Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya cerah, 28 ° C

Industri Besar di Purwakarta Masih Gunakan Gas Bersubsidi

Hilmi Abdul Halim
BARANG bukti gas tiga kilogram yang digunakan pabrik cat di Purwakarta disita oleh Satgas Pangan Polres Purwakarta, Selasa, 15 Oktober 2019.*/HILMI ABDUL HALIM/PR
BARANG bukti gas tiga kilogram yang digunakan pabrik cat di Purwakarta disita oleh Satgas Pangan Polres Purwakarta, Selasa, 15 Oktober 2019.*/HILMI ABDUL HALIM/PR

PURWAKARTA, (PR).- Satuan Tugas Pangan Kepolisian Resor Purwakarta menemukan pelaku industri besar masih menggunakan gas elpiji tiga kilogram bersubsidi. Pabrik cat merek luar negeri itu diketahui telah menggunakan gas tersebut selama lima tahun terakhir.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Purwakarta Ajun Komisaris Handreas Ardian mengetahui informasi awal dari laporan warga. "Gas itu digunakan untuk memantik suatu alat atau mesin yang memproduksi ember cat plastik," katanya saat ditemui, Selasa, 15 Oktober 2019.

Pabrik tersebut bisa menghabiskan dua tabung gas tiga kilogram dalam waktu kurang dari dua pekan. Meskipun jumlahnya sedikit, Handreas menegaskan gas bersubsidi bagaimanapun tidak diperbolehkan digunakan oleh pelaku industri sebesar itu.

"Dilarang, karena sudah sangat jelas ditulis di sana untuk masyarakat miskin. Yang kedua, hanya Usaha Mikro Kecil Menengah dengan klasifikasi tertentu yang boleh menggunakannya," ujar Handreas menjelaskan.

Petugas masih memeriksa pihak perusahaan terkait temuan kali ini. Handreas mengancam pelaku dengan Pasal 55 Undang-undang Migas Nomor 22/2001 dan Pasal 40 UU 20/2008 tentang UMKM dengan ancaman penjara hingga enam tahun.

Lebih lanjut, Handreas memastikan harga dan ketersediaan gas tiga kilogram bersubsidi di pasaran saat ini masih terkendali. "Tapi praktek penyalahgunaan oleh industri besar seperti ini diperkirakan masih ada," katanya.

Penggunaan gas bersubsidi dalam proses produksi industri diakui untuk menghemat biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan terkait. Satgas Pangan Purwakarta memperingatkan para pengusaha besar agar tidak melanggar atau diancam hukuman pidana.

Pengungkapan kali ini dijadikan momentum untuk meningkatkan pengawasan terhadap barang-barang kebutuhan pokok masyarakat. "Kami akan terus melakukan pemeriksaan ke setiap pelaku industri di Purwakarta. Kalau ada pelanggaran pasti kami tindak," kata Handreas mengancam.

Secara terpisah, Kepala Bidang Perdagangan di Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Purwakarta Wita Gusrianita memastikan harga dan stok gas bersubsidi sampai sekarang masih aman. "Harga eceran tertinggi Rp16.000 per tabung gas tiga kilogram," katanya.

Wita memastikan dinasnya bersama Satgas Pangan Purwakarta akan meningkatkan pengawasan terhadap gas bersubsidi. Bahkan, Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika diakui telah mengintruksikan agar memberikan sanksi terhadap agen pangkalan yang melanggar.

Dalam waktu dekat, Wita mengatakan pemerintah daerahnya akan melakukan rapat koordinasi dengan pangkalan dan agen untuk penataan pendistribusian gas Elpiji. Mengenai penyalahgunaan gas bersubsidi oleh pabrik cat, ia masih menunggu laporan polisi.

"Saya tidak bisa memastikan (gas) itu dari mana. Tapi yang jelas rantaian distribusi elpiji tiga kilogram setelah keluar dari depo Pertamina memuju SPBE, lalu disalurkan ke agen. Rantaian terakhir di pangkalan," tutur Wita.***

Bagikan: