Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Badai petir, 27.5 ° C

Tanpa Pintu Tol, Banjar Kehilangan Harapan

Nurhandoko
PERBATASAN Kota Banjar dengan Kabupaten Ciamis lewat Kecamatan Cimaragas atau jalur alternatif, Jumat, 11 Oktober 2019.*/NURHANDOKO WIYOSO/PR
PERBATASAN Kota Banjar dengan Kabupaten Ciamis lewat Kecamatan Cimaragas atau jalur alternatif, Jumat, 11 Oktober 2019.*/NURHANDOKO WIYOSO/PR

BANJAR, (PR).- Pemerintah Kota Banjar berjuang keras agar wilayah paling ujung timur Provinsi Jawa Barat tersebut memiliki pintu tol. Tanpa pintu tol, banjar bakal kehilangan harapan, karena hanya menjadi wilayah lintasan.

Ada dua alternatif pintu tol yang diajukan. Apabila jalan tol lewat utara, maka pintu tol berada di wilayah Kecamatan Cisaga. Sedangkan jika jalan tol di sisi selatan, maka pintu tol terdapat di  Kecamatan Cimaragas. Keduanya masuk wilayah Kabupaten Ciamis, berbatasan dengan Banjar.

“Apabila tanpa pintu tol, kami kehilangan harapan. Sebab pintu tool merupakan akses yang sangat penting untuk pengembangan Kota Banjar. Kami menolak pintu tol di wilayah Kertahayu (Kecamatan Pamarican, Ciamis), yang disebut dengan pintu tol Banjar. karena dampaknya bakal sangat merugikan Banjar,” kata Wakil Wali Kota Banjar, Nana Suryana, Jumat, 11 Oktober 2019.

Dia mengungkapkan, apabila pintu tol berada di Kertahayu, maka konsep pergudangan yang sudah ditetapkan di dekat perbatasan dengan Jawa Tengah bakal hancur, gagal. Sebab pergudangan membutuhkan akses jalan tol. Dengan demikian banyak investor yang tidak mau membangun gudang di Banjar.

“Investor akan berpikir ulang, jika exit tol di Kertahayu. Ingat, akses jalan tol sangat dibutuhkan, menjadi prioritas perusahaan membangun pergudangan. Artinya semakin jauh, maka investor bakal membatalkan investasinya. Ini sangat merugikan untuk perkembangan Kota Banjar,” ujarnya.

Dampak lainnya, sektor pariwisata yang saat ini tengah digalakkan oleh pemerintah Kota Banjar maupun pemerintah Provinsi Jawa Barat juga gagal menghadirkan wisatawan. Ketika berbagai fasilitas wisata dibangun, lanjut Nana, banyak mendatangkan wisatawan terutama dari luar kota. Misalnya dari Bandung, Jakarta yang hendak ke Jawa Tengah, dapat istirahat dan berwisata di Banjar.

“Ketika exit tol di Kertahayu, tidak mungkin mampir di Banjar, karena magnet pariwisata Pangandaran lebih kuat. Apalagi jika pintu tolnya juga di Kalipucang yang lebih dekat dengan Pangandaran, tidak ada yang mampir Banjar. Sebeliknya jika exit tol di Cimaragas, pasti akan lewat Banjar,” katanya.

Dia mencontohkan, di Cianjur dulu terdapat puluhan rumah makan di sepanjang jalan laku keras. Perenomomian masyarakat tumbuh subur. Akan tetapi sekarang, hampir tidak ada yang buka. Tidak ada kendaraan mampir warung atau rumah makan, karena hanya dilewati.

“Membuat exit tol harus melihat jauh ke depan, jangan melihatnya secara dangkal. Ketika kami tidak mendapat dampak positif oleh pembangunan, wajib protes, karena pembangunan yang dilaksanakan oleh pusat harus memberikan dampak positif bagi daerah. Apabila exit tol di Kertahayu, kami hanya sebagai penonton saja, tidak memberikan hasil positif untuk Banjar,” kata Nana.

Lebih lanjut dia mengatakan, pemerintah Banjar saat ini tengah gencar melakukan pembangunan pariwisata, baik alam maupun buatan, dengan harapan mendulang wisatawan. Misalnya Situ Mustika yang ada di tengah kota, rest area Banjar Atas, Pajamben dan lainnya. “Percuma membuat res area, jika hanya sebagai daerah lintasan saja, kami hanya menonton orang lewat. Padahal rest area yang ada, banyak didatangi warga luar daerah,” ungkapnya.***

Bagikan: