Pikiran Rakyat
USD Jual 14.039,00 Beli 14.137,00 | Umumnya berawan, 23.1 ° C

Unsur Sianida Ditemukan di Uji Laboratorium Pencemaran Sungai Cilamaya

Ecep Sukirman
PETUGAS gabungan Dinas Lingkungan Hidup dan Kepolisian Daerah Jawa Barat memeriksa limbah di salah satu pabrik wilayah Kabupaten Purwakarta, Jumat, 11 Oktober 2019 dini hari. Pemeriksaan dalam inspeksi mendadak itu sebagai tahap awal penanganan pencemaran Sungai Cilamaya oleh Pemerintah Provinsi.*/HILMI ABDUL HALIM/PR
PETUGAS gabungan Dinas Lingkungan Hidup dan Kepolisian Daerah Jawa Barat memeriksa limbah di salah satu pabrik wilayah Kabupaten Purwakarta, Jumat, 11 Oktober 2019 dini hari. Pemeriksaan dalam inspeksi mendadak itu sebagai tahap awal penanganan pencemaran Sungai Cilamaya oleh Pemerintah Provinsi.*/HILMI ABDUL HALIM/PR

BANDUNG, (PR).- Hasil uji laboratorium pencemaran di Sungai Cilamaya menunjukkan adanya bahaya yang mengancam lingkungan juga kesehatan masyarakat. Salah satunya, ada kandungan unsur sianida yang cukup berbahaya. Meski demikian, disebutkan juga ada unsur positif seperti kandungan fosfat dan amonia yang baik untuk pertanian sebagai pupuk.

Anggota DPR RI Dedi Mulyadi mengatakan, penyelesaian persoalan pencemaran Sungai Cilamaya harus segera dilakukan secara bersama-sama. Salah satu usulannya adalah membangun instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal. "Tujuannya agar tidak ada lagi pabrik yang membuang limbahnya ke DAS Cilamaya," ujarnya dalam siaran pers yang diterima wartawan Pikiran rakyat, Rabu, 16 Oktober 2019.

Dari hasil uji laboratorium Laboratorium Perum Jasa Tirta (PJT) II Jatiluhur menegaskan bahwa hasil uji laboratorium air DAS Cilamaya secara umum tercemar. Hasil uji laboratorium tersebut diumumkan oleh pihak Laboratorium PJT II kepada perwakilan perusahaan yang berada di aliran DAS Cilamaya, Pemerintah Kabupaten Karawang, Pemerintah Kabupaten Subang, dan Pemerintah Kabupaten Purwakarta.

Diusulkan, pabrik yang berada di aliran sungai Cilamaya tidak lagi membuang limbahnya ke sungai, tetapi melakukan pengelolaan bersama-sama melalui IPAL Komunal melalui jaringan pipa berasal dari pabrik. “Dalam bentuk danau, bisa melalui danau yang sudah ada atau membangun danau baru, sehingga industri tidak membuang di sungai jaringan limbah industrinya melalui pipa,masuk ke pengelolaan limbah yang terintegrasi tersebut,” katanya.

 

Menurutnya, hanya perlu lahan satu hingga dua hektar untuk membangun IPAL tersebut. Dia akan mendorong tiga pemerintah daerah yang dilalui sungai Cilamaya untuk menganggarkan secara bersama-sama.

“Ya nanti tinggal dibagi tiga saja, untuk penganggarannya saya kira bisa, apalagi kan sungai tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat juga. Ya perlu ada perhatian dan respon dari ketiga pemerintah daerahnya,” tutur dia.

Untuk diketahui, Tim Laboratorium Perum Jasa Tirta (PJT) II Jatiluhur menegaskan bahwa hasil uji laboratorium air DAS Cilamaya secara umum tercemar. Asisten Manajer Laboratorium PJT II Jatiluhur, Leni Mulyani mengatakan, pihaknya diminta oleh anggota DPR RI Dedi Mulyadi untuk memeriksa kualitas air Sungai Cilamaya. Mengingat, sudah bertahun-tahun air sungai yang pengelolaannya di bawah perusahaan BUMN ini, tercemar limbah sejumlah pabrik yang berada di kawasan Subang dan Purwakarta.

“Dari sampel air yang diambil di empat titik DAS Cilamaya secara umum hasilnya  bahwa air sungai tersebut secara umum tercemar. Meski ada plus-minusnya,” kata Leni.

Tercemarnya sungai tersebut dilihat dari parameternya yaitu COD dan BOD-nya. Apalagi standar baku mutu COD dan BOD pada kisaran angka sepuluh, sedangkan menurut hasil lab mencapai delapan ratus.

“Standarnya 10 COD dan BOD 2, ini di atas standar dan cukup saya katakan untuk tidak dikonsumsi untuk rumah tangga, karena apabila digunakan secara jangka panjang akan berbahaya,” kata dia.***

Bagikan:

TERPOPULER