Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Langit umumnya cerah, 19.1 ° C

Tujuh Bangunan Rusak Parah Tertimpa Bebatuan 200 Ton

Hilmi Abdul Halim
PETUGAS kepolisian, dan warga Desa Sukamulya Kecamatan Tegalwaru Kabupaten Purwakarta berada di dekat rumah yang rusak akibat tertimpa batu besar, Selasa, 8 Oktober 2019. Kejadian itu diduga dipicu aktivitas pertambangan.*/HILMI ABDUL HALIM/PR
PETUGAS kepolisian, dan warga Desa Sukamulya Kecamatan Tegalwaru Kabupaten Purwakarta berada di dekat rumah yang rusak akibat tertimpa batu besar, Selasa, 8 Oktober 2019. Kejadian itu diduga dipicu aktivitas pertambangan.*/HILMI ABDUL HALIM/PR

PURWAKARTA, (PR).- Sedikitnya enam unit rumah dan satu bangunan sekolah rusak akibat tertimpa batuan berukuran besar di Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Selasa, 8 Oktober 2019. Kejadian itu diduga akibat aktivitas pertambangan.

Masyarakat menuding aktivitas tambang di dekat permukiman mereka menggunakan bahan peledak. "Ledakan itu sepertinya telah memicu batu-batuan besar dari gunung jatuh menimpa rumah warga," kata Kepala Desa Sukamulya, Oded, di lokasi kejadian, Selasa, 8 Oktober 2019. 

Kejadian tersebut dilaporkan terjadi pada pukul 13.00 WIB. Dari data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kabupaten Purwakarta, tercatat sebanyak tujuh bangunan yang mengalami kerusakan parah karena tertimpa material batu.

PETUGAS kepolisian, dan warga Desa Sukamulya Kecamatan Tegalwaru Kabupaten Purwakarta berada di dekat rumah yang rusak akibat tertimpa batu besar, Selasa, 8 Oktober 2019. Kejadian itu diduga dipicu aktivitas pertambangan.*/HILMI ABDUL HALIM/PR

Selain itu, batu yang jatuh menggelinding dari ketinggian hingga 500 meter juga menghancurkan pepohonan dan jalan yang biasa digunakan warga. Lintasan jatuhnya batu seberat sekitar 200 ton itu menimbulkan cekungan sedalam beberapa cm.

"Batu yang jatuh tak terhitung jumlahnya. Dari mulai yang seukuran kepala sampai yang seukuran rumah," ujar Oded.

Namun, ia bersyukur tidak ada warga yang menjadi korban jiwa maupun luka-luka karena warga tengah beraktivitas di luar ruangan pada saat kejadian.

Evakuasi warga

Rumah yang terdampak rata-rata merupakan rumah permanen yang sudah lama ditempati warga. Menurut Oded, kejadian tersebut baru pertama kali terjadi meskipun aktivitas pertambangan di wilayahnya sudah berlangsung lama.

Setelah kejadian tersebut, banyak warganya yang mengaku trauma. "Untuk menghindari kejadian susulan, sekitar 20 kepala keluarga kami evakuasi sementara ke tempat yang lebih aman. Sampai ada kejelasan dari perusahaan," katanya.

PETUGAS kepolisian, dan warga Desa Sukamulya Kecamatan Tegalwaru Kabupaten Purwakarta berada di dekat rumah yang rusak akibat tertimpa batu besar, Selasa, 8 Oktober 2019. Kejadian itu diduga dipicu aktivitas pertambangan.*/HILMI ABDUL HALIM/PR

Proses evakuasi warga dibantu petugas DPKPB daerah setempat. Jajaran Kepolisian Resor Purwakarta juga terlihat di lokasi untuk mengantisipasi kemarahan warga yang menuntut pertanggungjawaban kepada perusahaan tambang terkait.

"Evakuasi warga akan dilakukan mengingat masih ada satu bahan peledak yang sudah ditanam tapi belum diledakan," kata Kepala DPKPB Purwakarta Wahyu Wibisono saat dihubungi Pikiran Rakyat. Akan tetapi, penanganan kasus tersebut dilakukan oleh kepolisian.

Unsur kelalaian

Sementara itu, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Purwakarta Ajun Komisaris Handreas menyelidiki unsur kelalaian dari pihak perusahaan. "Dugaan sementara diakibatkan oleh penanganan blasting yang tidak sesuai Standar Operasional Prosedur yang seharusnya," katanya.

PETUGAS kepolisian, dan warga Desa Sukamulya Kecamatan Tegalwaru Kabupaten Purwakarta berada di dekat rumah yang rusak akibat tertimpa batu besar, Selasa, 8 Oktober 2019. Kejadian itu diduga dipicu aktivitas pertambangan.*/HILMI ABDUL HALIM/PR

Ia menjelaskan, kegiatan peledakan biasa dilakukan dalam pertambangan. Bahan peledak diletakkan pada massa batuan dengan tujuan bongkar dan lepas bahan galian dari batuan induknya, memecah, dan memindahkan batuan atau membuat rekahan.

Sampai saat ini, Handreas belum mengatakan rencana pemeriksaan terhadap perusahaan pertambangan tersebut. "Petugas masih fokus pada pengaman di lokasi sambil melakukan olah tempat kejadian perkara," katanya.***

Bagikan: