Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 23.4 ° C

Aset Lahan Terminal Pangandaran Masih Tarik Ulur

Agus Kusnadi
LOKASI Terminal Pangandaran yang sempit diapit oleh dua tempat pusat kegiatan yakni pasar Pananjung dan tempat ibadah Masjid Agung, sehingga tidak dapat dilakukan perluasan atau pengembangan terminal, Minggu, 13 Oktober 2019.*/AGUS KUSNADI/KABAR PRIANGAN
LOKASI Terminal Pangandaran yang sempit diapit oleh dua tempat pusat kegiatan yakni pasar Pananjung dan tempat ibadah Masjid Agung, sehingga tidak dapat dilakukan perluasan atau pengembangan terminal, Minggu, 13 Oktober 2019.*/AGUS KUSNADI/KABAR PRIANGAN

PANGANDARAN,(PR).- Terminal merupakan salah satu sarana pendukung bagi alat transportasi darat. Apalagi di daerah pariwisata seperti di Kabupaten Pangandaran ini, keberadaan terminal yang terletak di pusat keramaian harus lebih representatif, luas dan bersih tidak kumuh untuk menunjang keamanan dan kenyamanan bagi para penumpang khususnya wisatawan.

Untuk menunjang Pangandaran sebagai kabupaten pariwisata yang berkelas dunia, tentunya butuh terminal yang luas sehingga bisa menampung kendaraan angkutan umum yang lebih banyak lagi.

Terminal Pangandaran, lokasinya yang berada di pusat keramaian dan menuju kawasan wisata sehingga tidak jarang menimbulkan kemacetan, belum lagi ditambah puluhan kendaraan yang melakukan bongkar muat di Pasar Pananjung yang bersebelahan dengan terminal.

Koordinator Terminal Pangandaran Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat, Dadan Hamdani mengatakan, terminal tipe B ini, sejak tahun 2016 sudah diambil alih pengelolaannya oleh Pemerntah Provinsi Jawa Barat dari Pemerintah Kab. Pangandaran.

Begitu juga dengan aset berupa gedung dan petugas pun, kata dia, sudah dilimpahkan Pemda Pangandaran ke Pemerintah Provjsi Jawa Barat. 

"Tinggal aset berupa lahannya saja yang belum diserahkan oleh Pemda Pangandaran," ucap Dadan, Minggu, 13 Oktober 2019.

Sangat sempit

Dadan mengungkapkan, kondisi terminal Pangandaran sangat sempit, sehingga apabila dilakukan pengembangan pun tidak bisa. 

"Lahannya cuma segini-gininya, kalau mau diperluas juga gak bisa," ucapnya, seraya berharap terminal Pangandaran bisa dipindahkan ke tempat yang luas dan representatif. 

"Sehingga bisa menampung kendaraan angkutan yang banyak. Apalagi Pangandaran mau dijadikan kabupaten pariwisata yang berkelas dunia, pasti perkembangan terhadap angkutan darat pun akan meningkat, jadi butuh terminal yang luas," ujar Dadan. 

Sebelumnya, Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat berniat meminta Pemda Pangandaran untuk menyerahkan aset lahan terminal agar penjngkatan dan pengembangan terminal bisa dilakukan. 

"Ya gimana lahannya cuma segini-gininya gak mungkin kalau mau dikembangkan juga," ujar Dadan menegaskan. 

Di tempat terpisah Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi Dan UMKM Kab. Pangandaran, Tedi Garnida mengatakan, lahan terminal Pangandaran masih aset milik dinasnya. 

Tedi menjelaskan, aset lahan terminal masih bergabung dengan aset lahan Pasar Pananjung yang luas keseluruhannya hingga 24.000 meter persegi. 

"Kalau dipotong sama pasar Pananjung, lahan terminal cuma sekitar 7.000 meter persegi saja, sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan pengembangan, soalnya sudah ada bangunan gedung pasar dan Masjid Agung," ujarnya. 

Desa Babakan

Dirinya menyarankan, apabila ada rencana untuk pengembangan terminal, sebaiknya lokasi terminal bisa dipindahkan ke lokasi yang lebih luas. 

"Kalau menurut saya, Desa Babakan merupakan tempat yang strategis untuk dibangun terminal, karena masih banyak lahan-lahan kosong yang masih luas," sarannya. 

Kalau di lokasi terminal sekarang, menurut Tedi, selain sempit dan tidak dapat dikembangkan, juga di lokasi itu masih daerah pengembangan kawasan pariwisata.

"Kalau terminalnya dipindahkan, kita kan bisa menambah untuk bangunan pasar Pananjung yang sampai saat ini belum dibangun karena jumlah pedagang dengan jumlah dan luas kios tidak sesuai yang dihatapkan oleh para pedagang," ungkapnya. 

Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata mengatakan, bahwa pemerintah daerah hingga saat ini belum bisa membangun gedung pasar karena belum ada persetujuan dari para pedagang soal ukuran luas kios yang menurutnya sangat sempit dan tidak bisa menampung seluruh pedagang yang berjumlah mencapai 1.142 pedagang, padahal kata Jeje anggaran untuk membuat DED pembangunan pasar Pananjung sudah disiapkan. 

"Mana kita belum terima jawaban kesepakatan dari para pedagang. Kecuali kalo terminal pindah kita bisa bangun gedung pasar sesuai harapan para pedagang," ujar Jeje.***

Bagikan: