Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya cerah, 28 ° C

Tank Baja Belanda Mau Menyerang Pamarican Namun Mogok dan Tercebur ke Sungai

Tim Pikiran Rakyat
PENGALI pasir hilir mudik di sekitar tank baja yang tertimbun pasir dan terendam air di wilayah sungai Lingkungan Parungsari, Kelurahan Karangpanimbal, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, Senin 14 Oktober 2019.*/DEDE IWAN/KABAR PRIANGAN
PENGALI pasir hilir mudik di sekitar tank baja yang tertimbun pasir dan terendam air di wilayah sungai Lingkungan Parungsari, Kelurahan Karangpanimbal, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, Senin 14 Oktober 2019.*/DEDE IWAN/KABAR PRIANGAN

BANJAR,(PR).- Musim kemarau yang berkepanjangan menimbulkan permukaan air sungai Citanduy terus menyusut. 

Kondisi ini seringkali dimanfaatkan sebagian warga untuk melihat tank baja peninggalan zaman penjajahan Belanda yang terendam di Sungai Citanduy. 

Tepatnya di sungai citanduy wilayah Lingkungan Parungsari, Kelurahan Karangpanimbal, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar. 

"Tank baja itu masih terkubur pasir hingga sekarang ini. Otomatis, walaupun mendekat dipastikan tak kelihatan. Apalagi, airnya juga masih dalam sekarang ini," ujar seorang penggali pasir, Solihin (45) warga sekitar, Senin 14 Oktober 2019.

Kendati itu, di antara warga masih ada yang merasakan penasaran atas keberadaan tank baja tersebut. Dibuktikan banyak warga yang melihat dari pinggir sungai, walaupun dari kejauhan. 

Seorang warga Banjar lainnya, Sulaeman (73), tank baja itu salah satu bukti sejarah sisa perang pada saat penjajah Belanda tempo dahulu. Menurut cerita orangtua dahulu, saat itu penjajah Belanda mau melintas dengan  tujuan Desa Kertahayu, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis.

Bergeser 300 meter

Saat memasuki wilayah Parungsari diduga jenis Panser itu mogok. Selanjutnya, oleh rakyat diceburkan ke Sungai Citanduy dari tikungan Batu Engko. 

Ada lagi cerita yang menyebutkan, tank baja tersebut diberhentikan rakyat. Kemudian dirampas dan digulingkan ke Sungai Citanduy. 

Menyusul bencana Gunung Galunggung meletus sekitar tahun 1982, tank baja bergeser sekitar 300 meter dari lokasi sekarang ini.

Terlepas kebenaran cerita rakyat, dari mulut ke mulut tersebut, setiap musim kemarau, kawasan tempat tank baja terkubur pasir dan  terendam air itu, selalu menarik perhatian masyarakat Banjar dan sekitarnya. Bahkan, terkadang kawasan ini menjadi tempat pavorit anak-anak berenang. 

"Penasaran selalu ada, ingin melihat langsung panser itu. Kami jauh-jauh dari Pamarican sengaja datang. Ini rutin setiap musim kemarau panjang seperti sekarang ini," ujar Sutisna (45) warga Pamarican, Kab Ciamis kepada wartawan Kabar Priangan, Dede Iwan.

Kedatangannya ini, seiring cerita tank baja tersebut selalu dikaitkan rencana penjajah Belanda mau menyerang wilayah Pamarican itu. 

Seorang mahasiswi Banjar, Yuni berharap peninggalan penjajah Belanda berbentuk tank baja atau panser itu digalinya. Kemudian, diangkat dan dibuatkan musium di Banjar. 

"Ini (tank baja) aset antik. Diharapkan jadi ikon wisata baru di Kota Banjar," ujarnya seraya menjelaskan, saat tank baja masih di air saja dan belum ada yang melihatnya , hanya perkiraan dan cerita saja, banyak warga yang penasaran datang ke lokasi tank baja tersebut.***

Bagikan: