Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Cerah berawan, 20.7 ° C

Warga Terdampak Longsoran Batu Alami Trauma`

Hilmi Abdul Halim
WARGA Kampung Cihandeuleum, Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta masih trauma setelah menyaksikan kejadian jatuhnya bebatuan besar yang merusak tujuh bangunan rumah dan sekolah.*/HILMI ABDUL HALIM/PR
WARGA Kampung Cihandeuleum, Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta masih trauma setelah menyaksikan kejadian jatuhnya bebatuan besar yang merusak tujuh bangunan rumah dan sekolah.*/HILMI ABDUL HALIM/PR

PURWAKARTA, (PR).- Aktivitas warga Kampung Cihandeuleum Desa Sukamulya Kecamatan Tegalwaru Kabupaten Purwakarta, belum pulih. Warga masih trauma setelah menyaksikan kejadian jatuhnya bebatuan besar yang merusak tujuh bangunan rumah dan sekolah.

Warga khawatir kejadian serupa terjadi lagi di kemudian hari. "Sejak pertambangan beroperasi sekitar tahun 1996-an baru sekarang kejadian seperti ini. Saya di sini dari 1994, sekarang jadi takut tinggal di sini," kata salah seorang warga, Ade Abung (41), Rabu, 9 Oktober 2019.

Warga menuding peristiwa tersebut dipicu aktivitas pertambangan yang menggunakan bahan peledak. Alasannya karena karena pihak perusahaan bernama PT MSS biasa melakukan peledakan (blasting) untuk memecah batuan.

"Peledakan itu dilakukan hampir setiap hari kecuali Jumat. Biasanya ada peringatan lewat serine, tapi setelah kejadian ini saya rasa kurang maksimal," kata Abung. Selain ganti rugi materi, Abung menuntut pihak perusahaan menjamin keselamatan warga ke depannya.

Pada saat kejadian, Abung menceritakan bahwa ia sedang mandi di rumahnya. Setelah mendengar peringatan akan adanya ledakan, ia merasakan getaran dan suara gemuruh yang tidak biasa. Sehingga, ia pun keluar rumah hanya mengenakan handuk.

"Saya kaget waktu lihat batu sebesar rumah itu menggelinding ancul-anculan (melompat-lompat) ke arah saya. Ternyata berhenti di dekat rumah, saya kira mau menimpa rumah saya," ujar Abung. Namun, batu seberat ratusan ton itu menghancurkan rumah milik tetangganya, Dede Lia (26).

Ibu rumah tangga tersebut mengaku segera keluar dari rumahnya setelah mendengar suara gemuruh setelah ledakan. Dede awalnya tidak mengetahui rumahnya yang tertimpa batu tersebut, sampai akhirnya diberitahu para tetangga.

"Saya sedang ada di ruang keluarga, di tengah rumah. Kalau waktu itu tidak keluar rumah mungkin sudah tertimpa batu," tutur Dede. Batu tersebut merusak sebagian besar rumah beserta isinya sehingga ia menuntut pihak perusahaan untuk mengganti seluruh kerugian.

Keluhan serupa disampaikan warga dalam pertemuannya dengan pihak perusahaan yang dimediasi oleh pemerintah dan aparat. Emosi warga nyaris tak terbendung. Sambil berteriak-teriak, mereka meminta pertambangan tersebut ditutup.

Namun, tensi warga segera diredam oleh Wakil Bupati Purwakarta Aming dan sejumlah pejabat pemerintah daerahnya yang ada di lokasi. Aming memastikan akan meminta pihak perusahaan untuk bertanggung jawab.

"Apakah nanti direlokasi ke tempat yang lebih aman ataukah tetap tinggal di sini tapi diganti semua. Perusahaan yang harus mengganti ruginya. Kalau tidak dipenuhi, akan dicabut izinnya," kata Aming mengancam mengadukannya ke pemerintah provinsi.

Namun, pihak perusahaan menyatakan akan mengganti seluruh kerugian yang dialami warga. Meskipun demikian, Direktur Teknik PT MSS Bambang Yudaka menyangkal jatuhnya bebatuan besar itu akibat aktivitas pertambangan yang dilakukan perusahaannya.

"Kita sudah evaluasi (proses peledakan). Tapi kami tidak melihat ada material yang nongol-nongol itu dari sana (kawasan pertambangan dibalik bukit)," kata Bambang. Untuk kedepannya, pihak perusahaan berencana membuat parit agar longsoran batu tertahan di sana.***

Bagikan: