Pikiran Rakyat
USD Jual 14.034,00 Beli 14.132,00 | Berawan, 21.2 ° C

Jadi Ikon Tasikmalaya, Kerajinan Mendong di Ambang Kepunahan

Bambang Arifianto
PERAJIN menenun tikar mendong di Kampung Babakan Nanggerang, Kelurahan Singkup, Kecamatan Purbaratu, Senin, 14 Oktober 2019. Menjadi ikon Tasikmalaya, nasib kerajinan mendong justru terpuruk.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
PERAJIN menenun tikar mendong di Kampung Babakan Nanggerang, Kelurahan Singkup, Kecamatan Purbaratu, Senin, 14 Oktober 2019. Menjadi ikon Tasikmalaya, nasib kerajinan mendong justru terpuruk.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

KERAJINAN mendong merupakan salah satu ikon industri kreatif di Kota/Kabupaten Tasikmalaya. Nama kerajinan tersebut kerap mengemuka saat pejabat Tasikmalaya berpidato mempromosikan potensi wisata wilayahnya dalam sejumlah kegiatan. Bahkan, sebuah gapura khusus penanda sentra kerajinan itu dibuat di Jalan Bebedahan, Kota Tasikmalaya.

Namun, berbagai apresiasi tersebut justru tak menyentuh persoalan konkret yang dihadapi para pelaku usahanya. Minimnya bahan baku hingga jarangnya generasi muda melakoni profesi sebagai perajin mendong membuat kerajinan warisan turun temurun itu di ambang kepunahan. Pikiran Rakyat menelisik kondisi perajin dan pelaku usahanya di sentra kerajinan mendong, Purbaratu, Kota Tasikmalaya, Senin, 14 Oktober 2019. 

Sejak puluhan tahun lalu

Pemandangan tepi jalan di Kampung Babakan Nanggerang, Kelurahan Singkup, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya itu begitu merona. Batang-batang rumput mendong berwarna ungu yang tengah dijemur terhampar di sana. Berbelok sedikit masuk ke permukiman warga, suara tustel atau alat menganyam mendong mulai terdengar.

Mamah, perempuan 59 tahun tampak sibuk memintal batang-batang mendong kering yang telah dilumuri warna di sebuah sudut rumah Babakan Nanggerang. Puluhan tahun sudah Mamah menjadi perajin tikar mendong.

Seingatnya, profesi tersebut mulai dilakoni pada sekitar 1970-an. Saat itu, hampir seluruh warga Babakannanggerang menjadi perajin mendong.

Dari pagi hingga sore, suara alat pemintal terdengar dari halaman-halaman rumah warga. Suami-isteri pun bahu membahu membuat kerajinan yang dikenal nyaman sebagai alat duduk di lantai.

Kini, suasana dan pemandangan itu telah berubah. "Sekarang mah sepi," ucap Mamah. Bahan baku berupa rumput mendong memang semakin sulit diperoleh perajin. Minimnya bahan baku dipengaruhi oleh musim kemarau yang membuat lahan pesawahan sebagai tempat menanam mendong mengering.

Faktor lain berupa tak adanya kebijakan pemerintah membuat gudang penampungan mendong yang diperuntukkan bagi perajin membuat kelangkaan terus terjadi tanpa pandang musim.

PERAJIN menenun tikar mendong di Kampung Babakan Nanggerang, Kelurahan Singkup, Kecamatan Purbaratu, Senin, 14 Oktober 2019. Menjadi ikon Tasikmalaya, nasib kerajinan mendong justru terpuruk.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

Imbasnya produksi kerajinan menurun dan upah para perajin yang bekerja ke bandar ikut pula terjun bebas. Mamah mencontohkan, dirinya yang bekerja kepada pengepul atau bandar di Babakan Nanggerang hanya mendapat upah senilai Rp 9.000 per hari dari satu lembar tikar mendong dengann panjang 13 meter dan lebar 60 cm.

Tak ayal, profesi sebagai perajin pun tak dilirik anak-anak muda di kampung itu. Para pemuda, tutur Mamah, lebih memilih menjadi kuli bangunan atau buruh tani. Padahal pamor kerajinan mendong Tasikmalaya pernah melesat dan menjadi primadona pada sekira 1980-an. Para pembeli bahkan rela mendatangi kampung tersebut untuk membeli kerajinan khas Tatar Sukapuran tersebut.

Menjadi ikon industri kreatif

Bukti lain mendong sempat menjadi primadona adalah kerajinan itu dijadikan salah satu ikon industri kreatif Kota Tasikmalaya selain payung geulis dan kelom. Hingga kini, pengakuan penuh rasa bangga atas kerajinan mendong sering dilontarkan Wali Kota Tasikmalaya Budi Budiman saat  memberikan sambutan di sejumlah kegiatan.

Budi menjadikan berbagai kreasi kerajinan tersebut guna mempromosikan wilayahnya sebagai destinasi wisata dan investasi di Priangan Timur. Kenyataan di lapangan justru jauh panggang dari api.

Abdul Aziz, 54 tahun, pengepul sekaligus bandar di Babakan Nanggerang mengakui usahanya kerajinan mendongnya tengah terpuruk. Permasalahnya bukan pada sepinya permintaan.

"(Permintaan) sedang bagus tetapi bahannya sedang susah," ucap Azis. Sebagaimana Mamah, Azis mengungkapkan minimnya bahan baku dan kurangnya tenaga kerja.

PENGENDARA melintasi hamparan mendong yang tengah dijemur di Kampung Babakan Nanggerang, Kelurahan Singkup, Kecamatan Purbaratu, Senin, 14 Oktober 2019. Menjadi ikon Tasikmalaya, nasib kerajinan mendong justru terpuruk.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

Bahan baku bukan hanya mendong saja. Perajin pun perlu benang dan celep atau pewarna. Kini, Azis hanya mampu memproduksi satu kodi tikar mendong dalam satu minggu. Dulu, ia mampu memproduksi hingga 20 kodi per pekan.

"Sekarang jual saminggu sekali saja sudah tidak ada pekerjanya," tutur Azis.

Produksinya juga sudah dibatasi hanya dijual setengah jadi ke bandar lain di Purbaratu yang kebagian tugas tambahan merampungkan jahitan dan corak. "Karena produksi sedikit jadi (produksi) setengah jadi," ujarnya. Untuk satu kodi penjualan kerajinan tersebut, ia mengaku cuma mendapat Rp 1 juta.

Persoalan regenerasi

Pada 2005, Azis pernah memiliki 25-35 pekerja atau perajin di tempat usahanya. "Kalau sekarang tinggal lima orang lagi," ujarnya.

Persoalan regenerasi turut dirasakannya. Ketiga anaknya belum ada yang berminat meneruskan usahanya. Padahal, usaha kerajinan mendong di Purbaratu berlangsung turun temurun sejak tempo dulu.

Nasib muram dialami para perajin yang hanya mendapat upah rendah dengan kisaran Rp 9.000-15.000 per lembar tikar. "Perajin pun semangatnya berkurang," ucapnya.

PERAJIN menenun tikar mendong di Kampung Babakan Nanggerang, Kelurahan Singkup, Kecamatan Purbaratu, Senin, 14 Oktober 2019. Menjadi ikon Tasikmalaya, nasib kerajinan mendong justru terpuruk.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

Para perajin dan pengepul yang tersisa di Babakan Nanggerang yang tersisa kini hanya warga dengan rentang usia 45-60 tahun. Jika kondisi itu terus terjadi, sentra mendong yang tersebar di Purbaratu hingga wilayah Kabupaten Tasikmalaya di Manonjaya, Cineam, Gunungtanjung bisa lenyap.

Pemerintah harus turun tangan

Muhlis, 42 tahun, perajin serta pengepul kerajinan mendong asal Kampung Gobang, Kelurahan Singkup, Kecamatan Purbaratu menilai pemerintah perlu turun tangan guna menyelamatkan kerajinan khas Tasikmalaya tersebut.

"Harus ada yang seperti Bulog," ujarnya.

Dengan membangun gudang penampungan rumput mendong laiknya Bulog, perajin tak perlu khawatir atas langkanya bahan baku. Petani penanam mendong juga tak risau lantaran hasil panennya bisa diserap pemerintah.

"Kalau ada yang beli dari pemerintah, harga jadi stabil," ucapnya.

Sekarang, lanjut Muhlis, harga satu kuintal rumput mendong menyentuh Rp 850.000 hingga Rp 1 juta. Harga itu melonjak seiring makin minim keberadaannya.

Tak pelak, kebanggaan pemerintah terhadap keberadaan mendong mestinya bukan hanya pada omongan semata. Turun langsung dan menyelesaikan problem mendasarnya, seharusnya menjadi keniscayaan.***

Bagikan: