Pikiran Rakyat
USD Jual 14.034,00 Beli 14.132,00 | Umumnya berawan, 20.3 ° C

Banteng Punah Sejak Gunung Galunggung Meletus

Agus Kusnadi
RUSA merupakan salah satu hewan yang masih bertahan di cagar alam hutan lindung gunung Pananjung.*/AGUS KUSNADI/KABAR PRIANGAN
RUSA merupakan salah satu hewan yang masih bertahan di cagar alam hutan lindung gunung Pananjung.*/AGUS KUSNADI/KABAR PRIANGAN

PANGANDARAN,(PR).- Ada sekitar puluhan ekor satwa banteng sempat hidup dan berkembang biak dan hidup bersama satwa lainnya yang ada di hutan lindung cagar alam atau disebut gunung Pananjung di pantai Pangandaran.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Kab Pangandaran Uking Iskandar mengatakan, dulu sempat ada sekitar 70 satwa banteng hidup di hutan cagar alam. 

Namun, kata dia, sejak tahun 1982 gunung Galunggung yang berada di Tasikmalaya meletus, hewan banteng punah akibat makanannya tertutup oleh abu letusan gunung Galunggung.

"Banteng pada mati karena makanannya yang berupa daun-daun dan rumput yang ada di hutan cagar alam tertutup oleh abu dari letusan gunung Galunggung," ungkap Uking, Senin, 14 Oktober 2019.

Pangandaran merupakan kawasan konservasi yang secara keseluruhan bersatu dengan kawasan cagar alam darat dan cagar alam laut. Sebelum ditetapkan sebagai cagar alam kawasan hutan Pangandaran terlebih dahulu ditetapkan sebagai kawasan suaka margasatwa dengan luas 497 Ha, (luas yang sebenarnya 530 Ha) dan taman laut luasnya 470 Ha. 

Kemudian dalam perkembangan selanjutnya setelah diketemukan bunga Raflesia Padma, pada tahun 1961 status Suaka Margasatwa dirubah menjadi Cagar Alam. 

Seiring dengan kebutuhan masyarakat akan rekreasi, maka sebagian kawasan seluas 37,70 Ha dijadikan hutan wisata dalam bentuk Taman Wisata Alam (TWA) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 170/Kpts/Um/3/1978 tanggal 10-3-1978.

"Yang ada di cagar alam sekarang tinggal satwa rusa, beberapa jenis kera dan burung, cagar budaya seperti gua dan bunker Jepang serta beberapa gua alam dan jenis pohon," ujar Uking. 

Over kapasitas

Uking mengatakan, untuk satwa rusa saat ini berjumlah 179 ekor dan kera terdiri dari 7 kelompok. Dirinya mengaku, untuk hewan rusa dan kera sempat divonis sudah over kapasitas. Padahal menurut Uking tidak seperti itu, karena untuk menentukan hewan rusa dan kera itu over kapasitas perlu ada kajian khusus. 

"Jadi bukan over kapasitas tetapi adanya perubahan perilaku. Saking banyaknya pengunjung yang memberi makanan akhirnya lupa dengan makanan aslinya. Jadi terkontraminasi dengan makanan manusia," ungkap Uking. 

Maka dengan adanya perubahan prilaku rusa dan kera, lanjut Uking, satwa tersebut keluar dari kawasan hutan dan mencari makanan ke pemukiman warga juga perhotelan untuk mencari makanan ditempat sampah.

"Kadang kami kesulitan juga untuk menangkap rusa yang kabur sampai ke pemukiman warga hingga jaraknya beberapa kilometer dari cagar alam karena tidak memiliki kendaraan operasional dan SDM yang minim. Bahkan pernah sampai berkeliaran di bandara Nusawiru Cijulang," ujarnya. 

Untuk menjaga over kapasitas, pihaknya menawarkan kepada warga untuk membuka tempat penakaran satwa rusa, yang tentunya perlu ada kajian khusus dan memiliki batas minimal yang telah ditetapkan.***

Bagikan: