kantor ‎Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tasikmalaya. 

Gedung yang juga sempat digunakan untuk urusan perbankan itu kini lenyap. Sebagai gantinya, berdiri bangunan lain yang tengah dalam pengerjaan.  Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tasikmalaya Hadian menambahkan, gedung kotif itu sudah bukan milik pemerintah setelah dilakukan tukar guling. "Konon katanya, (gedung) Kotif terlalu kecil ditukar guling dengan lahan di Bale Wiwitan," ucapnya. Sekarang, Bale Wiwitan yang berada di Jalan Nonoeng Tisnasaputra menjadi kompleks kantor dinas  masing-masing untu PUPR, lingkungan hidup, dan perumahan dan kawasan permukiman.

Tak hanya terganjal status milik pribadi, penyelamatan bangunan-bangunan bersejarah pun terbentur minimnya dana. Di sisi lain, Pemkot Tasikmalaya memiliki tanggung jawab menyediakan bantuan tempat tinggal laik melalui program Rutilahu yang tentu pula memerlukan dana. Untuk itu, upaya penyelamatan yang masih bisa dilakukan berupa pendataan terlebih dahulu.

"Terus kita akan sosialisasikan (pentingnya menjaga bangunan bersejarah)," ucapnya. Seharusnya, lanjut Hadian, para pemilik bangunan bersejarah mestinya mendapat pembebasan dari beban pajak agar mau memelihara dan menjaga aset penting itu. 

Hadian menegaskan, kelestarian bangunan bersejarah penting bagi Kota Tasikmalaya. Soalnya, bangunan-bangunan tersebut menjadi jejak sejarah kota di masa lalu. Tanpa kehadirannya, sejarah lama pertumbuhan hanya sekadar cerita tanpa bukti bangunan tersisa.

Dari sudut pariwasata, aset bersejarah berpotensi dikembangkan sebagai destinasi pelancong sebagaimana kota tua di Jakarta dan Semarang. Dari catatan "PR" Kota Tasikmalaya telah kehilangan bangunan bersejarahnya sejak saat masih menjadi bagian dari Kabupaten Tasikmalaya. Beberapa jejak lama yang lenyap itu adalah kolam renang Gunung Singa di Jalan Tarumanegara, Markas Batalyon Peta di Jalan Veteran.***

Bagikan: