Pikiran Rakyat
USD Jual 14.034,00 Beli 14.132,00 | Berawan, 20.4 ° C

Dua Remaja di Bekasi Gangguan Jiwa Akibat Media Sosial

Tommi Andryandy
PARA pasien pengidap gangguan jiwa dirawat di Yayasan Al Fajar Berseri Kecamatan Tambun Selatan Kabupaten Bekasi. Sebanyak dua dari ratusan pasien tersebut merupakan remaja yang mengalami gangguan jiwa akibat menggunakan telefon genggam secara berlebihan.*/TOMMI ANDRYANDY/PR
PARA pasien pengidap gangguan jiwa dirawat di Yayasan Al Fajar Berseri Kecamatan Tambun Selatan Kabupaten Bekasi. Sebanyak dua dari ratusan pasien tersebut merupakan remaja yang mengalami gangguan jiwa akibat menggunakan telefon genggam secara berlebihan.*/TOMMI ANDRYANDY/PR

CIKARANG, (PR).- Perkembangan sosial media dan penggunaan telefon seluler secara berlebihan mulai berdampak nyata bagi masyarakat. Di Kabupaten Bekasi, dua remaja terpaksa dirawat di yayasan gangguan jiwa karena ketergantungan menggunakan telepon pintar.

Ketua Yayasan Al Fajar Berseri Tambun Selatan, Marsan mengatakan bahwa kedua remaja itu sudah sekitar satu tahun dirawat. Mereka yakni Nv (17) asal Cikarang Selatan dan Ty (17) asal Cibitung.

Dalam kesehariannya, kata Marsan, mereka hanya berdiam diri dan sesekali berinteraksi. Namun, kedua pasien itu seketika bereaksi ketika melihat telepon genggam.

“Jadi cuma biasa saja, diam saja. Makan juga bisa. Cuma kalau ada hape nih, langsung direbut, diambil dimainin. Misal ada hape di-charge, langsung direbut. Ini karena mereka sudah terlalu ketergantungan dengan hape dan gim,” ucap dia kepada Pikiran Rakyat, Rabu 16 Oktober 2019.

Berdasarkan informasi dari keluarga keduanya, mereka sudah sangat berlebihan menggunakan ponsel. Bahkan, mereka mengoperasikan gawai dari sejak bangun tidur hingga malam, menjelang tidur kembali. Ketergantungan itu bahkan mengganggu kehidupan nyata mereka. Tidak jarang mereka pun bolos sekolah.

“Bahkan buat makan pun mereka kadang lupa. Lebih parah lagi, kalau dilarang mereka mulai emosional. Bukan cuma marah tapi sampai melawan orang tuanya. Ada beberapa kasus, termasuk yang dua ini,” ucap dia.

Nv dan Ty, lanjut Marsan bukan pasien gangguan kejiwaan pertama yang dirawat karena penggunaan gawai. Sebelumnya, ada satu pasien lain asal Medan yang mengalami hal serupa. “Dia namanya Wh. Katanya sudah ke beberapa tempat sampai akhirnya ke kami. Empat bulan di sini, sekarang sudah pulang,” ucap dia.

Diungkapkan Marsan, penggunaan gawai seharusnya sudah mulai dikendalikan. Orang tua berperan besar mengatasi ini sejak dini. “Orang tua harus paham, di dalam hape itu kan mengandung magnet yang bisa merusak otak. Itu mengapa ada dua orang yang tinggal di sini sekarang,” ucap dia.***

Bagikan: