Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Cerah berawan, 20.7 ° C

Pendampingan Spiritual Mempercepat Tingkat Kesembuhan Orang dengan Gangguan Jiwa

Windiyati Retno Sumardiyani
PASIEN Orang Dengan Gangguan Jiwa  (ODGJ) dari Yayasan Jamrud Biru melakukan rekreasi bersama Dompet Dhuafa di Kebun Raya Bogor, Kamis, 10 Oktober 2019. Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Sedunia, 30 pasien ODGJ diberi kesempatan untuk beradaptasi dengan masyarakat luar.*/WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR
PASIEN Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dari Yayasan Jamrud Biru melakukan rekreasi bersama Dompet Dhuafa di Kebun Raya Bogor, Kamis, 10 Oktober 2019. Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Sedunia, 30 pasien ODGJ diberi kesempatan untuk beradaptasi dengan masyarakat luar.*/WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR

SENYUM terpancar dari wajah Rahmat (30), bukan nama sebenarnya, saat ia tiba di Kebun Raya Bogor, Kamis, 10 Oktober 2019. Hari itu, Rahmat beserta 29 warga binaan Yayasan Rehabilitasi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Jamrud Biru berkesempatan untuk menghirup segarnya udara Kebun Raya Bogor bersama Bimbingan Rohani Pasien Dompet Dhuafa.

Di sana, Rahmat tak hanya berjalan-jalan menikmati rindangnya pepohonan Kebun Raya Bogor. Rahmat dan rekan-rekannya juga mengikuti berbagai aktivitas dan perlombaan mulai dari menggambar, melukis,  kultum, hingga lomba adzan, dan baca puisi.

Manajer Program Dompet Dhuafa Ahmad Fitroh menuturkan, momentum tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. Tepat pada hari itu, Bimbingan Rohani Pasien Dompet Dhuafa ingin mengapresiasi para pasien ODGJ yang tingkat kesembuhannya mencapai 60 persen ke atas dengan pergi bertamasya.

“Kita ajak mereka touring, sebagai bentuk apresiasi kita, agar mereka bisa bahagia, dan bisa diterima masyarakat dengan sepenuh hati,” ujar Ahmad Fitroh, Kamis, 10 Oktober 2019.

Fitroh mengatakan, ajakan rekreasi akan membuat pasien ODGJ lebih rileks. Selain itu, keberadaan mereka di tempat umum juga akan menghapus stigma negatif masyarakat tentang keberadaan ODGJ itu sendiri.

“Memang kami sengaja menghadirkan mereka yang tingkat kesembuhannya di atas 60 persen, kalau di bawah 60 persen, kami khawatir jadi ricuh,” ujar Fitroh.

Menurut Fitroh, saat ini Dompet Dhuafa memang cukup fokus memberikan bimbingan spiritual kepada pasien ODGJ. Mereka bekerja sama dengan beberapa yayasan mencoba menyembuhkan pasien secara komprehensif melalui pendekatan spiritual.

“Kita hadir dari sisi spiritualnya, mereview kembali sisi agama mereka, mengajarkan mengaji, salat, karena mereka blank dari kondisi saat ini,”ujar  Fitroh.

Semakin bervariasi

Ketua Yayasan ODGJ Jamrud Biru Suhartono mengatakan, saat ini Yayasan Jamrud Biru  menerima sedikitnya 153 pasien yang direhabilitasi. Gangguan yang dialami pasien bervariasi, mulai dari ketergantungan narkoba, ilmu hitam, hingga ketergantungan game online.

“Sudah banyak yang masuk ke panti kami gara-gara kecanduan gadget. Alhamdulilah sejak 2009 berdiri, kita sudah banyak mengobati pasien, dan memulangkan mereka. Dari tanggal 5 sampai 10 Oktober juga kita memulangkan 5 orang, mereka sembuh tepat pada peringatan Hari Kesehaan Jiwa Dunia,” ujar Suhartono.

Menurut Suhartono, ada beberapa metode penyembuhan yang dilakukan untuk mengobati pasien ODGJ. Pertama, melaui terapi urut, pijat,  dan pembinaan yang kuat. “Kami lakukan pendekatan persuasif juga,  dan memberikan pembinaan seperti membaca Alquran, salat, kita lakukan itu semua,” ujar Suhartono.

Menurut Suhartono, penting bagi pasien ODGJ dengan tingkat kesembuhan di atas 50 persen untuk sering bergaul dengan masyarakat luar. Dengan demikian, mereka bisa lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan.

“Makanya kita bawa mereka ke Kebun Raya Bogor, jadi mereka bisa beradaptasi. Ya mungkin agak sedikit grogi, tetapi mereka cukup mengerti dan dapat berkomunikasi dengan baik,” kata Suhartono.

Besar harapan Suhartono, ke depan pasien ODGJ tidak mendapat diskriminasi dari masyarakat.  Pasien ODGJ, menurut Suhartono, harus mendapat perhatian dari masyarakat, sehingga penyembuhannya semakin cepat.

“Orang dengan gangguan jiwa seharusnya banyak mendapatkan pendampingan, jangan justru diasingkan, mudah-mudahan dengan mereka berjalan-jalan penyembuhan mereka juga semakin cepat, sehingga bisa kembali berkumpul bersama keluarganya,” ucap Suhartono.***

Bagikan: