Pikiran Rakyat
USD Jual 14.012,00 Beli 14.110,00 | Umumnya cerah, 27.1 ° C

Keripik Jarangking Asal Ligung, Renyah dan Empuk

Tati Purnawati
KERIPIK jarangking buatan Hasan Basri mulai dikenal keluar Majalengka.*/TATI PURNAWATI/KABAR CIREBON
KERIPIK jarangking buatan Hasan Basri mulai dikenal keluar Majalengka.*/TATI PURNAWATI/KABAR CIREBON

MAJALENGKA,(PR).- Singkong atau orang sunda menyebutnya sampeu bisa dibuat menjadi beragam makanan olahan seperti getuk manis, asin, kolak, keripik, opak, opak beca, keripik kering atau orang suda menyebut jarangking.

Hanya jika keripik jarangking biasanya terasa keras saat di makan, ternyata tidak begitu dengan  jarangking olahan Hasan Basri (43) warga Blok Tipar, Desa Ligung Lor, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka.

Dia mengolah singkong menjadi keripik jarangking dengan tekstur yang empuk, tidak harus mengunyah dengan keras. Bahkan bisa dimakan oleh anak kecil yang belum bergigi atau orang yang sudah ompong sekalipun. Karena begitu dimakan keripik jarangking terasa renyah dan empuk walaupun cukup tebal hingga setebal kurang lebih 1 cm hingga 1,5 cm.

Hasan menjelaskan, makanan olahannya agar bisa empuk seperti itu terus menerus bereksperimen sejak tahun 2012. Awalnya keripik yang dibuatnya keras seperti keripik pada umumnya yang dibuat oleh perajin lain atau keripik jarangking yang biasa dijual di pasaran.

“Dulu ketika keripik dijual dan dimakan pembeli mereka menyebut keras dan katanya tidak bisa dimakan oleh aki-aki atau nini-nini yang sudah tidak  bergigi. Sejak itu saya terus berupaya mencari formula agar keripik bisa renyah dan bisa dinikmati orang tua yang sudah tidak punya gigi,” ungkap Hasan.

Berulang kali percobaanya membuat keripik renyah terus gagal. Dicoba dengan dikukus, diiris  kemudian di jemur hingga kering hasilnya ketika digoreng ternyata keras.  Demikian juga saat mengolahnya digodog hingga empuk dan dibumbui rasanya belum empuk betul.

“Dua tahun lalu saya berhasil mengolah hingga benar-benar empuk dan hasil bisa lebih sempurna,” ungkap Hasan.

Pesanan meningkat

Saat ini keripik jarangking buatannya sudah bisa diproduksi lebih banyak karena pesanan mulai meningkat, setidaknya sehari Hasan sudah bisa menghabiskan seitar 30 kg singkong. Dari 30 kg singkong tersebut diperoleh keripik sebanyak 14 kg. Karena produksi masih terbatas, singkong masih bisa diperoleh dari pasar tradisional atau terkadang memesan ke petani.

Pasarnya sementara ini baru dilakukan dari mulut ke mulut serta sebagian pasar lokal. Ada beberapa yang memesan  dari Jakarta, Bogor serta Bali. Pemesanan ini diduga setelah mereka mencoba dari kerabat atau kenalannya.

Setiap satu kilogram keripik dia jual seharga Rp 50.000. hasan menyediakan beragam aneka rasa seperti original, balado pedes, manis,  jagung bakar,  jagung manis dan  rumpu laut yang kesemuanya dijual dengan harga yang sama.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Iman Pramudya mengatakan, pihaknya terus berupaya mempromosikan makanan olahan yang diproduksi oleh kelompok usaha kecil lewat beragam even seperti yang dilakukan pada acara Produk Temu Bisnis Jabar Juara atau pameran lainnya agar makanan olahan asal Majalengka bisa lebih dikenal sehingga mendorong usahanya lebih maju.

Selain itu para pengusaha kecil juga diupayakan difasilitasi untuk mengatasi persoalan yang dihadapi mereka, misalnya jika kesulitan permodalan mereka akan dipertemukan dengan pihak bank, untuk pemasaran dibawa pameran ke sejumlah tempat.

“Makanan olahan yang terbuat dari singkong di Majalengka cukup banyak, salah satunya adalah yang di buat Hasan. Keripik produksinya memiliki kekhasan, empuk, renyah,” kata Iman.

Kini pihaknya juga tengah mendata produk makanan olahan yang dimiliki pengusaha kecil untuk didorong dipromosikan agar bisa dikenal di pasar luar***

Bagikan: