Pikiran Rakyat
USD Jual 14.024,00 Beli 14.122,00 | Umumnya berawan, 26.1 ° C

Limbah Kulit Rajungan yang Bau Menyengat Bisa Diolah Jadi Tepung

Dodo Rihanto
LIMBAH kulit rajungan kini bisa diolah menjadi tepung.*/DODO RIHANTO
LIMBAH kulit rajungan kini bisa diolah menjadi tepung.*/DODO RIHANTO

KARAWANG, (PR).- Desa Pasirputih, Desa Sukajaya, Kecamatan Cilamaya Kulon, dikenal sebagai sentra produksi daging rajungan kupas. Produk desa itu diekspor ke berbagai belahan negara, seperti Amerika,  Tiongkok, Hongkong, dan juga Malaysia.

Hanya saja, para produsen rajungan kupas itu kesulitan memusnahkan limbah kulit rajungan yang semakin menumpuk. Selama itu, kulit rajungan dibuang ke tempat pemakaman umum atau di pematang tambak.

Bau menyengat kerap terbawa hingga ke pemukiman warga. Hal tersebut tentunya menimbulkan permasalahan tersindiri bagi warga Pasirputih.

"Mau bagai mana lagi, kondisi ini sudah menjadi resiko kami," ujar seorang produsen daging rajungan kupas, Rambudi, Rabu 9 Oktober 2019.

Di lokasi yang sama, Kepala Desa Pasirputih, Abdul Ghofur menyebutkan, di Desa Pasirputih ada 120 perahu nelayan yang tidak pernah mengenal musim dan selalu beroperasi. Kalau sedang musim, nelayan Pasirputih bisa menangkap rajungan 5 ton per hari.

Rajungan sebanyak itu langsung diolah menjadi rajungan kupas olah para perajin setempat. Semakin lama, cangkang rajungan  menumpuk di beberapa titik desa.

"Limbah rajungan ini sebenarnya ada yang menampung tapi harganya sangat murah,  hanya Rp 50 ribu rupiah per ton," kata Abdul Ghofur.

Jadi pakan ternak

Keluhan warga Sukajaya ternyata menjadi perhatian Tim Program Penerapan Teknologi Tepat Guna (PPTTG) Universitas Singaperbangsa (Unsika) Karawang. Mereka tertantang untuk menciptakan mesin pengolah cangkang rajungan itu.

Hasilnya, PPTTG mampu membuat alat yang bisa mengolah cangkang rajungan menjadi tepung. Tepung cangkang rajungan iti kemudian diolah lagi menjadi pakan ternak, pupuk organik, hingga kosmetik. 

"Alat itu menjadi solusi pemusnahan gunungan limbah cangkang rajungan di pesisir Pasirputih, Desa Sukajaya," ujar Eri Widianto ketua tim PPTTG Unsika, Rabu (9/10/2019).

Menurutnya, jika kulit rajungan dibiarkan menumpuk dipastikan bakal menimbulkan bau tidak sedap. Bahkan, bisa menyebabkan polusi udara.

"Kami ingin membantu masyarakat mengubah permasalahan yang ada menjadi sebuah inovasi yang bernilai jual tinggi. Jika sudah menjadi serbuk. Gunungan limbah rajungan di sekitar sini bisa berkurang," kata Eri.

Mesin crusher (penghancur) ini, kata Eri bisa menghancurkan kulit rajungan yang keras menjadi tepung. Selanjutnya, tepung diproses secara kimia menjadi produk kitosan serta turunannya. 

"Misalnya,  sabun anti bakteri alami, nutrisi pakan ikan, pengawet makanan alami, kitosan dan produk-produk turunannya," ungkap Eri. 

Sangat sederhana

Dia berharap, program itu  dapat memberdayakan masyarakat Pasirputih, Desa Sukajaya.

Dijelaskan, alat tersebut sangat sederhana hanya berupa corong dari logam yang dihubungkan dengan chamber atau penampung. Penampung itu lalu terhubung dengan pisau otomatis bertekanan tinggi. Sumber energinya, berasal dari listrik atau solar.

Cara kerja alat dimulai dengan memasukkan kulit rajungan ke dalam tabung. Berikutnya, kulit dihancurkan oleh blade atau pisau bertekanan tinggi. 

Setelah kulit rajungan tertampung, sejumlah pisau dibantu hammer akan menghancurkan kulit yang rajungan keras hingga menjadi tepung. Palu berputar pada suatu sumbu atau poros dibantu dengan hammer statis untuk menghancurkan cangkang dengan lebih cepat.

"Cangkang rajungan dapat dihancurkan menjadi partikel-partikel yang lebih kecil dengan waktu yang lebih singkat, tidak menghabiskan banyak tenaga manusia dan hasilnya pun lebih halus," ujar Eri.

Eri melakukan pengembangan alat dan mendapat dana pengembangan dari Program Direktorat Penguatan Riset dan Pengembangan Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. "Harapan kami, setelah menjadi tepung halus, kulit rajungan bisa diolah menjadi berbagai produk yang bernilai ekonomis," pungkas Eri.***

Bagikan: