Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya cerah, 29.4 ° C

Menapaki Lebaksiuh, Kantor Gubernur Jawa Barat di Tengah Hutan Rimba

Bambang Arifianto
PRASASTI Lebaksiuh berdiri di depan deretan rumah warga di Kampung Lebaksiuh, Desa Cipicung, Kecamatan Culamega, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu, 20 Juli 2019. Prasasti itu menjadi penanda kanpung tersebut pernah menjadi lokasi kantor darurat Gubernur Jawa Barat di zaman perang.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
PRASASTI Lebaksiuh berdiri di depan deretan rumah warga di Kampung Lebaksiuh, Desa Cipicung, Kecamatan Culamega, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu, 20 Juli 2019. Prasasti itu menjadi penanda kanpung tersebut pernah menjadi lokasi kantor darurat Gubernur Jawa Barat di zaman perang.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

DUA puluh satu Juli 1947, Agresi Militer I Belanda pecah. Belanda masuk dan menyerang wilayah Republik Indonesia, termasuk Jawa Barat. Tasikmalaya yang sejak awal 1946 telah menjadi pusat pemerintahan Jabar ikut kena gempur.

Bom dan rentetan tembakan Belanda berhamburan, membuat para pejuang kemerdekaan terpukul mundur. Begitu pula Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang berpindah tempat hingga ke sebuah kampung terpencil di tengah hutan wilayah Culamega, selatan Tasikmalaya.

Pikiran Rakyat menyambangi kampung bernama Lebaksiuh tersebut. Melacak sisa kantor darurat Pemerintah Provinsi Jabar di zaman perang. Tak lupa pula kisah Gubernur Sewaka, ambtenaar atau pegawai negeri tulen republiken yang menolak pindah ke Yogyakarta demi mendamping rakyat Tatar Pasundan. Sewaka memilih jalan pedang dengan menjalankan roda pemerintahan Jabar di tengah hutan rimba kendati diburu Belanda.

Bukan sekadar kampung terpencil

Tugu putih itu di depan masjid itu menjadi penanda Lebaksiuh bukan sekadar kampung terpencil di Desa Cipicung, Kecamatan Culamega, Kabupaten Tasikmalaya. Deretan huruf pada marmer yang menempel pada tugu menjadi buktinya.

Prasasti tersebut menyebut Lebaksiuh pernah menjadi pusat kedudukan Provinsi Jawa Barat pimpinan Gubernur Sewaka dalam rentang Agustus 1947-Februari 1948. Di Lebaksiuh, Sewaka mendirikan kantor darurat pemerintah Jabar didampingi overste atau Letnan Kolonel Sutoko yang juga menjadikan kampung itu sebagai basis werkhkreise III (kantong perlawanan) pejuang kemerdekaan.

Letak kantor darurat tersebut berada di belakang tugu tersebut. Enad, warga Lebaksiuh berusia 92 tahun masih ingat pusat pemerintahan Jabar zaman gerilya itu. Kantor darurat tersebut menumpang di rumah warga.

Ada tiga rumah warga yang digunakan masing-masing sebagai kantor Pemprov, residen dan werkhreise. Selain itu, dua rumah warga lain digunakan sebagai tempat tinggal kelurga Sewaka dan Sutoko. Jangan bayangkan  kantor masa pengungsian tersebut laiknya bangunan modern kini atau semacam Gedung Sate. Enad menyebut  bangunan-bangunan yang dipakai itu hanya berupa rumah panggung berdinding bilik beratap hateup. 

Saban hari, bunyi  mesin ketik dari pegawai-pegawai Pemprov yang turut dalam gerilya terdengar dari dalam kantor pemerintahan tersebut. Enad yang kala itu berusia 16- 18 tahun, memperkirakan ada sekira 20 pegawai yang beraktivitas di sana. ‎

Sejumlah warga lokal yang bertugas sebagai kurir atau penghubung hilir mudik menyampaikan surat dari pemerintah Jabar dan werkhreise III ke berbagai wilayah yang masih ditempati pamong Praja atau pegawai negeri republiken dan pasukan gerilya. Beberapa wilayah Tasikmalaya  yang menjadi tujuan para kurir tersebut adalah Cikuya, Taraju, Cibalong. 

Enad juga kebagian menyampaikan surat rahasia tersebut. "Aya kana awi supados teu katawis (ada surat yang dimasukkan ke dalam bambu agar tak ketahuan)," ucap Enad di kediamannya, Kampung Lebaksiuh, beberapa waktu lalu.

Perihal listrik

Selain dibawa menggunakan bambu, surat bisa pula disembunyikan dalam saku tertentu di balik baju. Perkara membawa surat bukan urusan sepele. Bila ketahuan patroli Belanda, nyawa kurir bisa melayang kena bedil serdadunya.

Keberadaan kantor darurat Pemprov Jabar juga membawa berkah bagi warga. Pasalnya, warga bisa menikmati listrik yang menyala dari mesin yang dipakai para pegawai.

Ihwal munculnya listrik, tutur Enad, bermula saat sejumlah pejuang menyerang perkebunan Belanda di Cikancung, Karangnunggal. Mereka berhasil memperoleh mesin untuk pembangkit listrik yang dibawa ke Lebaksiuh. Mesin sejenis diesel tersebut sempat dilepas per bagian agar mudah dibawanya.

Di kantor darurat, Enad baru mengenal mesin tik. Enad yang terheran-heran dengan cara kerja mesin itu sempat diajari menggunakannya oleh seorang pegawai.

"Sok diajar mah, pencet nomor ieu (silahkan kalau mau belajar, pencet yang ada huruf-hurufnya)," ucap Enad menirukan perintah pegawai itu.

Ia menambahkan, Sewaka juga kerap menggelar rapat dengan pegawai-pegawai tersisa di sekitar Culamega. Waktu itu, Culamega masih masuk wilayah Kecamatan Bantarkalong. 

"(Peserta rapat) ada dari Cibalong, Karangnunggal," ucapnya.

Urusan logistik

Untuk urusan logistik, para pegawai tak perlu khawatir. Bila Pemprov tak membeli hasil bumi, warga lah yang menyumbangkan hasil pertaniannya secara sukarela untuk makan para pegawai dan tentara.

Kehadiran Gubernur Sewaka dan kantor darurat yang berlokasi di Lebaksiuh rawan menjadi incaran Belanda. Sewaka menjadi target buruan sejak berpindah dari kawasan Kota Tasikmalaya ke Sukaraja, Karangnunggal hingga Lebaksiuh. Untuk itu, pengamanan Sang Gubernur dan kantor kerjanya terbilang ketat. ‎

"Warga masyarakat dan tentara ronda siang wengi (siang malam)," ujar Enad. Pasukan Sutoko yang mengawal Sewaka juga memiliki persenjataan yang cukup lengkap guna menghadapi serangan atau pendadakan Belanda. 

Lebaksiuh di mata Sewaka

Sewaka punya kenangan sendiri terhadap Lebaksiuh. Ia menuliskan pengalamannya bertugas sebagai gubernur zaman peran  dalam buku memoarnya, Tjorat -Tjoret Dari Djaman Ke Djaman.

"Suatu desa terletak di tengah hutan, di dekat mana banteng dan lain binatang liar masih hidup," tulis Sewaka mengenang Lebaksiuh.

Ia tak berlebihan, puluhan tahun setelahnya, Pikiran Rakyat merasakan benar masih terpencilnya Lebaksiuh. Dari Kota Tasikmalaya, butuh waktu sekira 3 jam untuk tiba di sana dengan sepeda motor. Lokasinya berada di lembah yang dikelilingi perbukitan lengkap dengan hutan-hutan. Jika malam tiba, kabut mengepung wilayah itu. Sebagai markas dan kantor di masa gerilya, Lebaksiuh memang strategis guna terhindar dari deteksi musuh.

"Di desa ini saya membuka kantor gubernur darurat, dan dari tempat ini saya menjalankan pemerintahan. Hubungan dengan Yogya telah terputus, sehingga segala sesuatu dijalankan atas beleid sendiri," kata Sewaka.

Sekali pun mendapat kesulitan dan derita, tak ada keinginan memutar haluan mendukung Belanda. Pegawai negeri tulen prorepublik asal Cirebon itu terkesan dengan sikap warga Lebaksiuh.

"Tiap-tiap pemuda menyerahkan diri untuk bertempur, orang-orang yang telah lanjut umurnya menyerahkan sebagian dari harta kekayaanya untuk ongkos perjuangan, antaranya seorang haji menyerahkan pendapatan dari 10 hektar sawahnya untuk keperluan itu," tutur Sewaka.

Hal yang menarik dari perpindahan kantor darurat gubernur ke Lebaksiuh adalah kedatangan beberapa anggota kantor berita Antara yang ikut bergabung sebagai staf gubernur. Mereka adalah AZ Palindih, Moh Rijani, Moh Saman.

Dengan inisiatif sendiri, para anggota Antara tersebut membuat pemancar dan penerima di Lebaksiuh. Hubungan Pemerintah Jabar yang terputus tiga bulan dengan pemerintah pusat di Yogyakarta kembali terhubung.

"Barulah diketahui, bahwa pemerintah RI di Jawa Barat memang masih berjalan, yang setadinya dianggap telah tenggelam didalam arus NICA (Belanda) seluruhnya," kata Sewaka.

Kondisi itu menuai kegembiraan anggota staf Gubernur yang menggelar selamatan makan ala kadarnya. Demikian pula masyarakat yang dapat mendengarkan siara radio sore hari dan penerangan listrik pada malamnya. Kurir-kurir dari Yogya kemudian berdatangan guna menerima laporan-laporan sang gubernur buat pemerintah pusat. 

Lantaran ancaman pesawat udara Belanda, pemancar tak dapat tinggal terus di satu tempat. Hal itu dialami kantor gubernur yang mesti berpindah-pindah.

Dari Lebaksiuh, kantor berpindah ke kawasan Culamega lain seperti Cisurupan dan Cikuya. Kini, keberadaan rumah-rumah warga bekas kantor gubernur sudah tak ada lagi. Di belakang tugu Lebaksuh, deretan bangunan permanen telah menggantikannya.

Meski demikian, jejak sejarahnya masih diingat sebagian warganya. Ya, pusat pemerintahan Jabar bukan hanya terus menerus berada di bangunan megah nan gemerlap Gedung Sate, Kota Bandung.  Di zaman perang, lokasinya  di kampung di tengah hutan rimba selatan Tasikmalaya.***

Bagikan: