Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sedikit awan, 20.5 ° C

Menelusuri Sejarah Nama Tanah Sareal

Windiyati Retno Sumardiyani
KENDARAAN melintasi Kantor Kelurahan Tanah Sareal, Jalan Kesehatan, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Selasa, 15 Oktober 2019. Penamaan Tanah Sareal bermula dari pembelian tanah di kawasan tersebut dengan seharga satu real  permeter oleh orang Arab, sehingga warga menyebut kawasan itu Tanah Sareal.*/WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR
KENDARAAN melintasi Kantor Kelurahan Tanah Sareal, Jalan Kesehatan, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Selasa, 15 Oktober 2019. Penamaan Tanah Sareal bermula dari pembelian tanah di kawasan tersebut dengan seharga satu real permeter oleh orang Arab, sehingga warga menyebut kawasan itu Tanah Sareal.*/WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR

LATIFA Fitria (33), hanya bisa menggelengkan kepalanya saat ditanya soal asal mula nama Tanah Sareal. Wanita yang sejak lahir tinggal di Tanah Sareal itu sama sekali tak mengetahui sejarah Tanah Sareal.

“Kurang begitu hafal, kalau almarhum orang tua mungkin tahu. Dahulu, kakek juga juragan delman di Sareal, beliau lebih paham. Kalau saya enggak tahu menahu,” ujar Latifa Fitria saat dijumpai “PR”, Selasa, 15 Oktober 2019.

Nama Tanah Sareal memang cukup mashur. Selain dikenal sebagai salah satu kecamatan terluas di Kota Bogor, perkembangan wilayah Tanah Sareal juga sangatlah pesat.  Mulai dari perumahan kelas menengah, elite, mal, pusat perniagaan, sekolah dan universitas, hingga pembangunan tol, semua ada di Tanah Sareal.

Namun demikian, tak banyak yang tahu asal muasal nama Tanah Sareal. Tak ada yang menyangka, jika dahulu Tanah Sareal hanyalah sebuah wilayah yang dibanderol seharga satu real permeter. Hal tersebut dituturkan salah seorang budayawan Kota Bogor sekaligus penulis buku Toponimi asal usul nama di kawasan Bogor, Eman Sulaeman (82).

Berdasarkan cerita dari sesepuh Tanah Sareal, penamaan wilayah Tanah Sareal dahulu berawal dari salah seorang tuan tanah dari Arab yang membeli tanah di kawasan tersebut pada era abad ke 15. Pada era tersebut, kawasan Tanah Sareal memang dikenal sebagai tanah lapang, tempat berkumpulnya orang Belanda untuk bermain dan berolahraga.

Pendatang dari Arab tersebut, kemudian membeli tanah di kawasan tersebut dengan harga satu real per meter, dengan maksud menjadikan kawasan itu sebagai lahan perkebunan.

“Dahulu memang harga semeternya sereal. Zaman abad ke-15, di mana perkembangan Islam dimulai. Dahulu Padjajaran sudah terkenal sampai ke negeri seberang, maka dari itu orang Arab datang ke Padjajaran, dan membeli tanah seharga sereal permeter, dari situ warga akhirnya menyebut kawasan itu sebagai kawasan Tanah Sareal,” tutur Eman Sulaeman.

Pada zaman dahulu, uang satu real atau kurang lebih dua sen bisa dibilang sangat berharga. Apalagi, dahulu masyarakat Bogor merupakan masyarakat agraris. Semenjak dibeli orang Arab, kawasan tersebut kemudian berubah menjadi hutan karet.

“Menurut sesepuh di sana, dulu memang Tanah Sareal itu tanahnya paling luas, dulu depan Goodyear (GOR Padjajaran) itu dulu hutan belantara, kebun karet, tak banyak yang tahu memang, tapi masyarakat perlu tahu sejarah asal usul nama daerahnya,” kata Eman.

Berkembang pesat

Camat Tanah Sareal Asep Kartiwa mengatakan, Tanah Sareal berkembang sangat pesat seturut berjalannya waktu. Kawasan Tanah Sareal yang dahulu lebih dikenal sebagai hutan karet kini berubah menjadi kawasan permukiman padat penduduk, sarana perkantoran, dan fasilitas olahraga.

Kawasan Tanah Sareal, menurut Rencana Tata Ruang Wilayah juga ditetapkan sebagai kawasan permukiman dan perniagaan. Tanah Sareal dengan lahan seluas 1777 hektare itu pun kini telah dihuni oleh lebih dari 180 ribu penduduk.

“Apalagi sekarang dibuka Tol BORR.  Perkembangannya sudah sangat pesat.  Jika konon kabarnya dahulu harganya 1 real permeter, mungkin sekarang sudah jutaan real,” ujar  Asep Kartiwa.

Seiring berkembangnya zaman,  harga tanah di kawasan Tanah Sareal nyaris selangit.  Menurut Asep Kartiwa,  harga tanah termurah di Kecamatan Tanah Sareal mencapai Rp 500 ribu permeter. Sementara di Kelurahan Tanah Sareal, harga  tanah bahkan mencapai Rp 10 juta permeter.

“Harga melambung karena memang Tanah Sareal berada di tengah perkotaan, kalau yang Rp 500 meter itu saja ada-nya di ujung, kalau di kawasan GOR Padjajaran itu sudah sangat mahal sekali, tapi ada saja yang membeli,” kata Asep.***

Bagikan: