Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Sedikit awan, 20.7 ° C

Enam Putra Terbaik Jawa Barat Mendapat Anugerah Budaya, Eka Kurniawan Menolak

Retno Heriyanto
MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyematkan pin Anugerah Kebudayaan kepada Muhammad Shabiq Husnie, dalang wayang golek cilik dari Kab. Garut untuk kategori Anak dan Remaja,  Kamis 10 Oktober 2019 malam, di Istora Senayan, Jalan Pintu Satu Senayan,Jakarta.*/RETNO HERIYANTO/PR
MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyematkan pin Anugerah Kebudayaan kepada Muhammad Shabiq Husnie, dalang wayang golek cilik dari Kab. Garut untuk kategori Anak dan Remaja, Kamis 10 Oktober 2019 malam, di Istora Senayan, Jalan Pintu Satu Senayan,Jakarta.*/RETNO HERIYANTO/PR

JAKARTA, (PR).- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi 2019 kepada 59 orang. Dari jumlah penerima penghargaan tersebut, enam orang merupakan putera terbaik Jawa Barat. Sastrawan Eka Kurniawan dari Tasikmalaya menolak menerima penghargaan.

"Ini sangat perlu karena ini adalah bagian sebuah penghargaan yang tinggi, sebuah kebanggaan yang tinggi kepada para budayawan yang telah berprestasi dan memberikan kontribusi dalam hidupnya secara keterbinaan dalam rangkaian membesarkan dan juga melakukan kesinambungan terhadap budaya Indonesia," ujar Mendikbud Muhadjir Effendy di Istora Senayan, Jalan Pintu Satu Senayan, Kamis, 10 Oktober 2019.

Penyerahan Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi 2019 dalam rangkaian dari acara Pekan Kebudayaan Nasional 2019 diberikan kepada  59 orang penerima dalam 8 katagori. Yaitu katagori Gelar Tanda Kehormatan dari Presiden RI diberikan kepada 13 orang, yang terdiri dari Bintang Mahaputera diberikan pada 2 orang,  Bintang Budaya Parama Dharma 2 orang, dan Satyalancana Kebudayaan 8 orang.

Selain itu juga diberikan penghargaan bagi Pencipta dan Pelopor untuk 10 orang, Pelestari (10 orang), Anak dan Remaja (5 orang), Maestro Seni Tradisi (5 orang), Pemerintah Daerah (5 orang), Komunitas, (7 orang), dan untuk katagori Perorangan Asing sebanyak 4 orang. Dari 59 orang penerima Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi 2019, Eka Kurniawan yang merupakan sastrawan untuk katagori Pelopor Pencipta Pembaharu, menolak untuk menerima penghargaan.

Adapun dari Jawa Barat yang menerima penghargaan adalah, Memed Cakra Gumelar, dalang wayang golek dari Sukabumi untuk kategori Pelestari, Sujana Priya, seniman tari dan pengraji topeng Cirebon untuk kategori Pelestari. Sementara Warsad Darya dalang wayang cepak indramayu kategori Maestro Seni Tradisi, dan Muhammad Shabiq Husnie, dalang wayang golek cilik dari Garut untuk kategori Anak dan Remaja. Juga turut diberikan penghargaan Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar Banten Kidul untuk  kategori Komunitas.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid, mengungkapkan para penerima anugerah mulai direncanakan sejak awal tahun. "Saya berterima kasih kepada mereka yang mencurahkan waktu, tenaga, dan pikiran dalam memajukan kebudayaan Indonesia. Proses seleksi dari Januari sampai kami dapat usulan calon penerima dan diseleksi tim ahli. Lalu didiskusikan ulang yang masuk sampai jadi sebuah keputusan," ujar Hilmar.

Melalui program apresiasi ini, menurut Hilmar, sebagai salah satu cara menginternalisasikan nilai budaya. Diharapkan dapat membangun kesadaran masyarakat sekaligus meningkatkan motivasi generasi muda untuk lebih peduli terhadap pengembangan kebudayaan Indonesia.

Kepada para penerima anugerah selain mendapatkan piagam penghargaan dan trofi, juga mendapatkan hadiah uang senilai Rp 50 juta, pin emas 10 gram.

Tanpa Eka Kurniawan 

Sementara itu, sastrawan yang menulis buku antara lain Cantik itu Luka, Lelaki Harimau, dan Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, Eka Kurniawan, menolak penghargaan tersebut. 

Dilansir dari akun Facebook pribadinya, pria yang pernah beberapa kali mendapatkan penghargaan sastra berskala dunia itu menguraikan alasannya menolak penghargaan tersebut. Dia memberikan judul Apakah Negara Sungguh-Sungguh Memiliki Komitmen dalam Memberi Apresiasi Kepada Kerja-Kerja Kebudayaan?, dalam uraian tersebut. 

Dalam tulisan tersebut, Eka memulai dengan kejadian sekitar dua bulan lalu, dirinya dihubungi oleh staf Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dia diinformasikan bahwa dirinya menjadi calon penerima Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019, untuk kategori Pencipta, Pelopor dan Pembaru, yang rencananya diberikan Kamis, 10 Oktober 2019.

"Pertanyaan saya adalah, “Pemerintah bakal kasih apa?”. Dia bilang, antara lain, pin dan uang 50 juta rupiah, dipotong pajak. Reaksi saya secara otomatis adalah, “Kok, jauh banget dengan atlet yang memperoleh medali emas di Asian Games 2018 kemarin?” Sebagai informasi, peraih emas memperoleh 1,5 miliar rupiah. Peraih perunggu memperoleh 250 juta. Pertanyaan saya mungkin terdengar iseng, tapi jelas ada latar belakangnya," tuturnya dalam tulisan. 

Buat Eka, itu terasa mengganggu sekali. Dalam tulisannya, kontras semacam itu seperti menampar Eka dan membuatnya bertanya-tanya.

"Negara ini sebetulnya peduli dengan kesusastraan dan kebudayaan secara umum tidak, sih? Meskipun terganggu dengan pertanyaan itu, terpikir juga oleh saya untuk: ya sudah, ambil saja uangnya, setelah itu kembali beraktivitas seperti biasa. Uang sebesar itu bisa untuk membayar iuran BPJS selama bertahun-tahun. Bisa juga untuk meringankan beban Pajak Penghasilan. Saya pun mengikuti sesi wawancara untuk membuat profil," tulisnya.

Ketika surat resmi dikirim melalui surel datang, ternyata pertanyaan itu terus mengganggu Eka. Dengan kesadaran seperti itulah, Eka kemudian membalas surat dari Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan tersebut, bahwa dirinya memutuskan tidak datang pada tanggal 10 Oktober 2019, dan bahwa ia menolak Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019.

Terakhir, dia mengucapkan terima kasih sekaligus permohonan maaf untuk siapa pun yang telah merekomendasikannya atas anugerah tersebut.***

Bagikan: