Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Badai petir, 27.5 ° C

Hadapi Fenomena Alam Hari Tanpa Bayangan, Warga Pangandaran Tak Perlu Panik

Tim Pikiran Rakyat

KONDISI cuaca di wilayah Kab. Pangandaran saat ini masih tampak cerah, meskipun dalam kurun waktu satu bulan ini sudah beberapa kali terjadi kebakaran lahan kebun milik warga dan kebakaran di pabrik sabut kelapa, Jumat, 11 Oktober 2019.8/AGUS KUSNADI/KABAR PRIANGAN
KONDISI cuaca di wilayah Kab. Pangandaran saat ini masih tampak cerah, meskipun dalam kurun waktu satu bulan ini sudah beberapa kali terjadi kebakaran lahan kebun milik warga dan kebakaran di pabrik sabut kelapa, Jumat, 11 Oktober 2019.8/AGUS KUSNADI/KABAR PRIANGAN

PANGANDARAN,(PR).- Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pangandaran Nana Ruhena mengimbau kepada warga khususnya di Kabupaten Pangandaran agar tidak panik dengan adanya kabar di media-media sosial tentang akan terjadi fenomena alam yang disebut kulminasi.

"Kami berharap warga tetap tenang dan jangan panik karena itu fenomena alam pertanda akan ada pergantian musim," kata Nana saat dikonfirmasi, Jumat, 11 Oktober 2019.

Setelah melakukan koordinasi dengan pihak BMKG, Nana menyampaikan rilis dari BMKG tentang fenomena alam yang dikabarkan akan terjadi pada hari Minggu, 13 Oktober 2019 besok, dan akan terjadi di beberapa wilayah di Indonesia dengan waktu yang berbeda.

BMKG merilis bahwa pengertian hari tanpa bayangan, kulminasi atau transit atau istiwa' adalah fenomena ketika Matahari tepat berada di posisi paling tinggi di langit. 

Saat deklinasi matahari sama dengan lintang pengamat, fenomenanya disebut sebagai kulminasi utama. Pada saat itu, matahari akan tepat berada di atas kepala pengamat atau di titik zenit. 

Akibatnya, bayangan benda tegak akan terlihat "menghilang",  karena bertumpuk dengan benda itu sendiri. Karena itu, hari saat terjadinya kulminasi utama dikenal juga sebagai hari tanpa bayangan.

Penyebab hari tanpa bayangan terjadi karena bidang ekuator bumi/bidang rotasi bumi tidak tepat berimpit dengan bidang ekliptika/bidang revolusi bumi, sehingga posisi matahari dari bumi akan terlihat berubah terus sepanjang tahun antara 23,5o LU s.d. 23,5o LS. 

Gerak semu

Hal ini disebut sebagai gerak semu harian matahari. Pada tahun ini, Matahari tepat berada di khatulistiwa pada 21 Maret 2019 pukul 05.00 WIB dan 23 September 2019 pukul 14.51 WIB. Adapun pada 21 Juni 2019 pukul 22.55 WIB Matahari berada di titik balik Utara (23,5o LU) dan pada 22 Desember 2018 pukul 11.21 WIB Matahari berada di titik balik Selatan (23,5o LS).

Waktu terjadinya hari tanpa bayangan di Indonesia, mengingat posisi Indonesia yang berada di sekitar ekuator, kulminasi utama di wilayah Indonesia akan terjadi dua kali dalam setahun dan waktunya tidak jauh dari saat matahari berada di khatulistiwa. Sebagai contoh untuk kota Pontianak yang tepat terbelah oleh garis khatulistiwa, kulminasi utamanya terjadi pada 21 Maret 2019 pukul 11:50 WIB dan pada 23 September 2019 pukul 11.35 WIB. 

Adapun untuk kota Jakarta, fenomena ini terjadi pada 5 Maret 2019, yang kulminasi utamanya terjadi pada pukul 12.04 WIB, dan pada 9 Oktober 2019, yang kulminasi utamanya terjadi pada pukul 11.40 WIB. Secara umum, 
kulminasi utama di Indonesia terjadi terjadi antara 22 Februari di Seba, Nusa Tenggara Timur hingga 5 April di Sabang, Aceh dan 8 September di Sabang, Aceh sampai dengan 21 Oktober di Seba, Nusa Tenggara Timur. Daftar lengkap kulminasi utama untuk bulan September-Oktober di setiap kota di Indonesia.***

Bagikan: