Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Sedikit awan, 21.8 ° C

Delapan Bencana dalam Semalam, BMKG Imbau Masyarakat Waspadai Masa Peralihan Musim

KONDISI rumah warga di Kelurahan Cikaret,Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor penuh sampah pasca diterjang banjir, Rabu, 9 Oktober 2019.  Hujan deras disertai angin kencang membuat sejumlah wilayah di Kota Bogor diterpa bencana.*/DOK BPBD KOTA BOGOR
KONDISI rumah warga di Kelurahan Cikaret,Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor penuh sampah pasca diterjang banjir, Rabu, 9 Oktober 2019. Hujan deras disertai angin kencang membuat sejumlah wilayah di Kota Bogor diterpa bencana.*/DOK BPBD KOTA BOGOR

BOGOR,(PR).- Bencana banjir, tanah longsor, pohon tumbang, hingga  bangunan roboh di beberapa titik Kota Bogor, Selasa, 8 Oktober 2019 malam. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Bogor mencatat, ada delapan peristiwa yang terjadi di Kota Bogor akibat hujan deras yang mengguyur Kota Bogor, sejak Selasa sore.

Banjir terjadi di tiga wilayah, yakni di RT 5, RW 4  dan RT 1, RW 4,  Kelurahan Cikaret, Kecamatan Bogor Selatan, serta Gang Huni Bongkok Muara Kidul RT 3, RW 11, Kelurahan Pasirjaya, Kecamatan Bogor Selatan. Banjir tersebut sempat menggenangi 20 keluarga, dan menghambat akses jalan di wilayah tersebut. Genangan banjir tersebut tak berlangsung lama. Setelah hujan reda, warga langsung membersihkan endapan lumpur bercampur sampah yang memasuki rumah warga.

Salah seorang warga  Kelurahan Cikaret terdampak banjir, Edwin Iskandar mengatakan, wilayahnya memang sudah menjadi langganan banjir. Setiap hujan deras, air Sungai Cimanglid meluap ke area perumahan warga. Selain lumpur,  sungai yang meluap juga membawa tumpukan sampah.

“Ini malesnya harus bersihin sampah yang terbawa arus sungai, makanya saya minta warga di bantaran tolong jangan buang sampah ke sungai,” kata Edwin kepada “PR”, Rabu, 9 Oktober 2019.

Selain banjir, bencana tanah longsor juga terjadi di Kota Bogor. Tanah longsor terdata di Kampung Legok Dukuh, RT 4/3, Kelurahan Rancamaya, Kecamatan Bogor Selatan.  Longsor juga terjadi di Kampung Baru, Kelurahan Gunung Batu, Kecamatan Bogor Barat. Longsor sepanjang 6 meter dengan tinggi 6 meter  di Kampung Baru mengakibatkan  atap kamar mandi milik Nenih roboh.

Longsor lainnya juga terjadi di wilayah Jalan Ledeng,  Kelurahan Gunung Batu, Kecamatan Bogor Barat.  Longsor sepanjang tiga meter, dengan tinggi 15 meter ini mengakibatkan jalan setapak yang kerap dilalui warga  lumpuh dalam semalam.

Bencana tanah longsor juga terjadi di wilayah Cipaku Indah, Kelurahan Cipaku, Kecamatan Bogor Selatan. Tanah longsor sepanjang 10 meter dengan tinggi 10 meter mengakibatkan pondasi rumah dan dinding milik Benny, warga setempat, ambruk. Beberapa bangunan juga dilaporkan roboh akibat tingginya intensitas hujan dan angin kencang. Di Kampung Bengkong, Kelurahan Cikaret, Bogor Selatan,  tembok penahan tanah sepanjang 8 meter ambrol,  dan mengancam dua rumah milik Enoh, dan Surya Wiyaya.

Kepala BPBD Kota Bogor Juniarti Estiningsih memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Esti juga menyebut tidak ada warga terdampak bencana yang mengungsi.

“Begitu kejadian tim reaksi cepat langsung datang ke lokasi, dan langsung menangani keluhan warga dengan melakukan assessment,” kata Juniarti.

Waspada

Sementara itu, Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Klimatologi BMKG Bogor Hadi Saputera meminta  masyarakat untuk mewaspadai potensi angin kencang, hujan disertai petir di wilayah  Kota Bogor, Bogor Selatan, Puncak, Sukabumi, dan sekitarnya. Saat ini, wilayah tersebut sudah masuk ke musim peralihan sehingga banyak terjadi gumpalan awan kumulonimbus yang masif.

“Sebenarnya masih mau menuju musim penghujan, tetapi memang intensitas hujannya akan meningkat terutama memasuki akhir Oktober,” kata Hadi.

Menurut Hadi, keberadaan awan hitam tersebut tidak dapat diprediksi. Namun demikian,  Hadi meminta masyarakat untuk mewaspadai berbagai potensi bencana seperti banjir, dan tanah longsor  terutama di kawasan perbukitan dan sempadan sungai. Pasalnya, tanaman penahan di kawasan perbukitan mulai berkurang sehingga begitu intensitas air meningkat, air dengan mudah menggenang.

“Untuk meminimalisasi risiko bencana, kita juga  mengeluarkan early warning system, minimal setengah jam sebelum hujan terjadi, kita cek wilayah mana saja yang sudah masuk fase matang, kemudian kita langsung beri warning kita kirimkan ke BPBD dan juga grup-grup yang ada,” kata Hadi.***

Bagikan: