Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Langit umumnya cerah, 22.7 ° C

Ibu Meninggal, Ayah Menikah dengan Janda, 9 Tahun Anak Betah Hidup di Jalanan

Tati Purnawati
SEJUMLAH anak jalanan tengah duduk di Kantor Dinas Sosial setelah mereka terjaring razia oleh Sat Pol PP Kabupaten Majalengka, Selasa 8 Oktober 2019 malam.*/TATI PURNAWATI/KABAR CIREBON
SEJUMLAH anak jalanan tengah duduk di Kantor Dinas Sosial setelah mereka terjaring razia oleh Sat Pol PP Kabupaten Majalengka, Selasa 8 Oktober 2019 malam.*/TATI PURNAWATI/KABAR CIREBON

MAJALENGKA,(PR).- Beberapa anak perempuan usia remaja berselimut sarung, kakinya ada yang mengenakan sepatu, sandal, bahkan ada yang tanpa alas kaki sama sekali. Ada pula yang hanya mengenakan celana pendek dan kaus lengan pendek dengan sandal jepit.

Mereka duduk berderet di kursi di Kantor Dinas Sosial Kabupaten Majalengka, sedangkan sejumlah anak laki-laki duduk di lantai. Mereka rata-rata mengenakan celana panjang, baju warna hitam dengan aksesoris yang mencolok berupa resleting dan aksesoris seperti duri, sebagian bertopi dan berjaket.

Baik laki-laki dan perempuan tangannya bertato, malah beberapa di antaranya tato hingga ke bagian pipi dengan beragam gambar. Paling minim tato di lengan kiri, dengan tulisan nama sandinya atau gambar bunga dan gambar lainnya.

Sementara baju mereka tampak lusuh dan kucel, maklum menurut pengakuannya ada yang sudah beberapa minggu bahkan bulan tak ganti pakaian karena tidak pernah pulang ke rumah. Mereka hidup di jalanan dan tidur dimana lelahnya, ada di trotoar perempatan lampu merah, terminal, pekarangan toko dan tempat lainnya.

Mereka ini mengaku sebagai anak punk dan bobotoh yang terkena razia oleh Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Majalengka pada Selasa sore hingga malam di Perempatan Lampu Merah Kadipaten. Usia ke-13 anak yang terjaring antara 14 tahunan hingga 23 tahunan.

Beberapa anak ada yang mengaku sudah belasan tahun hudup di jalanan, ada pula yang baru bergabung setahun yang lalu. I (14) asal Sumedang mengaku baru beberapa bulan menjadi anak jalanan (punk). Sedangkan  N (15) juga asal Sumedang sudah tiga tahun, sama halnya dengan NY (15) dan F (16) asal Majalengka telah berulang kali terkena razia hingga harus berada di sel hingga berhari-hari.

Sudah terbiasa

L (17) dan D (17) asal Sumedang mengaku sudah 9 tahunan berada di jalanan bergabung dengan anak jalanan lainnya dari berbagai daerah. Mereka semua mengaku sudah terbiasa dengan kerasnya kehidupan jalanan.

Pengalaman mereka menapaki berbagai daerah di Pulau Jawa, Sumatra dan Bali dengan modal nekat, mencari omprengan dan risiko kecelakaan. Malah bisa tidak makan hingga berhari-hari seperti yang dialami N bersama beberapa teman laki-lakinya saat terkena rajia mengaku sudah 4 hari belum makan.

“Ngarokok wae. Emam mah teu meuli da teu cukup duitna. (Merokok saja , makan tidak beli karena uangnya tidak cukup).” kata N ditemui saat menunggu jemputan dari aparat desa di kampungnya.

Ngamen di jalanan di Majalengka menurut mereka paling minim perolehan, sama halnya dengan Sumedang, berbeda dengan Pangandaran, Cilacap, Surabaya dan Bali atau wilayah Sumatra. Di Surabaya sehari bisa memperoleh hingga Rp 300.000, sementara di Majalengka Rp 20.000 juga susah.

Hampir rata-rata dari mereka menjadi anak jalanan akibat keluarga terlepas, ada yang orangtuanya bercerai kemudian keduanya menikah lagi. Ada juga ibunya yang meninggal serta bapaknya menikah lagi dengan janda. Hingga mereka terpaksa harus tinggal bersama bibi atau neneknya sejak kecil. Mereka juga DO dari SD dan SMP.

L dan D misalnya, ibunya meninggal ketika mereka masih bayi, sejak itu keduanya diurus oleh bibinya. Sedangkan bapaknya telah menikah lagi dengan wanita lain. Keduanya tidak tamat SD karena terus berada di jalanan.

“Bapak kalau ketemu juga tidak pernah nanya, seperti tidak mengenal saya,” ungkap L yang mengaku membawa adiknya hidup di jalanan, pergi ke sejumlah kota, menantang kekerasan kehidupan jalanan hingga tampak bekas luka di beberapa bagian tubuhnya.

Kemiskinan

I, N dan NY juga demikian, walaupun mereka sebetulnya mendapatkan kasih sayang dari ibu, bibi atau neneknya. Hanya mereka seperti tidak tahan dengan kondisi kemiskinan di rumahnya.

“Ibu saya nikah lagi, bapak saya di Sumedang juga sudah nikah lagi jeung indung tere,” tutur I yang tampak kelelahan karena ulah beberapa temannya.

Sedangkan N, kini tinggal bersama neneknya karena bapaknya menikah lagi ibunya telah meninggal. Neneknya berjualan daging keliling milik orang lain. Dia tidak tahan harus ikut berjualan keliling dengan alasan capek.

Sedangkan NY tinggal bersama bibinya karena ibunya tinggal di Bandung dan kini pergi ke Arab,  Bapaknya di Majalengka . Dia memilih tinggal bersama bibi dengan alasan ayahnya terlalu keras mendidik hingga tak bebas bermain.

“Urang teu sakola da tadina pundah pindah wae sakola. Keur di Bandung inget ka bapa, keur di bapa inget ka indung. Tungtungna sangheuk sakola. Masantren embung da teu bisa ulin,” katanya dengan tatapan mata yang kosong.

Anak-anak ini mengaku gembira ketika ada hiburan terbuka yang disebut mereka “acara”, di mana pun jika tahu akan dikejar agar bisa berjingkrak sambil dipunggu temannya.

Ketika ditanya apakah mereka mengetahui penyakit HIV-AIDS yang bisa menular ternyata tidak seorang pun dari mereka yang mengetahuinya.

“Teu nyaho (tidak tahu),” ungkapnya.

Ada diantara mereka yang enggan pulang karena takut dimarahi orang tuanya, ada pula yang mengaku akan berhenti menjadi anak jalanan dan akan berkerja sebagai kuli bangunan. Namun ada juga remaja putri yang tetap akan kembali ke jalan agar bisa bermain bebas.

Agus dan Tasdik petugas dari Satuan Polis Pamong Praja berharap bisa bekerja bersinergi dengan Dinas Sosial, agar hasil rajia gepeng, anak jalanan atau rajia lainnya, hasilnya bisa langsung ditangani Dinsos.

Sementara itu Kepala Dinas Sosial Kabupaten Majalengka Gandana Purwana disertai Kepala Bidang Sosial Momon Lentuk mengatakan, beragam persoalan sosial tengahd itangani namun untuk anak jalanan dan anak terlantas masih memiliki persoalan terkait Pemda Majalengka belum memiliki rumah singgah atau LPK. Sehingga ketika ada hasil rajia terpaksa harus dipulangkan kepada orang tuanya atau keluarganya tanpa memberi solusi yang tepat bagi mereka agar tdiak kembali ke jalanan.***

Bagikan: